Mohon tunggu...
Okti Nur Risanti
Okti Nur Risanti Mohon Tunggu... Deus est ergo sum

Menulis adalah salah satu upaya saya dalam memenuhi misi mandat budaya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Flawsome

23 Juli 2019   22:18 Diperbarui: 18 Agustus 2019   20:01 0 1 0 Mohon Tunggu...
Flawsome
Dokpri.

         
"Flawsome, (as the adjective suggests) is used to describe something that is awesome because of its flaws"    


Istilah ini pertama kali diungkapkan oleh Tyra Banks dalam acara American Next Top Model, yang biasanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang bersifat keren justru karena kekurangannya (flawsome adalah gabungan dari kata flaw: cacat; dan awesome: keren). Melalui istilah ini, Tyra ingin membangkitkan kepercayaan diri para wanita, untuk menyadari keunikan dirinya serta untuk tidak merasa minder dengan kekurangan yang dirasanya. Kekurangan kita bisa jadi adalah kelebihan kita, begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan Miss Banks saat itu.

Sebagai ilustrasi, jeans belel atau jeans sobek adalah contoh yang paling jelas untuk ungkapan ini. Justru karena tampilannya yang belel atau sobek itulah satu jeans dapat menjadi tampak keren atau unik jika digunakan. Ada banyak hal yang bisa disebut sebagai flawsome, dan bisa sangat bervariasi bentuk dan kondisinya di berbagai tempat atau situasi. Intinya, sesuatu yang umumnya menjadi kekurangan, bisa menjadi hal yang justru menumbuhkan kelebihan, keunikan, keindahan, atau menjadi nilai tambah pada pemilik atau subjek yang dikenainya.

Berbicara tentang flawsome, ada satu pribadi yang menurut saya sungguh tepat dikenai dengan atribut flawsome ini berdasarkan kisah dan kiprahnya. Dia adalah Fanny Crosby, seorang wanita buta yang kemungkinan menjadi penulis hymne (lagu rohani) terbanyak di sepanjang sejarah.

Fanny Crosby terlahir normal. Saat bayi, dia menderita infeksi mata dan dirawat oleh seorang dokter yang tidak cakap, yang mengolesi obat pada kelopak matanya yang memerah dan meradang. Sebagai akibatnya, Fanny harus menderita kebutaan seumur hidup. Beberapa bulan kemudian ayahnya meninggal, lalu ibunya yang masih berusia 21 tahun mendadak harus mencari nafkah sendiri sebagai pembantu rumah tangga. Fanny pun kemudian dirawat oleh neneknya, Eunice Crosby, yang menjadi mata bagi cucunya dan senantiasa memelihara kerohaniannya. Selain mendidik Fanny untuk mengembangkan kemampuan deskriptif Fanny, Eunice juga senantiasa membacakan dan menjelaskan Alkitab kepadanya. Yang menarik, saat Fanny tertekan karena tidak dapat belajar seperti anak-anak yang lainnya, neneknya mengajar dia untuk berdoa kepada Tuhan untuk diberi pengetahuan.

Singkatnya, Fanny kemudian berhasil meneruskan sekolah ke New York Institute for the Blind ketika berusia 12 tahun, dan kemudian menjadi pengajar di sana selama 23 tahun. Fanny juga handal dalam bermain harpa, cakap bermain piano, dan memiliki suara sopran yang bagus. Selama hidupnya, Fanny Crosby telah mengarang sekitar 8.000 hymne, yang sebagian besar di antaranya masih dinyanyikan sebagai lagu pujian di gereja seluruh dunia hari ini!

Yang mengagumkan bagi saya, dan mungkin bagi banyak orang lain yang mengetahui kisahnya, adalah ucapan Fanny tentang kebutaannya:

"Tampaknya ini adalah suatu anugerah Tuhan bahwa aku harus buta seumur hidup, dan aku berterimakasih untuk hal ini. Jika kesempurnaan penglihatan duniawi ini ditawarkan kepadaku besok, aku tidak akan menerimanya. Aku mungkin tidak akan bisa menyanyikan himne untuk memuji Tuhan, jika aku telah tertarik pada hal-hal yang indah yang menarik dalam diriku."

Kebutaan tidak dipandang Fanny sebagai kutuk atau kekurangan yang harus diratapi. Hidupnya pun tak menjadi terbatas karena kondisi yang bagi kebanyakan orang akan dianggap sebagai kecacatan atau kekurangan fisik yang besar. Sebaliknya, Fanny Crosby justru mensyukuri kondisi tersebut, yang dinyatakan dalam lagu-lagu pujian yang indah kepada Allah, yang menginspirasi banyak orang untuk juga memuji Allah. Kebutaannya justru merupakan anugerah yang menjadikan Fanny Crosby sebagai pribadi yang indah, yang memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi banyak orang.


Ironisnya, kita yang sempurna dan tidak memiliki cacat fisik atau penyakit sering kali justru menjadi pribadi-pribadi yang tidak pernah puas dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Kita selalu terobsesi untuk mencapai kesempurnaan, yang dalam prosesnya justru mengkerdilkan jiwa dan kepribadian kita. Media sosial semakin menjadi alasan atau tujuan bagi kita selalu tampak sempurna, perfect, happy, dan keren di hadapan para followers atau likers. Uang, kesempatan, dan waktu kita pun banyak terarah dan dihamburkan demi menampilkan kesan tersebut, dibanding digunakan untuk kebaikan dan pemanfaatan yang lebih besar.

Sempurna tetapi semu. Perfect yet false. Suatu kondisi yang berbanding terbalik dari flawsome, dalam refleksi yang lebih mendalam.
 
Apa gunanya kalau begitu, kesempurnaan yang tampak indah dalam pandangan, tetapi tidak memberikan manfaat, selain kesia-siaan di bawah matahari seperti dalam perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah?


Referensi:
1. _____. Flawsome Dalam https://www.urbandictionary.com/define.php?term=Flawsome
2. _____. Frances Jane van Alstyne (Fanny Crosby) Dalam http://biokristi.sabda.org/frances_jan_van_alystine_fanny_crosby