Mohon tunggu...
Cerpen

Malam Seru Seorang Pemandu Wisata

23 November 2018   23:45 Diperbarui: 24 November 2018   00:19 0 1 0 Mohon Tunggu...

Halo semua, kita bertemu lagi dengan aku, William, sang pemandu wisata yang sedang mencoba bisnis baru di wilayah timur Indonesia. Kali ini aku ingin menceritakan pengalamanku saat bertugas sebagai pemandu wisata. Ini adalah pertama kalinya aku bekerja sebagai pemandu wisata sehingga aku sangat bersemangat dalam tugasku kali ini. Aku  akan bertemu dengan berbagai orang baru yang belum aku kenal dan itu membuat diriku lebih semangat. Oh, membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan, tentunya ini akan berlangsung seru.

Hari yang ditunggu tiba. Aku memulai pekerjaan baruku ini. Dalam perjalanan kali ini, aku akan memandu tujuh orang, yaitu Fred (78 tahun), Anggi (21 tahun), Kanaya (19 tahun), Lukman (40 tahun), Prita (35 tahun), Kevin (8 tahun), dan supir kepercayaanku, Her, (50 tahun). Mereka semua orang yang menyenangkan.

Perjalanan kami dimulai. Kami menuju ke hutan konservasi yang berjarak kurang lebih 35 km dari penginapan di kota dengan minibus tua. Sepanjang perjalanan, Anggi terlihat sangat bersemangat mengambil foto setiap objek yang menurutnya menarik. Saat aku bertanya, aku mengetahui bahwa Anggi adalah seorang mahasiswa semester akhir di Jakarta dan ingin menghabiskan liburan kali ini dengan pergi menuju hutan konservasi di wilayah timur Indonesia. Tentu saja karena ingin memposting foto liburannya di Instagram, Anggi ingin memperoleh hasil foto yang terbaik. Anggi ditemani oleh Kanaya, adik tingkatnya di kampus yang sama.

Kemudian ada keluarga bahagia, Prita, Lukman, dan Kevin. Mereka ingin sesekali menikmati liburan yang berbeda dan diputuskanlah mereka ingin hiking di hutan konservasi. Lalu ada Fred. Ia  seorang ahli biologi  dari luar negeri dan sedang meneliti di hutan konservasi ini. Karena Fred adalah orang yang sering pergi menuju hutan, tidaklah heran perlengkapan yang dibawa adalah yang paling lengkap dibanding yang lainnya.

Setelah beberapa jam kami hiking di hutan konservasi, saatnya pulang. Sekitar pukul 5 sore, kami meninggalkan hutan konservasi. Minibus berjalan meninggalkan hutan konservasi menuju penginapan. Terlihat mereka sudah terlelap dalam tidurnya, menandakan bahwa mereka kelelahan setelah menjalani hari yang panjang.

Namun, sekitar setengah jam perjalanan, tiba-tiba terjadi masalah. Minibus yang kami tumpangi mogok. Ternyata terjadi gangguan mesin yang disinyalir disebabkan oleh bocornya air radiator sehingga mobil menjadi overheat. Oh tidak! Perjalanan hingga menuju penginapan masih berjarak 31 km lagi. Hmm, aku harus memutar otak bagaimana caranya agar mereka semua tidak panik. Aku melihat jam dan jam menunjukkan pukul 17.30. Duh, sudah mau malam, tentu hewan malam akan segera keluar untuk mencari mangsa. Mau diajak jalan kaki, sangat berbahaya karena jalan yang dilalui terdapat jurang dan masih sekitar 6 km untuk menuju perkampungan terdekat. Kembali berjalan kaki ke pondok di pintu hutan konservasi pun artinya sama dengan kembali masuk ke bagian hutan yang lebih gelap.

Tidak ada jalan lain, aku harus segera mencari bantuan. Dengan sisa baterai 27%, aku berdoa agar baterai ini dapat cukup hingga bantuan tiba. Aku mengontak teman-temanku yang berada didekat penginapan dan salah satunya menyanggupi. Dia bisa membawa langsung 4 orang dengan sedan, namun karena ada jalan rusak, perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 jam 15 menit. Ah, tidak apalah. Setidaknya ada yang mau menolong. Aku pun meminta dia untuk segera berangkat. Tak lupa juga aku meminta bantuan kepada penjaga di hutan konservasi. Beruntung penjaga disana bersedia menolong dengan sepeda motor. Dia bersedia untuk menjemput penumpang yang ada disini. Namun, dia juga memberitahu bahwa dia hanya bisa membawa satu orang sekali jalan dan setiap perjalanan bolak-baliknya memakan waktu 30 menit. Tidak apa, setidaknya orang-orang yang aku bawa selamat. Aku berterima kasih ke penjaga itu karena bersedia untuk menolong.

Sambil menunggu bantuan, aku berpikir bagaimana sebaiknya orang-orang ini dibawa. Saat sedang asik berpikir, tiba-tiba Fred terbangun dan meminta izin masuk ke hutan karena ingin buang air. Aku mengizinkannya. Entah bagaimana, tidak lama setelah Fred pergi, semua terbangun. Kanaya yang menyadari ada yang tidak beres langsung menangis. Ia terlihat sangat ketakutan. Kanaya mencoba mengusir rasa takutnya dengan menyalakan senter pada HP-nya. Namun ia semakin panik karena menyadari bahwa baterai HP-nya tinggal 10%. Lukman pun mencoba menenangkan semuanya bahwa mereka akan baik-baik saja. Karena baterai HP Lukman masih tersedia 70%, maka ia meminta Kanaya untuk mematikan HP-nya dan menggunakan HP-nya saja sebagai senter. Oh, sungguh baik dirimu, Lukman.

Anggi hanya diam saja karena kakinya terkilir akibat terlalu bersemangat melihat kuskus yang sedang duduk didepan sarangnya. Aku melihat Anggi sedang merekam ketegangan ini dengan kamera mirrorless-nya. Saat aku bertanya kepada Anggi, ia berkata bahwa momen ini tidak boleh ditinggalkan sehingga ia harus mengabadikannya. Berhubung baterai HP-nya sudah habis, ia pun merekamnya terlebih dahulu sebelum nantinya ia akan meng-upload video ini di chanel Youtubenya.

Saat sedang menunggu, tiba-tiba aku mendengar suara peluit. Awalnya aku bingung mengapa bisa tiba-tiba ada suara peluit, namun aku langsung menyadari bahwa itu adalah Fred. Ia pasti membunyikan peluit untuk memberikan tanda lokasi ia berada. Aku langsung menyalakan senter pada HP-ku dan mencari Fred. Untungnya, aku bisa dengan mudah menemukan Fred. Ia terlihat sangat lega karena sudah menyelesaikan "panggilan alamnya" itu.

Tidak lama setelah aku menjemput Fred, motor penjaga hutan konservasi tiba. Aku langsung menarik napas lega karena ini berarti bantuan akan mulai mengalir. Yang pertama, aku memulangkan Kanaya. Aku mempertimbangkan dia dibawa terlebih dahulu karena ia takut akan gelap.  Saat ini masih 17.45 dan masih ada sekitar 30 menit sebelum matahari tenggelam, sehingga lebih baik Kanaya dipulangkan terlebih dahulu.

Kanaya berangkat. Sambil menunggu bapak itu kembali, aku melihat Her bolak-balik membongkar muatan di bagian belakang minibusnya. Oh, aku melihat wajah menyesal Her. Tidak ingin membuat ia semakin menyesal, aku pun turun dan mengajak berbicara dengannya, meyakinkan agar dia tidak perlu menyesal. Aku pun memberikan dia bayaran lebih mengingat ia juga harus membiayai anaknya yang masih sekolah di kota. Untunglah aku bisa membuat pak Her sedikit lebih tenang.

Motor kembali. Orang kedua yang dibawa adalah Anggi. Tidak baik dengan kondisi kaki terkilir harus berlama-lama di hutan. Toh, ia sudah mempunya rekaman yang cukup banyak sehingga nantinya ia bisa membunuh waktu di pondok bersama Kanaya.

Kevin mulai ketakutan. Ia bersikeras tidak ingin melepaskan tangan kedua orangtuanya. Prita pun berusaha untuk menenangkan Kevin. Aku pun juga turut menenangkan mereka dengan meyakinkan bahwa bantuan akan segera tiba.

Sambil menunggu, aku mencoba mengajak orang-orang yang tersisa untuk mengobrol. Dari hasil obrolan, aku baru mengetahui bahwa Prita, Kevin, dan Lukman harus naik pesawat jam 7 pagi esok harinya, Aku awalnya sedikit panik, namun begitu teringat bahwa sedan yang dibawa oleh temanku itu akan membawa penumpang ke kota, aku menjadi lega. Setidaknya malam ini, mereka bertiga bisa kembali ke kota dan tidak perlu ketinggalan pesawat. Her juga akan aku minta naik ke sedan karena pertimbangan bahwa ia mempunyai riwayat penyakit jantung sehingga lebih baik jika ia bisa kembali ke kota secepatnya.

Motor kembali lagi dan akupun menyuruh Fred naik. Aku yakin Fred mampu menyesuaikan diri dengan baik sehingga aku percaya Fred akan selamat jika pergi sekarang.

Tidak lama, sedan pun datang. Prita, Kevin, Lukman, dan Her aku minta segera naik. Setelah berpamitan dengan keluarga Lukman karena aku tidak yakin bisa bertemu mereka lagi, aku mempersilahkan mereka pergi. Aku lega karena semua orang sudah dipulangkan dengan selamat. Minibus aku tinggalkan disini karena besok pagi aku akan carikan montir untuk memperbaiki minibus tersebut. Aku pergi menuju pondok dengan menggunakan motor pak penjaga hutan.

Keesokan paginya, kami yang berada di pondok pergi menuju penginapan. Aku memastikan semua orang yang aku bawa itu selamat. Aku bersyukur karena bisa menjalani peran sebagai pemandu wisata dengan baik dan tidak ada yang celaka. Sungguh pengalaman ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan aku lupakan.