Mohon tunggu...
oman salman
oman salman Mohon Tunggu... guru

lawan korupsi! kami generasi penerus akan tetap setia pada integritas, moralitas, dan spiritualitas

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sila Ke-1 sebagai Benteng Diri

23 Agustus 2019   14:37 Diperbarui: 23 Agustus 2019   14:53 0 1 0 Mohon Tunggu...
Sila Ke-1 sebagai Benteng Diri
ilustasi Lambang Garuda: sosiologis.com

Beruntung sekali kita dianugerahi sebuah dasar dan ideologi negara yang luar biasa bernama Pancasila. Pancasila adalah rahmat Tuhan yang dititipkan melalui para founding father negeri ini. Para founding father yang memiliki kedalaman dan kejernihan hati serta ketajaman dan kecemerlangan pikiran. Dari hati dan pikiran mereka lahirlah Pancasila.

Pancasila lahir dan hadir sebagai wujud cinta abadi para founding father untuk semua anak negeri. Pancasila akan senantiasa abadi bersama negara Indonesia seabadi nilai-nilai moral spiritual yang terkandung dalam setiap silanya.

Pancasila adalah rahmat penyempurna dari rahmat sebelumnya yakni kemerdekaan. Kemerdekaan negara Indonesia 17 Agustus 1945 adalah rahmat dari Tuhan Yang Mahakuasa. Namun dapatkah kita bayangkan apa jadinya kemerdekaan kita jika tak dilengkapi dengan Pancasila? Akan berpedoman kemanakah rakyat kita yang masih labil itu jika tak ada dasar dan ideologi pemersatu?

Pancasila hadir sebagai basis atau pijakan rakyat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Bahkan Pancasila juga dapat kita jadikan pedoman dalam semua aspek kehidupan ini. Misalnya jika kita coba baca dari sila pertama yang berbunyi "Ketuhanan Yang Mahaesa".

Melalui sila ke-1 ini rakyat Indonesia patut bersyukur. Sebab dengannya kita diingatkan bahwa di balik segala apa yang kita miliki: harta, kekuasaan, jabatan, dan seterusnya semata karena adanya kekuatan dan kekuasaan yang paling dan tertinggi dari segalanya, yakni Tuhan. Dan semua perbuatan yang kita lakukan tak satupun luput dari pantauan-Nya. Tuhan tempat bergantung segala urusan dan Tuhan adalah Sumber Utama kita untuk berperilaku.

Melalui sila ke-1 ini kita diingatkan bahwa setiap perilaku yang kita perbuat harus sesuai dengan ajaran-Nya. Apapun agama kita, semuanya mengajarka pada kebaikan.

Setiap pribadi yang beragama pasti memiliki keyakinan dan benteng terakhir sebagai sumber inspirasi dalam melakukan suatu perbuatan. Dengan benteng ini, niat atau rencana dan bahkan jika suatu perbuatan buruk itu akan kita lakukan, hati dan pikiran kita akan menolaknya. 

Tuhan adalah sumber kebaikan. Maka setiap manusia yang berasal dari Tuhan sejatnya memiliki potensi kebaikan. Sebab ia bersumber dari Yang Mahabaik. Oleh karena itu, hati kita sering sekali akan menolak dan berontak ketika kita melakukan suatu perbuatan yang melanggar norma. Namun kadang walau hati menolak kita tetap melakukan sebuah perbuatan yang melanggar norma. Itu berarti nurani kita sebagai pintu masuk Kebaikan Tuhan dan benteng terakhir telah dikalahkan oleh hawa nafsu.

Apapun profesi kita, tukang batu atau orang nomor satu di negeri ini, ketua RT atau Ketua DPR, pemulung sampai pendaki gunung, semuanya dalam pantauan Tuhan. Perbuatan baik dan buruk, bahkan sekadar niat pun, takkan luput dari pantauan-Nya.

Bahkan dalam terminologi Islam, disebutkan bahwa Tuhan lebih dekat kepada manusia daripada urat leher si manusia itu sendiri. Sedemikian amat sangat dkatnya Tuhan pada manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x