Om Brill
Om Brill

Book Writer - Video Blogger - Entrepreneur

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Tips untuk Calon Pelamar Pemula Pekerja TV

22 Mei 2018   13:45 Diperbarui: 23 Mei 2018   21:06 1838 2 0
Tips untuk Calon Pelamar Pemula Pekerja TV
Sumber ilustrasi: wfsu.org

Tiap kali melakukan wawancara dengan para pelamar, saya selalu saja menemukan hal-hal serupa. Yakni, jawaban atau penjelasan salah yang diungkapkan oleh para pelamar. Biasanya yang paling banyak melakukan kesalahan adalah pelamar pemula.

Kompasianer, kebetulan tiap ada calon pekerja televisi, saya sering diminta untuk mewawancarai, khususnya bagi mereka yang melamar di bagian produksi, baik itu Produser, Program Director (PD), Production Assistant (PA), maupun Editor. Nah, dari beberapa kali pengalaman mewawancarai calon pekerja TV tersebut, saya mencatat sejumlah kesalahan. Bahkan, sampai kemarin saya mewawancarai beberapa calon pekerja televisi, kesalahan serupa terjadi. 

Berikut ini, beberapa tips untuk Anda yang berkeinginan melamar di stasiun televisi, baik di bagian produksi atau redaksi. Tips-tips ini tujuannya agar Anda tidak salah menjawab atau menjelaskan, dan interviewer (si pewawancara) terkesan dengan jawaban atau penjelasan Anda. Tentu, masih ada tips lain, selain tips yang saya buat ini. Semoga sedikit tips ini berguna untuk Anda ya.

Sumber ilustrasi: toptrabajos.com
Sumber ilustrasi: toptrabajos.com

1. Nonton TV

Jika tertarik melamar di stasiun televisi, tentu harus tahu sedikit mengenai dunia pertelevisian. Ya, setidaknya tahu stasiun televisi yang Anda kirim lamarannya.

Misal, Anda melamar di stasiun televisi A, maka Anda harus tahu mengenai stasiun televisi A. Tahu di sini bukan tahu seluruhnya, lho, tetapi hal-hal mendasar dari stasiun televisi A ini. Nama panjang televisi tersebut kah, tahun kelahirannya, sistem penyiarannya (analog atau digital). Pokoknya product knowladge dari televisi A ini. Meski Anda jarang nonton televisi, sebisa mungkin sebelum di-interview, Anda nonton televisi, deh.

Kemarin, saya kembali menemukan kelucuan dari pelamar. Ketika saya tanya, sudah pernah nonton televisi X belum? Si pelamar mengatakan: "Sudah".

Tentu kalau mendengar jawaban si pelamar, tidak ada yang salah. Sungguh bagus ia menonton televisi X. Namun, begitu si pelamar saya mendengar jawaban selanjutnya. "Tapi saya menonton TV X sudah lama. Ya, mungkin sekitar tahun 2010 kali ya..."

Saya tersenyum, karena televisi X baru bersiaran pada 2013. 

Selain product knowladge dari televisi A, sebenarnya tidak ada salahnya Anda juga update mengenai dunia pertelevisian secara umum. Misal, Anda tahu berapa jumlah TV mainstream saat ini, lalu tahu sedikit mengenai apa itu televisi teresterial, pay TV, atau istilah-istilah lain di televisi.

2. Nonton acara TV

Ketika sudah bertekad bulat melamar di stasiun televisi A, seharusnya Anda juga sudah pantengin program-program acaranya. Bagaimana interviewer mau terkesan dengan Anda, jika Anda tidak memberikan kesan serius ingin kerja di stasiun televisi A?

Kesan yang serius yang dimaksud adalah mengetahui program-programnya. Saat ini kita sudah dimudahkan dengan media sosial. Anda tinggal googling nama stasiun A, maka akan ditemukan product knowladge maupun program televisi A. 

Tonton beberapa program yang sudah diproduksi stasiun televisi A, maupun program talkshow, variaty show, news, atau yang lain-lain. Cari tahu program favorit dari televisi A. Perhatikan dan analisa apa yang bisa membuat program teresebut menjadi favorit. Kalau perlu, riset lebih dalam lagi dari akun twitter atau instagram.

3. Pastikan posisi Anda

"Saya bisa menjadi apa saja, Pak. Kalau di sini yang kosong Production Asssistance, ya saya bisa. Kalau di sini butuh kreatif, saya juga bisa."

Jawaban tersebut sungguh tidak mencerminkan sebuah kepastian, Anda sebetulnya mau melamar jadi apa. Memang, positifnya Anda bisa jadi apa saja. Bisa jadi PA, bisa jadi Kreatif.

Jangan-jangan jika di stasiun televisi A lagi butuh Office Boy (OB), Anda juga tidak masalah bekerja jadi OB. Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung profesi OB, lho. Saya hanya ingin mengatakan, Anda belum yakin dengan posisi yang Anda lamar. Padahal, keyakinan Anda merupakan nilai.

4. Redaksi dan produksi itu beda!

Seorang pelamar menjelaskan, bahwa ia ingin melamar jadi Produser. Meski bekerja di salah satu stasiun terkemuka, tapi pengelamannya baru pegang satu program dokumenter. Di program itu pun posisinya hanya sebagai Reporter. Namun, dengan percaya diri, ia mampu jadi Produser News. Yang makin menggelikan saya, dengan percaya diri pula, ia mengatakan, "Saya bisa kok jadi Produser News atau Produser Produksi".

Percaya diri boleh, tapi jika tidak mengerti, jadi nampak bodoh. Baru pegang satu program, ia sudah berani mengatakan sanggup menjadi Produser News. Ia belum tahu, bahwa menjadi Produser News, bukan cuma bisa pegang program dokumenter, tetapi harus siap pegang program buletin. Harus siap menghadapi "kepanikan" di newsroom dan control room saat harus breaking news.

Harus siap membuat rundown dadakan, membuat naskah untuk paket dadakan, menghadirkan narasumber last minute, atau telewicara, dan aneka "keribetan" lain. Produser News beda dengan Produser di produksi. Memang, di redaksi juga ada tahapan produksi: pra-produksi-paska. Namun ritmenya beda.

Ketika si pelamar mengatakan bisa menjadi Produser produksi, saya langsung tanya, "Apa yang harus kamu persiapkan saat ingin membuat syuting variaty show?" Ia pun tak bisa menjawab, baik secara teknis maupun nonteknis.

Buat Produksi, mungkin sudah terbiasa mempersiapkan program variaty show. Tapi buat pelamar yang baru punya pengalaman pegang satu program non-bulletin, tentu belum terbayang mempersiapkan syuting varity show dengan menggunakan multi-kamera.

5. Siapkan kemampuan kreatif Anda

Sudah bukan rahasia, praktisi televisi berhubungan dengan pekerjaan kreatif, apalagi di bagian produksi dan redaksi. Nah, biasanya interviewer selalu memancing kreativitas si pelamar. Sebagai calon pekerja tv, tentu harus siap untuk mengasah kemampuan kreativitasnya. Jangan sampai Anda mengatakan sebagaimana calon pelamar yang pernah saya interview.

"Jika saya minta Anda bikin program light talk show, coba kira-kira konsep light show seperti apa yang akan Anda buat?" 

"Wah, tidak bisa kira-kira pak..." jawab si pelamar.

"Ya, kamu coba bayangkan konsepnya," tanya saya lagi.

"Tidak bisa dibayangkan pak..."

Dalam hati kecil saya, ini pelamar tidak mengerti pertanyaan saya atau memang tidak kreatif ya? Setahu saya, pertanyaan saya jelas. Seharusnya, si pelamar bisa pamer kreativitas. Bisa jadi kreativitasnya sudah ada. Namun yang terpenting dan menjadi nilai tambah, interviewer melihat keberanian si pelamar mengungkapkan gagasan.

6. Boleh "jual diri", tapi jangan kebangetan

Menjual diri dalam konteks ini adalah mengungkapkan pengalaman yang memang bener-benar pernah Anda lakukan. Misal, Anda pernah bikin program acara, menjadi Sutradara atau Program Director (PD) atau scriptwriter, di mana acara tersebut meraih penghargaan.

Nah, prestasi ini layak untuk Anda "jual". Contoh lain, Anda sampai saat ini menjadi kontributor citizen journalist sebuah televisi nasional. Kemampuan Anda sebagai kontributor berita -meski citizen jounalist-, namun hal tersebut merupakan pengalaman yang patut dijual.

Namun yang perlu diingat, "jual diri" boleh, hanya jangan "lebay". Maksudnya lebay, Anda sok tahu padahal belum cukup banyak tahu. Anda sok ngerti, padahal baru sedikit ngerti.

"Saya pernah menjadi Produser seorang Motivator," jelas pelamar pada saya.

"Apa tugas Produser di situ mas?" tanya saya.

"Mengelola jadwal Motivator. Mengajak kerja sama dengan stasiun televisi..."

Menurut saya lucu jika baru mengelola jadwal dan mengajak kerja sama dengan stasiun televisi sudah mengakui punya pengalaman sebagai Produser. Buat saya, si pelamar ini lebay. Ia belum banyak tahu tugas dan tanggung jawab sebagai Produser secara menyeluruh.

Dalam tulisan ini saya tak akan menjabarkan tugas dan tanggung jawab Produser. Yang pasti, Anda sebagai pelamar jangan sok tahu, mengaku punya punya pengalaman menjadi Produser jika belum pernah membuat acara dari A-Z, dari pra produksi-produksi-sampai paska produksi.

7. Update berita

Apa jadinya jika Anda mau jadi Reporter, tapi tidak update berita? Nah, ini terjadi ketika saya mewawancarai calon Reporter. Setiap kali mewawancarai calon Reporter, saya selalu memancing dengan pertanyaan, "Apa isu yang saya ini sedang jadi berita?" Atau "Berita apa yang sekarang lagi viral di media sosial?"

Kemarin, saat wawancara, ada seorang Reporter sempat saya tanya, "Kemarin Kementrian Agama sempat heboh. Kamu tahu kehebohan apa?" Jawaban calon Reporter bikin saya tersenyum. 

"Soal puasa pertama ya, Pak? Dan soal Idul Fitri..."

Sungguh, calon Reporter ini tidak update dengan berita. Ia tak tahu sama sekali, bahwa berita terakhir soal Kementerian Agama soal dirilisnya 200 daftar nama penceramah Indonesia yang menjadi polemik. Saya pun semakin yakin, calon Reporter ini tidak pernah baca koran atau baca media online.

"Kapan terakhir baca media online?" tanya saya.

"Kapan ya...(ragu-ragu)," jawab calon Reporter.

"Jadi tidak tiap hari baca koran atau baca media online?" tanya saya lagi.

"Tidak, Pak."

Jawaban calon Reporter itu sungguh jujur. Ia tidak setiap hari baca koran atau baca media online. Itu artinya, ia tidak update berita. Tentu, buat seorang interviewer, hal ini memberikan nilai minus pada si calon. Oleh karena itu, tips yang baik bagi calon Reporter, jangan berani di-interview, jika Anda belum sempat update berita.


Salam sukses!