Mohon tunggu...
SANTOSO Mahargono
SANTOSO Mahargono Mohon Tunggu... Pustakawan - Penggemar Puisi, Cerpen, Pentigraf, Jalan sehat, Lari-lari dan Gowes

Pada mulanya cinta adalah puisi. Baitnya dipetik dari hati yang berbunga

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tas Sosialita

9 Juli 2020   22:02 Diperbarui: 10 Juli 2020   06:44 108
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ayu terus berkata-kata meski tak banyak yang kudengar. Aku teringat pesan Mbak Yuni agar pura-pura melihat-lihat berkas atau sekedar membuka file komputer. Sebab kalau dituruti terus bisa seharian ngobrol.

"Besok ada pertemuan kecil, aku, kamu dan temanku. Kita cukup bertiga. Kita ketemuan di cafe Sosiacafe. Aku ingin mengajakmu membuat acara santunan kepada anak-anak panti asuhan" bisik Ayu tiba-tiba saat mendekatkan tubuhnya kepadaku.

Aku sedikit terkejut, "Waow, ada jiwa sosialnya juga orang ini" aku mencoba menebak-nebak dalam hatiku. Baiklah. Untuk undangan kali ini aku mengangguk sepakat. Ia tersenyum puas, dan meninggalkanku dengan berbagai tanya. "Benarkah Ayu punya sisi empati sosial?"

ESOK HARI DI SEBUAH PERTEMUAN KECIL
"Hei Wiwik, how are you? Lihat ini, tara....!! bagus nggak?" tiba-tiba Ayu sudah mengejutkanku dari belakang. Seperti hari sebelumnya ia nyerocos dan kali ini diselingi memamerkan tasnya yang mewah. "Jangan lupa nanti sore, ingat ya?" pesannya sembari meninggalkanku yang masih senyum kecut.

Sore ini aku menuruti permintaan Ayu. Mengikuti pertemuan kecil di sebuah cafe. Mas Doni yang mengantarku. Sebab Ayu beralasan mau ganti baju dan ganti tas baru. "Aduh apalagi ini, masak pertemuan kecil aja harus ganti tas baru?" pikirku keheranan.

"Baiklah kutunggu saja, pokoknya jika lebih dari setengah jam kita cabut aja Mas" kataku.
"Sabar, ditunggu aja. Aku pipis dulu ya" pinta Mas Doni ijin ke toilet.

Lima menit kemudian nampaklah batang hidung Ayu dan temannya dengan baju senada dan penuh aksesoris. Dandanan menor, bau parfum meruak, kacamata hitam dengan bingkai mata raksasa, dan yang pasti tas baru lagi.

"Hai Wiwiiiikk, ini Novi teman baru kita. Sudah lama nunggu ya? Oh kasihaan. Mana suamimu? Tadi katanya diantar si Mas tersayang ya?, cieeee..." gurau Ayu centil.

Melihat perbedaan Ayu di tempat kerja dengan saat ini aku jadi agak merinding. "Aduh orang ini waras nggak ya?"
"Nah itu suamiku" sahutku seraya menunjuk Mas Doni yang keluar dari toilet menuju ke meja kami.

"Loh, kamu kan Ayu?" kata Mas Doni. Tiba-tiba Ayu seperti salah tingkah. Wajahnya blingsatan seperti malu.
"Jadi ini Ayu yang kau ceritakan itu? Dia ini pelanggan setia Papa loh, tuh lihat tasnya, Papa banget gitu loh?" jelas Mas Doni sambil menunjuk tas yang dibawa Ayu.

"Eh iya Om, anu, ee..., mbak Wiwik ini istri Om Doni to? Saya nggak tahu, lagian jarang kelihatan di butik sih, jadi maaf ya Mbak Wiwik"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun