Mohon tunggu...
Haryadi Yansyah
Haryadi Yansyah Mohon Tunggu... Wiraswasta

ex-banker yang kini beralih profesi menjadi pedagang. Tukang protes pelayanan publik terutama di Palembang. Pecinta film dan buku. Blogger, tukang foto dan tukang jalan amatir yang memiliki banyak mimpi. | IG : @Omnduut

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana Pilihan

"Om, Tukang Demo itu Puasa Nggak? Kok Marah-marah?"

26 Mei 2019   04:00 Diperbarui: 26 Mei 2019   04:11 0 8 2 Mohon Tunggu...
"Om, Tukang Demo itu Puasa Nggak? Kok Marah-marah?"
Source image: kompas.com

"Maramaramara itu nggak perlu, udah marahnya, cepetan dong cepetan dong."

Ada yang ingat nggak sama lagu "Maramaramara" yang dipopulerkan oleh Project Pop lebih dari 10 tahun silam? Coba deh cek video klipnya di youtube. Diperlihatkan, ada yang berantem gitu di jalanan. Ada yang tawuranlah, ada yang tukang demolah. Dan, ironisnya, apa yang digambarkan di video itu masih relevan hingga saat ini.


Kita semua tahu ya dengan kejadian menyedihkan yang terjadi di Jakarta pasca pengumuman terpilihnya pasangan Jokowi dan Mahruf Amin (btw, selamat ya Pak. Saya salah satu pendukung bapak). Sedih lihat bentrok yang terjadi antara perusuh dan pihak kepolisian. Tanpa perlu saya jabarkan, kita semua tahu kerusakan yang tejadi dalam kerusuhan tersebut.

Apa Mereka Berpuasa?

Ponakan saya yang masih kecil sempat berceloteh, "om, itu tukang demo puasa nggak? Kok marah-marah." Ya, ponakan saya yang baru belajar puasa sejak tahun lalu ini sudah tahu hakikat berpuasa itu tak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga harus menahan emosi.

Lucunya, di sosial media, saya mendapati ada beberapa pihak dari demonstran yang terlihat asyik makan, minum dan merokok di tengah aksi demo. Terlepas mereka ini pihak penyusup yang menjadikan situasi tak terkendali atau memang pendukung dari pihak 02, saya sih menyayangkan ya, betapa banyak kerugian yang sudah mereka perbuat.

Tukang demo yang kedapatan makan, minum dan ngerokok. Sumber https://www.facebook.com/dennyzsiregar
Tukang demo yang kedapatan makan, minum dan ngerokok. Sumber https://www.facebook.com/dennyzsiregar
Udahlah nggak puasa, ikut mengganggu ketentraman publik eh bikin onar pula. Dan, itu mereka lakukan di bulan suci Ramadan. Sungguh menyedihkan. Apalagi dampak kejadian itu efeknya mendomino. Oke, mungkin dalam hal ini kalian tidak sepakat, tapi, menurut saya kejadian ini tak perlu terjadi jika pihak yang kalah menerima kekalahan ataupun melakukan protes secara resmi. Jika kemudian sekarang protes ke MK dilakukan, saya kok jadi keinget omongan Mbak Cinta ke Mas Rangga, ya. "Telat, madingnya sudah terbit!"

Semacam Pengingat untuk Diri Sendiri

"Gila Yan, gue emosi banget tadi. Langsung gue batalin puasanya."

Salah seorang sahabat berceloteh ke saya kalau dia emosi dan dia merasa puasanya telah batal. Well, soal apakah batal atau nggak saya gak tahu ya. "Harusnya puasanya terusin aja, bisa jadi gak batal tapi pahalanya berkurang."

"Percuma, jelas puasa gue batal. Mending gue makan aja sekalian."

Mengenai emosi ini, sebetulnya saya juga gak luput-luput amat. Bahkan, beberapa hari di puasa awal, saya juga sangat emosi karena satu kejadian dan hampir saja baku hantam hehehe. Ibaratnya, saya udah sangat kesetanan hari ini. Mengenai apa? Biar jadi cerita saya saja :D

Saya kalah. Saya dikalahkan emosi. Tapi, saya nggak lantas membatalkan puasa. Saya masih berusaha nahan dan berharap masih ada secuil pahala yang saya dapatkan hari itu. Padahal nih ya, efek marah-marah juga gak baik untuk tubuh. Bisa memicu stres, penyakit jantung, bikin tekanan darah tinggi, sesak napas, sakit kepala bahkan stroke hingga berefek ke kematian.

Serangan jantung bisa terpicu kalau marah. Sumber kompas.com
Serangan jantung bisa terpicu kalau marah. Sumber kompas.com
Udah paling bener emang kalau lagi emosi itu banyak-banyak mengingat Tuhan. Banyak-banyak istighfar dan sadari betul bahwa semua permasalahan akan ada jalan keluarnya. Saya pribadi juga berusaha menjaga ibadah, apalagi di bulan Ramadan ini saat pahalanya berlipat ganda.

Sejak kejadian di hari ke-3 atau  4 Ramadan itu saya berusaha menjauhi perseteruan. Ya, perseteruan yang lebih dekat ke saya itu perseteruan di dunia maya alias di sosial media. Saya agak menghindari sih berdebat terbuka walaupun masih suka nyerempet-nyerempet di twitter dikit hehe. Tapi so far aman dan semoga hingga Ramadan berakhir saya terhindar dari emosi tak terkontrol yang dapat merugikan.

Kompal (Kompasianer Palembang)
Kompal (Kompasianer Palembang)