Mohon tunggu...
Black Horse
Black Horse Mohon Tunggu...

Black Horse; Nomaden, Single Fighter Defence.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Dongeng Sokrates Tentang Rakyat Indonesia

17 Juli 2013   07:23 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:26 2675 48 37 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dongeng Sokrates Tentang Rakyat Indonesia
13740354481806643570

[caption id="attachment_267032" align="alignleft" width="401" caption="Step by step to the complete destruction . . . www.chafye110.com"][/caption] PERTARUNGAN politik tanah air akan mencapai puncaknya tatkala rakyat ini disuguhi pada sebuah pilihan, tidak hanya disuguhi untuk memilih wakil rakyat, tetapi juga presiden dan wakil presiden. Bahkan jauh-jauh hari,  beberapa partai politik malahan sudah menyuguhi rakyat dengan membuka konvensi nasional yang memberikan peluang kepada anak-anak bangsa dan putra bangsa yang non-partai untuk mencalonkan diri sebagai sang penyelamat. Konklusinya, sudah bisa ditebak, pemilu yang akan datang akan diselenggarakan dan diikuti secara lebih semarak dan meriah dari sebelumnya, sebuah harapan yang besar dan membanggakan. Dan bukan hanya partai peserta pemilu yang sibuk ngaji dan mengkaji siapa-siapa saja yang pantas menahkodai, tapi semua rakyat pun mengajukan calon-calon nahkoda Republik Indonesia. Meski melegakan, untuk kebanyakan orang malah membosankan dan memualkan. Sebab itu-itu lagi yang dibicarakan. Saking usangnya, mungkin akan menjengkelkan, semua sibuk menawarkan calon alternatif sesuai selera dan kepentingan masing-masing. Kondisi diatas, pernah diceritakan oleh Sokrates mengenai rakyat Athena, yang mirip dengan geliat rakyat di Republik ini. Katanya, rakyat di dalam demokrasi Yunani, seperti tuan-tuan kapal laut. Namun, mereka tidak punya keahlian yang cukup dan memadai. Di sana, ada anak-anak buah kapal (elit-elit politik). Masing-masing mereka menganggap dirinyalah yang mesti menjadi kapten kapal. Kendati tak penah menyelami pendidikan perkapalan, mereka berani memaksa tuan-tuan agar menyerahkan nasib penumpang ke tangan mereka. Tatkala sekelompok dari mereka berhasil merebut, muncul kelompok lain yang akan mendepak dan menjegal mereka keluar dari kapal. Akhirnya, dalam dongeng Sokrates itu, hanya ada suatu kelompok yang mengendalikan kapal, sambil meraup perbekalan kapal dan penumpang. Ketika itu, pelayaran berlangsung tak ubahnya pesta pora. Sementara kroni-kroni yang membantu makar mereka, disanjung sebagai pelaut dan nahkoda terulung, bak pahlawan penyelamat kapal. Mereka tak pernah menyadari bahwa melaut butuh semacam pengetahuan, memerlukan telaah luas tentang pergerakan bintang-bintang, perubahan cuaca, angin dan bahkan musim. Akhirnya, Sokrates mengakhiri kiasannya dengan sebuah pertanyaan, "Di dalam kapal yang berlayar dengan kendali demikian itu, tidakkah kapten yang sesungguhnya seringkali dilupakan dan dituding peramal dan sampah? Pertanyaan yang mirip, tapi lebih tajam pada kondisi Republik Indonesia, "Bisakah kita sebutkan mana seseorang yang bisa menyelamatkan Indonesia dari kegagalan bertubi-tubi? Kalau dalam cerita itu Sokrates berusaha mempertanyakan nasib sang penyelamat, maka kita menanyakan realitas penyelamat itu sendiri. Siapakah sang penyelamat ideal itu? Plato sang murid Sokretes pernah mengatakan, secara konseptual maupun faktual, sang penyelamat itu tidak bisa dipisahkan dari yang diselamatkan, yakni rakyat, dimana antara keduanya terdapat hubungan yang begitu kuat. Oleh Plato hubungan itu disebut kepemimpinan bangsa yang kerap dan identik dengan kepemerintahannya. Kebanyakan seorang penyelemat dalam kepemerintahannya menggunakan suatu pola atau cara khas dalam pemerintahan. Yang belakangan ini hanya akan menemukan arti yang sesungguhnya tatkala ia memegang kekuasaan atas kehendak dan restu orang banyak. Dalam konteks ini, pemimpin merupakan bagian dasar pemerintahan sekaligus bagian dari masyarakat. Posisinya di tengah masyarakat ini merupakan salah satu kekuatan kehendak dan hukum. Apa yang didefinisikan Plato dari ciri khas penyelamat itu sesungguhnya adalah penolakan setiap pemimpin yang asal comot, asal-asalan yang hanya bisa duduk dan mengarahkan telunjuknya tanpa mempunyai nilai dan idealisme. Mulai dari sinilah kita bisa mengikuti sejauhmana Plato mampu mengajukan tesisnya mengenai pemimpin ideal. Tapi, yang lebih menarik dari idealisme Plato, adalah sebuah pertanyaan mengenai harapan anak-anak bangsa yang paling besar dan mendalam, sebagai klimaks dari kekhawatiran anak-anak bangsa yang paling besar. Bahwa semua tidak menginginkan Indonesia jadi Mesir. Konflik yang berkelanjutan, tidak aman, kekerasan komunal maupun kekerasan negara, permusuhan karena etnik, agama, ataupun bahasa, teror, kerusakan jalan-jalan dan infrastruktur fisik dan sederetan adegan dalam negeri dan semua konflik yang tidak bisa dipisahkan dari senhketa politik dan kepentingan, apalagi adegan itu disetting dari luar. Artinya, adegan-adegan itu tidak bisa dipisahkan dari perilaku peserta persaingan kekuasaan. Adegan buruk menegaskan persaingan elit politik bangsa ini tidak wajar dan kurang ajar. Apakah persaingan politik sehat di Indonesia sudah tercerabut? Seperti Afrika yang rentan kudeta dan kekerasan? Seperti Taliban di Afganistan dengan aksi barbar? Atau malah kekerasan itu dipaksakan oleh kekuatan luar? Apapun akhirnya sang penyelamat kelak, pada akhirnya kembali kepada peribadi pesaing-pesaing itu. Jika pertanyaan diatas itu terlalu kasar, maka mari kita menjawab persoalan sang Sokrates, Anda yang duduk di lembaga kepemimpinan bangsa, bisakah menjadi elit yang baik?  Yang bisa memaknai kemerdekaan sebagai karunia terbesar dan memerdekakan Republik Indonesia tidak hanya sebatas membesarkan kavling kerajaan dan golongan? Sehingga, pelayaran Republik ini bukan lagi hanya sekedar pesta pora segelintir kepentingan? [BH]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x