Mohon tunggu...
Onet Burton
Onet Burton Mohon Tunggu... Pedagang Kelontong. Sebagai butir debu pada pusaran alam raya. Penikmat musik \m/etal. Kiblat pada sila ke-5 Dasar Negara.

"...Menulis adalah bekerja untuk keabadian." - Pramoedya Ananta Toer-

Selanjutnya

Tutup

Humor

Pisang Sale Gang Pisang

7 Oktober 2019   23:33 Diperbarui: 7 Oktober 2019   23:43 0 4 1 Mohon Tunggu...
Pisang Sale Gang Pisang
foto pribadi

Dua minggu sudah Hasan pulang kampung. Dua hari lagi kelas sudah mulai. Rumah Kos masih lengang. Baru dua penghuni yang datang. Sementara Parno tidak pulang kampung. Kobin tepar di balai tengah. Satu kakinya menjuntai. Disliweri Moni, kucing betina Ibu Kos.

"Jaan..inget ya simpan buat aku satu." Rasuli mengingatkan Jan Parno.

Machmud Diradja Jan Parno Mangully. Nama yang sungguh gagah. Dia bilang itu semua gabungan nama-nama pendahulunya. Dengan harapan dia mewarisi semua kekuatan pendahulunya yang hebat-hebat itu. Sungguh menyentuh. Kawan-kawannya kagum. Mengamininya.

"Tenang saja bro. Kau lekaslah berangkat sudah setengah dua." Parno melirik jam dinding mengingatkan.

Rasuli pemuda Lombok itu berangkat lagi ke luar kota. Pengakuannya mengantarkan barang titipan Pamannya. Malam nanti baru kembali.

Rumah Kos itu asri. Rindang. Halamannya luas. Beberapa ekor ayam kampung berkeliaran. Sesekali terdengar kicauan burung melengkapi teduhnya keseharian.

Hasan mestinya sudah sampai. Sudah hampir jam tiga. Parno terlihat sedikit gelisah. Dua kursi rotan lusuh silih berganti merasakan tak teraturnya aliran darah Parno.

"Hasan sudah datang Jaan?" teriak Kobin dari arah kamar.

Parno tidak menyahut. Pikirannya  terbang membayangi lezatnya pisang sale itu.

"Kali ini aku harus puas menikmatinya. Tahun lalu sudah tidak kebagian. Aku tidak boleh jauh-jauh," pikirannya berjanji.

Parno memang sangat menyukai Pisang Sale Tanah Rencong. Teksturnya yang menohok dan rasa yang tak terlukiskan itu, sanggup melelehkan air liurnya.

Sanggup membuatnya mengigau. Hingga sanggup membuat nama gang di depan rumah kos.

Sudah jam empat sore. Telepon genggam Kobin berdering. Di seberang sana Hasan berbicara. Kobin terlihat mengangguk-ngangguk. Mulutnya komat kamit.

"Ya..ya..baik..oke..sekarang? Ya.. okelah..Parno?..ya..baik..siip...siiaap"

Telepon ditutup. Parno penasaran namanya disebut.

"Bagaimana Hasan..Bin? Ada masalah? Bin?..bagaimanaa?" Parno mengejar.

"Jan, Hasan menyuruh kau menjemputnya di depan Mall Pasadena Dua. Sekarang! Dia tadi nebeng kawannya dari Bandara. Cepat Jan.."

"Benar itu?" Parno menelisik.

"Apa kau mau gak kebagian Sale lagi seperti tahun lalu hah? Hayo cepat.."

"Ya..ya..baik..baik..aku ke sana sekarang.."

Parno langsung loncat ke atas sadel. Menghidupkan motor lalu hilang di balik pagar. Kobin tersenyum.

Sejurus kemudian nongol Rasuli ketawa ketiwi membonceng Hasan yang juga terkekeh-kekeh.

"Mana Pisang Salemu San?" Kobin sudah tak sabar.

Sebenarnya mereka semua penggemar berat Pisang Sale. Hanya Parno yang begitu terlihat tergila-gila. Tidak sanggup dia menutupinya. Hingga kawan-kawannya itu suka mempermainkannya.

Pernah suatu ketika, Parno mengigau. Mulutnya meracau. Memanggil-manggil Sang Pisang. Kawan-kawannya itu menjulurkan kaos kaki ke mulutnya. Hingga beberapa detik dia belum sadar. Kaos kaki itu memenuhi mulutnya.

Bisa dibayangkan saat dia sadar setelahnya. Kawan-kawannya itu serta merta dilihatnya bak pisang sale. Diuber sampai ke ujung gang. Parahnya, sarung yang dia pakai terlepas. Sepanjang gang cuma mengenakan cawat. Tetangga histeris. Semenjak itulah gang depan rumah Kos diberi nama Gang Pisang.

Tak ada sepuluh menit.. Pisang Sale oleh-oleh dari Medan itu pun ludes. Tinggal sekotak lagi.

"Sisakan buat Parno. Jelek-jelek begitu Sale ini masih suka dia,.ha..ha...ha.." Mereka terbahak-bahak.

"Haaii..anak-anak..wah baru datang.. ya? Apa oleh-olehnya? Wah..wah...waah..Hasan! Kau bawa pisang sale! Kesukaan Ibu! Sudah Ibu duga.. Mana buat Ibu?

Mereka bertiga saling toleh.

"Hmmm...ini.. Bu...ini buat Ibu," Hasan menyerahkan Pisang Sale yang tinggal sekotak itu. Kepalanya seketika di penuhi oleh wajah unik Parno.

Senang kepalang sang Ibu Kos. Segera lenyap di balik pintu dapur. Moni menguntit.

"Bagaimana sekarang? Sebentar lagi Parno pasti datang," ujar Rasuli risau.

"Tenang..biar aku yang bilang nanti. Mudah ini..dia mau mendengar kata-kataku." Kobin menenangkan.

Benar saja. Rentang sepemakan sirih, atmosfir aroma Parno memenuhi ruang tamu rumah kos. Dia mencak-mencak. Sesekali berkacak pinggang. Sampai melepas kaos kemudian menghempaskannya. Tangannya menunjuk ke sana kemari. Terlihat bak Gatotkaca sedang marah. Dia pasrah. Akhirnya tergeletak di lantai beralaskan karpet rotan.

Kawan-kawannya sudah mempermainkannya. Tak guna dia beringas. Rasuli yang merasa paling berandil, tak berani keluar kamar. Mengunci pintu. Dari balik pintu, mengaku lelah dan mau tidur.

Tiba-tiba dari pintu dapur nongol Ibu Kos. Mata Parno sontak melihat kotak Pisang Sale legenda itu di tangan Ibu Kos. Mata elangnya mendeteksi tinggal seperempat.

"Puus..puuusss....Moni... Puusss"

Ibu Kos melemparkan sisa Sale ke halaman. Moni mengejarnya. Sale tersambit. Dibawa lari sampai ke gang. Mata Parno tak berkedip. Mengikuti laju Moni. Kawan-kawannya tak memperhatikan.

"Lumayaaan..mana ada kucing suka pisang? Heh..salah tangkap kau Moni..." gumam Parno halus.

"Hey.. Jan mau ke mana kau? Kobin bertanya begitu melihat Parno beranjak dari geletakannya.

"Keluar sebentar. Sumpek aku di sini."

"Gak pakai baju kau?" seru Kobin.

Parno tak menyahut. Cepat langkahnya menyusuri jejak Moni. Tak terlihat. Moni hilang. Sinar matanya menyapu sampai ujung gang. Tak ada. Moni benar-benar lenyap.

"Di mana kau Moniiii..." gerutunya menghunjam.

Sinar bulan purnama benar-benar membantu daya pantau mata elangnya. Di pinggir gang dekat tembok.

"Ahhh...itu diaaa....Moni pasti tidak suka!..dia membuangnya! Beruntung benar aku! Itu pisang Moonn...bukan pindang.. " cercah harapan selalu mengikutinya.

Remang-remang dari kejauhan terlihat Sale itu. Parno segera mendekat. Secepat kilat meraihnya.

"Sudah aku bilang kucing tak mungkin suka pisang! Apalagi pisang Saallll....."

Kalimatnya putus. Matanya terbelalak. Perutnya mengunci kuat. Nafasnya berhenti. Sale itu sudah sampai di mulutnya. Sebagian tertelan. Hidungnya kurang tanggap. Aroma tak sedap telat dia rasakan.

"Hey..ngapain lu embat kotoran anjing?" seru John tetangganya yang dari Jakarta itu. **

KONTEN MENARIK LAINNYA
x