Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru (faujiyamin16@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

BBM Naik, Nelayan Terjepit

8 September 2022   07:00 Diperbarui: 8 September 2022   07:55 582 33 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Nelayan Pancing Tuna, di Kabupaten Kaur, Bengkulu saat baru bersandar di Desa Linau, Kecamatan Maje (KOMPAS.COM/FIRMANSYAH)

Terik mentari begitu menyengat. Namun nelayan, pedagang, petugas dan orang-orang yang ada di Pelabuhan Perikanan Panamboang, Kabupaten Halmahera Selatan nampak begitu biasa. Ini bukan perkara besar yang dikeluhkan. Dan, sudah sekian episode saya menyaksikan aktivitas mereka.

Dalam tiga bulan pencarian data, karena kepentingan ilmiah, sudah banyak nelayan yang saya wawancarai dan sudah banyak kapal yang saya naiki. Pun dengan pedagang, pengumpul, pemilik warung makan, petugas hingga pejabat berwenang.

Penelitian tentang nelayan tidak sekedar hasrat memenuhi kepentingan pribadi. Tidak sekedar berapa penghasilan yang katanya menggiurkan dan berapa ton yang dihasilkan. 

Di balik itu, tersimpan banyak persoalan-persoalan menarik yang luput dari pantauan. Jika tidak digali, tidak akan ditemukan titik pangkalnya. Tidak akan muncul. Salah satunya, BBM.

Yap, BBM. Naiknya harga BBM dua hari belakangan memunculkan kembali persoalan ini dalam ingatan. Tentang nelayan tangkap yang kesusahan menemukan salah satu faktor penting operasional ini.

BBM jenis solar sangat langkah, dikuasai beberapa orang saja. Dimainkan tak kentara, sementara BBM subsidi waktu itu tak menyentuh kapal dengan kapasitas di atas 16 GT. 

Tak ada BBM berarti tak melaut, dan itu sering terjadi. Kalaupun melaut, belum tentu bisa mendapatkan BBM. Kalau dapat, belum tentu murah dan banyak sesuai keinginan. Harus ada biaya lebih yang keluar.

***

Pelabuhan pendaratan ikan nampak mulai renggang, hanya tersisa tiga kapal yang masih berlabuh. Beberapa kapal sudah melepas tali bandar dan melaut sejak pukul tiga sore tadi. 

Melihat itu, saya putuskan mengunjungi kapal tersebut setelah melihat ada beberapa abk sedang duduk di anjungan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan