Mohon tunggu...
Oktavia Wijaya
Oktavia Wijaya Mohon Tunggu... Freelancer - Content Writer

Travel Enthusiast🍃 □ 📝 www.aivatko.com □📷www.instagram.com/oktaav

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cerita dari Jakarta, (Definisi) Bahagia

12 November 2018   15:48 Diperbarui: 12 November 2018   16:32 397
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pasar malam kecil-kecilan di tengah megahnya ibu kota.  Begitu ramai. Makanan, pakaian, mainan, hiburan, tumpah ruah dalam satu tempat terbatas tetapi penuh tawa.

Aku berjalan, melewati tawa anak kecil yang sedang bermain menangkap ikan. Tak jauh dari sana, aku menangkap mata yang berbinar karena barang yang dia inginkan bisa ditawar lebih murah.

Suara pedagang yang semangat menjajakan dagangannya, tidak luput dari pendengaran. Aku berhenti di sebuah stand makanan, dimana anak kecil dengan sigap emmbantu ibunya berjualan.

Tangan-tangan kecilnya, memasukan otak-otak ke dalam minyak panas, menunggu beberapa menit, lalu meniriskannya. Tak lupa ia bertanya kepada pembeli, "Mbak, mau pake saos mayonaise? Pedes apa enggak?", dan dengan sigap menuangkan saos dan mayonaise sesuai dengan yang pembeli katakan. Tak lupa ia ucapkan terima kasih sembari memberikan pesanan pembeli.

Berjalan semakin jauh, tiba di sebuah kerumunan dengan suara musik yang cukup keras. Dua mahluk besar menari-nari diantara kerumunan orang-orang. Ternyata, itu ondel-ondel.

Ciri khas dari Jakarta ini, berputar-putar cepat, membuat kaget sebagaian orang yang lewat dan hampir tertabrak kostum besar itu.

Nampak kaki bersendal jepit menopang beban cukup berat tersebut, dan aku bertanya-tanya, sehebat apa kekuatan orang yang menopang beban seberat itu sambil menari-nari berputar di tempat yang cukup sempit? Tak lama, seorang laki-laki keluar dari kostum besar tersebut.

Aku kira akan bertemu dengan sosok bapak yang tinggi besar, ternyata seorang anak remaja yang baru saja keluar. Kepala dan badannya basah oleh keringat, ada handuk kecil di pundaknya. Handuk dekil itu, digunakannya untuk mengelap keringat di dahinya. Sambil tersenyum, dia membawa kostum besar itu ke pinggir, dan beristirahat bersama teman-temannya.

Saat berbalik, aku menemukan raut wajah bahagia dari seorang ibu yang sedang mengantar anaknya naik kereta keliling. Sebenarnya bukan kereta, hanya 3 rangkaian tempat duduk beroda yang ditarik oleh motor. Bapak pengemudi nampak meminggirkan motornya sambil menunggu penumpang naik. Aku melihat kebahagiaan disana, sederhana. Namun nikmat.

Ternyata Jakarta bukan hanya tentang kemacetan, panas, dan tak sesuram yang diceritakan. Untuk kesenangan dan kebahagiaan di kota besar ini.

Kesenangan mungkin bisa saja hanya milik orang-orang elite yang berlimpah harta dengan fasilitas mewah. Yang bisa jalan-jalan kesana kemari, beli ini itu, pergi dengan mobil tanpa panas dan debu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun