Mohon tunggu...
oman salman
oman salman Mohon Tunggu... guru

lawan korupsi! kami generasi penerus akan tetap setia pada integritas, moralitas, dan spiritualitas

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ketulusan Hati dalam Menolong Sesama

28 Juni 2019   13:29 Diperbarui: 28 Juni 2019   13:51 0 0 0 Mohon Tunggu...
Ketulusan Hati dalam Menolong Sesama
sumber:http://www.nupesawaran.or.id  

Dalam kehidupan ini ada kalanya kita memberikan pertolongan kepada orang lain dan ada kalanya kita membutuhkan pertolongan orang lain. Dan ada kalanya kita dihadapkan pada sebuah keadaan yang tak terduga, atau kita sebut spontanitas, di mana tiba-tiba kita membutuhkan uluran tangan orang lain, atau orang lain yang tiba-tiba membutuhkan pertolongan kita. Mungkin keadaan tersebut menjadi mudah jika yang membutuhkan pertolongan adalah orang dekat atau orang terdekat. Lantas bagaimana jika kita dihadapkan pada orang yang tidak kita kenal, misalnya saat kita berada di bus, angkot, atau di sekitar pertokoan, dan lainnya; akankah kita sungkan untuk minta pertolongan orang lain atau sebaliknya saat kita dimintai pertolongan? 

Seperti yang dialami oleh Nasrul, seorang karyawan swasta yang tinggal di wilayah Depok. Setiap hari-kerja ia pergi-pulang dari rumah kontrakannya di Depok ke wilayah Jakarta Selatan dengan mengendarai sepeda motor. Usianya sekitar 35 tahunan memiliki seorang istri dan satu anak laki-laki yang baru berusia tiga tahun.

Suatu ketika, saat sinar matahari telah redup, dan kumandang adzan telah cukup lama berlalu, Nasrul berkutat dengan pengendara lain dalam kemacetan. Laju kendaraan padat merayap. Ia sudah mulai masuk wilayah Depok. Tiba-tiba dari pinggir jalan di halaman ruko ada seorang ibu yang menggendong anaknya melambaikan tangan tepat di hadapan Nasrul. Nasrul lalu menyalakan sen kiri, melewati si ibu itu beberapa meter lalu memarkir  motornya setelah menemukan tempat yang cukup. Dengan segera si ibu menghampiri Nasrul.

"Bang bisa bantu saya?" Ujar si ibu sambil membetulkan kain gendongan anaknya.

"Bantu apa, Bu?" Jawab Nasrul seraya membuka helm dan meletakannya di spion kanan.

"Saya mau ke arah Sawangan, Depok, Bang. Mau ke rumah saudara. Tapi ongkos saya tidak cukup." Pinta si ibu.

Nasrul menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih ingat jika uang di kantongnya tersisa lima ribu rupiah saja. Menuju Sawangan masih jauh, uang segitu tak kan cukup. 

"Oh gitu ya, bagaimana kalau ibu saya bonceng saja, kebetulan saya juga menuju arah yang sama, Bu?" Tawar Nasrul.

"Oh iya Bang, terima kasih banyak." Jawab si ibu dengan raut gembira.

Mereka berjalan menyusuri Jalan Margonda yang kian padat, menuju Sawangan. Setelah tiba di gang yang menghubungkan ke arah kontrakannya, Nasrul menghentikan sepeda motornya. sambil mengarahkan kepalanya ke arah samping dan membuka kaca helm, Nasrul bertanya kepada si ibu, "Ibu dimana gangnya, saya sudah sampai gang kontrakan saya?" tanya Nasrul. "Saya masih ke depan lagi, bang." Timpal si ibu. "Oh, kalu begitu saya antar sekalian saja deh Bu." lanjut Nasrul. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x