Mohon tunggu...
Nia Febriana
Nia Febriana Mohon Tunggu... Mahasiswa - Cerpen - Cerbung - Review - Daily

hihihi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerbung Friendshit Episode 4 - Pendongeng

2 Juni 2022   11:25 Diperbarui: 2 Juni 2022   11:44 301
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://pixabay.com/id/photos/pada-suatu-ketika-penulis-pengarang-719174/

Apakah dongeng yang kubawakan tidak seru? Membosankan ya? Lalu, bagian mana yang luput dari dramatisasi? Menurut kalian, adegan saat aku hampir tertipu dengan taktik murahan itu apakah masih kurang realistis?

2014

Jarak rumah dan sekolahku kira-kira hanya tiga kilometer. Jarak yang terbilang cukup dekat jika ditempuh menggunakan kendaraan umum. 

Hari itu menjadi sejarah bagiku. Akan kuingat selalu adegan menegangkan yang tak pernah kuduga akan terjadi pada diriku. Tahu tidak? Aku pernah hampir... hampir... menjadi korban pencopetan di angkot. Seperti ini ceritanya.

Aku menaiki angkot dengan nomor yang biasa membawaku ke sekolah. Aku berangkat seorang diri. Di dalam angkot rupanya sudah ada dua murid perempuan yang hendak ke sekolahku juga. Nampak jelas dari logo sekolah di dada kiri seragam mereka. Keduanya duduk berhadapan di kursi paling pojok dekat kaca lebar angkot bagian belakang.

Aku memilih duduk dekat pintu, karena selain tempatnya strategis agar tidak kelamaan turun saat sampai di sekolah, aku juga bisa mendapatkan hembusan angin pagi yang amat segar. Sudah biasa aku menggendong tas besar nan berat yang isinya beragam. Mulai dari buku LKS, buku paket, buku tulis, botol air minum, bekal makan siang, kotak pensil yang menyimpan pulpen, pensil, penghapus, penggaris, gunting, selotip, stapler, lembaran note, dan tip ex. Banyak kan? Makanya, aku sering dipanggil fotocopy berjalan. Hehe. Oh iya, ada lagi! Payung lipat, jas hujan, tote bag, jaket, parfum, dan selembar roti untuk jaga-jaga.

Tidak lama setelah aku menaiki angkot, kendaraan itu berhenti untuk mengangkut penumpang. Seorang lelaki usia 30-an, berbadan kurus-tinggi, botak tiga senti, dan bola mata yang besar. Dia memintaku untuk bergeser. Aku turuti.

Sepuluh meter kemudian, angkot tersebut kembali menepi. Aku tidak berhasil menghitung berapa banyak bapak-bapak usia 40-an yang naik secara bergerombol. Satu hal pasti, mereka memenuhi body angkot hingga tiada celah sedikitpun di kursi penumpang. Sesak sekali, aku membuka kaca di belakangku. Namun, lelaki botak disampingku menoleh. Aku merasa tidak enak, mungkin dia terganggu.

"Kenapa mas?"

"Gak,"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun