Mohon tunggu...
Rokhman
Rokhman Mohon Tunggu... Guru - Menulis, menulis, dan menulis

Guru SD di Negeri Atas Awan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Guru Penggerak dan Jurus Kepepet

10 November 2022   05:43 Diperbarui: 10 November 2022   06:40 202
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: detik.com

Ketika masih kanak-kanak saya senang berpetualang layaknya teman-teman sebaya waktu itu. Dari mulai berburu tupai, berburu kadal, mencari jangkrik, memancing, hingga menangkap ular pun pernah saya lakukan. Mungkin sudah seperti Si Bolang yang ada di acara anak-anak sebuah televisi swasta itu.

Suatu hari saya bersama 2 orang teman memancing di sepanjang parit yang mengelilingi rumah tua. Rumah dengan arsitektur joglo tersebut mempunyai pekarangan yang luas dan dikelilingi parit selebar 1 meter lebih. Di sepanjang parit itulah hidup bebas ikan-ikan berbagai jenis. 

Namun demikian tak seorang pun yang berani memancing di tempat itu. Mengapa? Karena Sang pemilik, Mbah Sobari namanya sangat disegani warga sekitar. Konon Mbah Sobari, adalah mantan lurah atau pembesar pada zaman Belanda. Saat itu Mbah Sobari hanya hidup berdua dengan istrinya. 

Sosok angker Mbah Sobari membuat warga sekitar tidak berani menjamah pekarangan rumahnya. Mendengar suara Mbah Sobari bersin saja orang sudah lari terbirit-birit. Rupanya sisa-sisa keangkeran dan kewibawaan Mbah Sobari masih melekat kuat di hati warga desa. 

Namun hal itu tidak berlaku bagi anak-anak seusia saya. Suatu hari saya dan dua orang teman nekat memancing di parit sepanjang pekarangan Mbah Sobari. Ketika kami bertiga sedang asyik memancing, tiba-tiba dikejutkan suara orang bersin yang cukup keras. Haciiih ... spontan kami berlarian. Parit dengan lebar satu meter lebih itu mampu saya lompati.

Kami bertiga berlarian menyelamatkan diri. Setelah suasana aman, saya baru tersadar dalam situasi normal mustahil saya mampu melompati parit selebar itu. Namun dalam keadaan kepepet ternyata saya mampu melompatinya. 

Ini mungkin yang oleh Jaya Setiabudi disebut dalam bukunya The Power of Kepepet (2008). Dalam buku sersebut Jaya Setiabudi menjelaskan cara cepat dan jitu menjadi seorang pengusaha dengan menggunakan otak kanan. Dalam keadaan darurat (kepepet) kadang muncul ide-ide brilian.

Begitulah manusia. Kadang segala kemungkinan bisa terjadi. Ketika dihadapkan situasi genting atau dalam istilah Jawa kepepet ternyata ada solusi. Mungkin termasuk pengalaman saya ketika mau mendaftar sebagai CGP baru-baru ini. 

Berbekal modal pas-pasan namun karena kondisi kepepet dan sudah kehabisan alasan untuk menolak perintah atasan akhirnya ikut daftar juga. Ternyata lulus dan bisa mengikuti PGP angkatan 7.

Pengalaman saya ini tentu bukanlah contoh yang baik. Untuk itu, saya berpesan khususnya bagi guru-guru muda siapkan diri, buatlah perencanaan yang matang jika akan mendaftar calon guru penggerak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun