Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru (faujiyamin16@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Pilkada: Antara Corona, Money Politik, dan Politik Identitas

5 Desember 2020   06:18 Diperbarui: 6 Desember 2020   16:24 636
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebanyak 40 petugas KPPS di Pulau Taliabu dan 14 Jajaran Bawaslu Kota Ternate Reaktif. Itulah dua rilis berita yang saya baca hari ini.

Sebelum masa pencalonan kandidat, saya sudah sempat mengulas tentang potensi kluster baru pada tahapan pilkada (1). Dan, pada perjalanannya apa yang dikwatirkan terjadi. Betapa longgarnya proses tahapan demokrasi yang dilakukan para kandidat dan tim.

Dimulai dari proses pendaftaran, kampanye, hingga pembekalan saksi. Dan sebentar lagi tahap pencoblosan. 

Selama proses ini, saya menyaksikan baik dari rilis, live medsos dan postingan medsos banyak sekali kampanye terutama di Maluku Utara yang jauh dari kata menerapkan protokoler kesehatan.

Kerumunan warga pada kampanye nampak nyata. Protokoler kesehatan juga terabaikan. Bahkan di akhir kegiatan tak jarang ada joget-joget. Ya disini, pertemuan seperti ini pasti di tutup dengan joget bersama.

Malam ini saja, di Halmahera Utara (Halut) dalam sebuah postingan grup, simpatisan dari salah satu kandidat melakukan pawai keliling Halut. Padahal, kegiatan ini dilarang dan tidak masuk dalam mekanisme kampanye di masa Covid saat ini.

Banyaknya pelanggaran protokol bukan karena lemahnya pengawasan. Namun apa daya pengawas atau Panwas utamanya Panwascam hanya satu dua orang. Selain itu, membludaknya masyarakat karena kesedaran dari tim dan simpatisan begitu rendah.

Kesadaran menjadi salah satu faktor penting tapi terabaikan. Bentuk lemahnya kesadaran tersebut dapat dilihat dari cara manusia berperilaku dalam sosial. Bisa di kata ada lakon apatis yang ditunjukan. 

Selain itu, kepercayaan. Bentuk kepercayaan ini terbangun atas dasar kontradisksi tentang sebuah kondisi. Covid-19 yang saat ini terjadi adalah satu kondisi yang dianggap paling tabuh. Masih banyak masyarakat bahkan di Maluku Utara tidak mempercayai adanya virus ini. 

Dalam beberapa kesempatan, saya sering melakukan jejak pendapat atau eksperimen kecil. Diantara jawaban yang saya dapatkan ialah, Covid-19 hanyalah bentuk ketidakpastian dan kesengajaan. Pada keseimpulannya mereka tak percaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun