Mohon tunggu...
Santoso Mahargono
Santoso Mahargono Mohon Tunggu... Pustakawan

Aku pembelajar yang haus dalam perjalanan. Semoga kau sudi memberiku setetes syair.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Antrian

14 September 2019   15:24 Diperbarui: 14 September 2019   15:32 0 3 1 Mohon Tunggu...
Antrian
Sumber: https://lukisanku.id

Hari ini semua orang harus mengantri. Setiap matahari adalah undian yang harus kita terima. Menerima hangat dalam kehidupan. Menerima masa yang getir dan terik. Peluh dan keluh seperti berkejaran. Sampai hidup menguning senja. Perlahan garis pantai mengubur bayang-bayang masa lalu. Bumi dan langit terdiam dalam gulita, menelan segenap kebaikan dan keburukan pada sunyi yang tak berteman apapun. Maka, sejak itu pintalan rindu terus digulung oleh antrian selanjutnya.

Hari ini orang-orang besar turut mengantri. Setiap rembulan adalah pendulum yang terus bergerak. Ketika sabit telah nampak, tumpukan suka cita mulai ditata. Mereka tak pernah putus asa, purnamalah yang akan menemani. Sampai tubuh rapuh tergerus bayang-bayang, kembali menjadi sabit yang tak nampak lagi. Maka, sejak itu orang-orang besar selalu menjadi tutur bagi anak-anak yang siap melukis mimpinya.

Hari ini pula, orang-orang kecil rela mengantri. Matahari terus menyengatnya hingga keriput. Jika pun dijumpai saat gemintang menari suka, rembulan telah lebih dulu memeluknya penuh gigil. Giginya gemertak turut memikirkan sejumput nasib pilu yang selalu basi dan dikeringkan esok harinya. Tak ada buah yang manis dalam keterbatasan. Tak ada dedaunan yang meneduhkan dalam sebuah kepahitan. Namun, di langit telah ditanam, buah budi kesabaran sebagai antrian yang tak melelahkan. Maka, menggenapkan waktu dengan derita adalah perjuangan yang terus berputar. 


MALANG, 14 SEPTEMBER 2019     

KONTEN MENARIK LAINNYA
x