ekki oddo
ekki oddo

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta. Gemar menulis dan diskusi Lintas Agama dan Budaya. #Menjadikan-Dunia-Satu-Keluarga

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hukuman Mati: Sebuah Kemunduran Moral?

12 September 2016   20:20 Diperbarui: 14 September 2016   08:22 18 2 3

Salah-satu kenyataan yang tidak dapat disangkal bahwa dari dalam dirinya, manusia memiliki dorongan untuk menghargai kehidupan. Penulis berkeyakinan, apapun agama, budaya, ras, etnis, ataupun warna kulitnya, tidak akan bisa menyangkal kenyataan ini. Kita menyadari bahwa kehidupan (nyawa) seseorang bernilai secara intrinsik. Artinya, kita tidak perlu mencari alasan eksternal kenapa kita harus menghargai kehidupan.

Selain itu, nyawa manusia tidak dapat diperlakukan seperti barang atau makhluk lain. Dalam arti lain, nyawa manusia memiliki kedudukan tertinggi di hadapan ciptaan lain. Kiranya, semua kita sependapat dengan hal ini. Implikasinya, kita tidak dapat menjadikan nyawa manusia sebagai obyek tetapi memanfaatkan alam ini secara bijaksana demi keberlangsungan kehidupan manusia.

Dalam uraian singkat ini, akan ditujukan beberapa fakta bahwa memang dari dalam dirinya, manusia memiliki kesadaran untuk menghargai kehidupan (nyawa) baik dirinya maupun orang lain. Kenyataan itu akan ditunjukan melalui sejarah kehidupan manusia terutama dalam melihat hak dan martabat seseorang. Walaupun melalui sebuah proses panjang tetapi setidaknya menunjukan betapa kuatnya dorongan untuk menghargai kehidupan.

Kita dapat melihat apakah kesadaran itu semakin meningkat atau malah menurun terutama penghormatan terhadap kehidupan manusia. Selain itu, penulis akan menunjukkan beberapa alasan mengapa kita harus menolak hukuman mati. Alasan-alasan itu sebenarnya diambil dari hukum itu sendiri selain dari alasan kesadaran moral terhadap kehidupan manusia.

Sejarah Perkembangan Hukum

Hamurabi merupakan salah-satu sistem hukum kuno dan menjadi “sumber” bagi sistem hukum Mesopotamia dan daerah Timur Tengah lainnya pada masa itu. Secara implisit, hukum Hamurabi memiliki jejaknya dalam Hukum Musa (Taurat).  

Secara singkat, hukuman Hamurabi dijatuhkan akan sama persis dengan perbuatannya. Misalnya, jika seorang telah mematahkan kaki sesama maka hal yang sama akan dilakukan padanya. Ada banyak bentuk dan kompleksitasnya. Namun, satu gagasan penting adalah jejak Hamurabi itu tidak diteruskan begitu saja khusus dalam Taurat, sejauh penulis memahami.

Artinya, muncul kesadaran akan martabat manusia. Dalam Hamurabi, “mematahkan kaki seseorang maka akan diperlakukan hal yang sama pada pelaku”. Sedangkan dalam Taurat, prakteknya tidak lagi demikian walaupun  masih menerapkan hukum rajam bagi seorang pezinah.

Selain itu, kedudukan  budak dan tuannya sama di hadapan hukum. Jika seorang mematahkan kaki budaknya maka orang itu mesti merawatnya atau bahkan mengangkat statusnya bukan lagi seorang budak”. Demikianpun halnya, dalam masyarakat umum, sanksi tidak lagi seperti sistem balas dendam. Hal penting yang mau ditujukan adalah bertumbuhnya kesadaran manusia akan martabat kehidupan yang tidak dapat diperlakukan sebagai “obyek”.

Uraian ini tentu tidak lengkap karena penulis hanya mengambil dari sudut pandang Taurat.  Penulis mengakui kekurangan itu. Tetapi sebagai sebuah kesadaran sebagai manusia kiranya hal yang sama terjadi dalam budaya lain. Hal ini kiranya terbukti melalui deklarasi HAM oleh PBB beberapa dekade lalu.

Dalam HAM, penerapan hukuman mati digolongkan sebagai bentuk hukuman yang kejam dan tidak manusiawi, di samping melanggar Pasal 3 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights).

Jaminan ini dipertegas pula dengan Pasal 6 ayat 1 dan Pasal 7 Kesepakatan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights-ICCPR) sekaligus dikuatkan lagi oleh Protokol Opsional  Kedua (Second optional Protocol) atas perjanjian Internasional mengenai hak-hak Sipil dan Politik tahun 1989 tentang Penghapusan Hukuman Mati.

Kenyataan ini menunjukan bahwa dorongan manusia untuk menghargai kehidupan (nyawa) manusia tidak perlu dipertanyakan lagi. PBB sebagai sebuah lembaga Internasional, di dalamnya mencakup berbagai budaya, etnis, agama, ataupun warna kulitnya. Artinya, PBB tidak hanya mewakili paham dari budaya, agama, ataupun  etnis tertentu tetapi merupakan sebuah kesadaran yang dimiliki manusia secara universal.

Pandangan dalam agama-agama

Kiranya, kita sepakat bahwa agama apapun memiliki paham yang sama terhadap kehidupan manusia terutama soal luhurnya kehidupan itu. Kehidupan adalah pemberian dari Yang Maha Kuasa sehingga manusia tidak memiliki hak untuk mencabut nyawanya ataupun orang lain. Penulis tertarik dengan beberapa ide kemanusiaan dalam beberapa agama berikut ini yang dapat mewakili agama-agama di Indonesia.

Dalam agama Hindu misalnya, Ahimsa. Ini merupakan suatu  ajaran yang menentang tindak kekerasan.  Selain itu, terdapat pemahaman bahwa jiwa seseorang tidak dapat dibunuh dan kematian hanya dibatasi pada kematian fisik. Tentu sangat jelas, hukuman mati akan ditolak karena menghalangi seorang untuk berkarya demi mencapai nirwana.

Demikian pun halnya dalam Budha. Harus diakui ajaran Budha tidak banyak bicara soal hukum dalam kaitannya hidup bersama karena ajarannya lebih sebagai sebuah jalan menuju “Budha”. Ajaran Sang Buddha  bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari kejahatan secara perorangan.

Kemudian, lebih dari pada itu, ajaran Sang Buddha bertujuan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penderitaan, baik di dunia ini maupun di alam lain. Maka dari pemahaman ini, hukuman mati berarti bertentangan dengan ajakan Sang Budha bagi setiap pengikutnya untuk menjadi Budha kelak. Selain itu, ajaran Budha sangat lekat dengan Cinta Kasih. Berarti pengampunan tanpa batas dan tanpa syarat sangat dijujung tinggi.

Dua agama besar lainnya; Islam dan Kristen (Protestan dan Katolik), kiranya memiliki pandangan yang sama dengan agama-agama sebelumnya. Sebagai agama abrahamik, yang memiliki paham monoteis, memahami kehidupan sebagai anugerah dari Allah. Manusia tidak memiliki hak  atas nyawa manusia karena itu merupakan pemberian dari Allah. Secara eksplisit, penulis tidak mengkaji seperti apa persisnya hukuman mati dalam Islam.

Keyakinan Islam,  Allah adalah Pencipta. Dengan demikian Allah saja yang memiliki hak atas nyawa manusia. Hal ini menyakinkan penulis untuk membuktikan ajaran Islam pro terhadap kehidupan (pro-life). Mengakui Allah sebagai pencipta berarti sekaligus mengakui bahwa hanya Dialah yang memiliki hak atas kehidupan (nyawa) manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2