Mohon tunggu...
Haryadi Yansyah
Haryadi Yansyah Mohon Tunggu... Penulis

ex-banker yang kini beralih profesi menjadi pedagang. Tukang protes pelayanan publik terutama di Palembang. Pecinta film dan buku. Blogger, tukang foto dan tukang jalan amatir yang memiliki banyak mimpi. | IG : @Omnduut

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Pilihan

Pelajaran Hidup dari Si Tukang Pijat Mualaf

29 Mei 2018   06:39 Diperbarui: 29 Mei 2018   09:24 0 3 3 Mohon Tunggu...
Pelajaran Hidup dari Si Tukang Pijat Mualaf
Foto milik pribadi.

Sosok hebat itu bernama Tini. Ntah apa nama lengkapnya, yang jelas saya dan anggota keluarga lain biasa memanggil beliau dengan embel-embek "uwak" di depannya. Saya tidak tahu berapa usia pasti Uwak Tini. Saya taksir, usianya sudah lebih setengah abad. Rambutnya saja sebagian sudah memutih. Walau begitu, tenaganya masih kuat dan Alhamdulillah, dengan tenaganya itulah beliau menghidupi keluarga.

Sehari-hari, Uwak Tini berprofesi sebagai tukang pijat keliling. Pekerjaan ini setidaknya sudah ia lakoni sejak belasan tahun lalu. Sebelum itu, pelbagai pekerjaan sudah ia lakoni. Dari bekerja sama orang hingga berjualan pempek keliling.

"Dulu, Uwak sering lewat rumah kalian ini saat jualan pempek. Yayan juga dulu sering beli," ujarnya suatu kali.

Terus terang saya tidak ingat. Apalagi Uwak Tini bilang, ia terakhir kali berjualan pempek keliling di akhir tahun 90-an. Lha, tahun segitu saya aja masih SD. Yang saya ingat hanya Doraemon dkknya hehe. Oh ya, Uwak Tini ini ternyata bukan orang baru. Saat awal-awal menikah di tahun 80-an, ia tinggal di kampung yang sama dengan ibu dan ayahku. Bahkan ia tahu banyak sejarah percintaan ayah-ibuku hingga kemudian ayah dan ibuku memutuskan untuk menikah.

Saat Memutuskan Untuk jadi Mualaf

Jika kalian berkesempatan jumpa dengan Uwak Tini, tanpa bertanya lebih lanjut, pasti sudah dapat menerka bahwa beliau keturunan Tionghoa alias orang Cina kalau biasa masyarakat Palembang sebut. Palembang sendiri memang termasuk kota yang multi-kultur. Gak hanya orang melayu, berbagai orang dengan latar belakang suku di Indonesia tersebar di Palembang. Termasuk para "pendatang" seperti dari Cina dan India.

Konon, orang Cina sudah datang ke Palembang sejak tahun 1407. Dan, Sultan Mahmud Badarudin I yang memimpin Kesultanan Palembang Darussalam antara tahun 1724-1757 pun menikahi putri kerajaan Cina dan memiliki anak keturunan hingga kemudian populasi orang Cina di Palembang semakin banyak.

Foto dari tibbits.org
Foto dari tibbits.org
Orang Palembang sendiri secara perawakan memang mirip seperti seorang Tionghoa. Rata-rata orang Palembang asli berkulit kuning langsat dengan perawakan sedang. Orang Palembang memang terkenal cantik dan ganteng. Uhuy!

"Ayuk* dulu pindah agama saat menikah, ya?" Tanya ibu saya suatu kali saat beliau datang ke rumah dan tengah memberikan pijatan kepada saya.

"Sebelum menikah sudah jadi mualaf. Dulu kan tinggal di kampung mulai belajar-belajar tentang Islam, Pah," jawab Uwak Tini. By the way, "Pah" adalah panggilan uwak kepada ibuku. Singkatan dari "Ipah" hehehe. Selain Uwak Tini sendiri, ternyata ada saudara lainnya yang juga memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Yang saya salut, sebagai mualaf, Uwak Tini betul-betul menjalankan ajaran Islam dengan baik. Jika ngomongin ibadah salat, gak usah ditanya. Saya tahu betul kebiasaannya setiap kali datang ke rumah. Beliau selalu berhenti sejenak dan langsung salat ketika waktu salat tiba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4