Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

"Maaf, Uangnya Saya Pakai Beli Saham"

27 Juli 2020   03:06 Diperbarui: 29 Juli 2020   22:52 1358 39 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Maaf, Uangnya Saya Pakai Beli Saham"
ilustrasi jual beli saham. (sumber: thinkstock via kompas.com)

Nikmatnya kopi lesehan di Taman Tugu Proklmasi malam ini menemani perbincangan saya dengan salah satu adik dari Maluku Utara. Ia kebetulan rindu berdiskusi dengan saya. Ditambah, kami sudah lama tak ketemu. 

Ia yang memutuskan kuliah di Jakarta, ngebet ingin bertemu. Dan, kebetulan saya sedang berada di Jakarta maka pertemuan itu terlaksana. 

Kami memilih ngopi di atas trotoar ketimbang memilih ngopi agak kelas disamping tempat duduk kami saat ini. Pilihan itu mendasar, toh dalam situasi Covid -19 saat ini, kami tak mau ikut menciptakan keramaian.

Dua gelas kopi disajikan ibu penjual di depan kami. Kopi yang ia sajikan hanya kopi sacshet di tuangi air panas dari termos. Kami memulai obrolan yang kebanyakan di isi oleh petuah-petuah dari saya tentang visi kedepan.

Belum lama kami mengobrol, kira-kira sejam. Telepon saya berdering. "Halo, di mana?" tanyanya.

"Di Tuprok bang," sahutku. Ia kaget. Sepengetahuan dia, saya sedang berada di Kota Bogor.

"Ke rumah sekarang, penting," perintahnya.

Saya pun mengiyakan ajakannya dengan hati berat. Padahal obrolan saya dengan adik saya, sudah menuju pembahasan jika dalam sebuah karya ilmiah.

Setelah berpamitan, saya kemudian menuju rumah nya di bilangan Matraman. Sesampainya di sana dan belum sempat melepas sepatu, orang yang mengajak saya kerumah langsung mengeluarkan kata-kata super.

"Semua gara-gara ngana (kamu)," semprotnya dihadapan saya yang kebengongan.

"Loh kok beta (Aku,saya)," sahutku. "Ia gara-gara kamu semuanya berantakan," Ia kemudian duduk dan mengambil sebuah rokok kretek. Saya diam, masih menerka-menerka kemarahannya

Setelah dibuatkan kopi, ia bilang, "kamu tau tidak, kawanmu itu menipu kita. Menghilangkan kepercayaan yang sudah hampir 3 tahun ini saya berikan." Kawan yang dia maksud ialah salah satu kolega dari kami berlima

Saya mulai paham akar tujuan ia memanggil saya kesini. Maklum, selama setahun terakhir saya tidak melibatkan diri sama sekali dalam bisnis yang kami rintis karena urusan akademik. Setahun yang lalu, saya membuat pakta, tak bisa di ganggu dalam urusan apapun baik bisnis maupun yang berhubungan dengan pekerjan.

Kemarahan keloga bisnis saya sangat beralasan. Apalagi, kami sedang berada dalam masa tenggang melakukan belanja bahan. Alhasil, semua planing menjadi kacau. Bisnis terancam gagal.

Semua kemarahan di luapakan para kolega. Si kawan bahkan di cari untuk mengganti modal tersebut dan menanyakan apa maksud dan tujuan ia menyelewengkan separuh anggaran penting tersebut.

Klarifikasi kami dapatkan esok sorenya. Setelah drama semalaman yang membuat kami tak rehat sekalipun. Alasannya, ia membeli saham

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x