Energi

Pemanasan Global Berubah Pendinginan Global?

8 Februari 2018   22:11 Diperbarui: 9 Februari 2018   05:51 1405 0 0
Pemanasan Global Berubah Pendinginan Global?
maxresdefault-5a7cd42bcbe5234e0c4f9694.jpg

            Global warming atau pemanasan global sudah sangat sering disebut-sebut oleh masyarakat Indonesia. Semakin hari bahasan pemanasan global semakin marak. Masyarakat pun mulai mencari sumber-sumber terkait pemanasan global yang akhir-akhir ini marak dan mulai meresahkan mereka. Kasus pemanasan global tidak baru saja muncul di permukaan tapi sudah beberapa tahun lalu, kasus ini sudah mulai menjadi perhatian khusus di kalangan masyarakat, pemerintah ataupun pemerhati lingkungan. Walaupun tingkat paham masyarakat dan komponen lain sudah ada tapi belum ada penganganan khusus ataupun upaya yang mereka lakukan minimlanya untuk mengurangi dampak dari global warming tersebut.

            Global warming atau pemanasan global adalah suatu proses naiknya temperature udara di bumi akibat adanya pembuangan hasil pembakaran bahan bakar fosil yang seringkali digunakan pada kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik produksi. Kejadian ini sering kali terjadi di daerah kota karena padatnta penduduk yang hamper semuanya menggunakan kendaraan bermotor untuk aktiitas kerjanya dan daerah-daerah industri yang memiliki cerobong asap sebagai pembuangan dar gas-gas sisa produksi. Gas-gas yang dapat menimbulkan pemanasan global ini adalah gas CO2 atau karbon dioksida. Gas ini akan lebih banyak dihasilkan ketika pembakaran yang terjadi adalah pembakaran yang tidak sempurna, atau bahan bakar fosil yang digunakan memiliki nilai oktan yang rendah. Gas-gas ini akan menaungi permukaan bumi dan menimbulkan efek rumah kaca. Lalu apa itu efek rumah kaca? Apakah rumah yang terbuat dari kaca seperti tempat-tempat penanaman bibit-bibit tanaman? Ya, seperti itu prinsip terjadinya sehingga mengapa dinamakan efek rumah kaca. Jadi efek rumah kaca adalah  keadaan dimana sinar matahari tidak dapat diteruskan kembali ke atmosfer luar karena adanya tutupan gas CO2yang menyelubungi bumi, semakin banyak gas CO2 maka akan semakin panas pula suhu bumi ini. Jadi inilah yang menjadi penyebab dirasakannya suhu yang semakin hari semakin panas.            Bila dilihat dari pantauan satelit, gambar atau citra yang dihaslkan dari sensor suhu permukaan akan terlihat merah. Apabila kita bandingkan gambar citra saat ini dengat citra beberapa decade lalu maka akan terlihat perbedaannya. Citra yang dihasilkan saat ini akan lebih banyak mengandung warna merah  jika dibanding dengan hasil citra beberapa decade lalu. Warna citra yang semakin merah ini menunjukan suhu permukan bumi yang semain panas dari tahun ke tahun. Daerah sebarannya pun juga dapat dilihat, bagian bumi mana yang memiliki suhu yang tinggi. Itu lah salah satu bukti adanya proses pemanasan global di bumi ini.

            Pemanasan global ini bukanlah yang dianggap remeh. Pemansan global semakin hari semakin menjadi pehatian khusus di segala kalangan. Dampak dari pemanasan ini biss sangat luar biasa. Bahkan sekarang pun sudah mulai dirasakan oleh penduduk di bumi. Penduduk bumi merasakan suhu di bumi semakin panas, hal ini akan sangat terasa ketika berada di wilayah ekuator, Indonesia misalnya. Kenaikan suhu akan sangat dirasakan terlebih oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar yang padat dengan kendaraan bermotor dan asap polusinya.

            Dampak pemanasan global dimulai dari peningkatan suhu dan berdampak lanjut pada es yang ada di bumi. Karena suhu bumi yang semakin naik maka es di kutub pun mulai mencair. Hal ini sangat sulit dihindari. Ketika satu masalah muncul maka masalah lain pun akan satu persatu muncul. Karena ada pencaran es di kutub maka volume air laut meningkat dan tinggi permukaan laut juga meningkat. Ini bisa menyebabkan daratan lama kelamaan akan tenggelan karena adanya pencairan es di kutub. Keseimbangan ekosistem di daerah kutub pun juga pasti akan hilang.

 Dimana terdapat biotik dan abiotic disana yang hidup saling berinteraksi dan bergantung. Contohnya, beruang kutub akan kehilangan habitat aslinya karena adanya pemanasan global. Beruang kutub memiliki karakteristik sendiri dalam habitat hidupnya yatu bias hidup dalam daerah iklim dingin. Jika habitatnya hilang maka perlahan beruang kutub ini akan mati dan akan punah.

            Dampak yang menjadi perhatian para ahli meteorogi adalah adanya perubahan iklim atau climate change. Dimana mulai terjadi perubahan secara perlahan dari iklim-iklim yang sewajarnya. Contoh yang terjadi di Indonesia yaitu akibat adanya pemanasan global, terjadi perubahan jumlah curah hujan pada suatu daerah. Pada satu daerah bisa memiliki curah hujan tinggi sehingga bisa menyebabkan banjir dan tanah longsor, sementara di daerah lain terjadi curah hujan yang sangat rendah sengga menimbulkan kekeringan. Hal semacam inilah yang menjadi perhatian para ahli meteorologi.

            Lalu, pernahkah mendengar isu pendinginan global? Isu ini sudah banyak dimuat dalam sumber-sumber bacaan. Isu ini muncul dari penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dengan prediksinya bahwa pemanasan global akan berhenti dan berubah menjadi pendinginan global. Prediksi ini didasarkan pada kejadian-kejadian sebelumnya dimana bumi pernah mengalami siklus pendinginan akibat matahari yang juga mendingin, peristiwa ini terjadi setiap 200-250 tahun sekali yang memang sudah pernah terjadi pada tahun 1650-1850. 

Para ilmuwan memprediksi hal tersebut akan kembali terjadi ada tahun 2030 dan 2040. Pusat penelitian di negara Jerman GFZ menemukan bukti langsung pendinginan terjadi secara signifikan yang disebabkan oleh adanya "cahaya matahari minimum" dan tentunya berlawanan dengan pemanasan global serta memicu pembentukan zaman es di Danau Meerfelder Maar, Jerman. Pendinginan matahari sebelumnya menyebabkan banyak sungai di inggris yang membeku di zaman itu. Pendinginin ini berdampak pada suhu bumi yang mengalami penurunan suhu secara significant di atmosfer serta secara menyeluruh suhu di bumi akan mengalami pendinginin mendadak beberapa derajat.

            Disisi lain "Sebenarnya pemanasan global telah berhenti dan pendinginan dimulai. Tidak ada model iklim yang meramalkan pendinginan bumi - justru sebaliknya. Dan ini berarti bahwa proyeksi iklim di masa depan tidak dapat diandalkan, " tulis Henrik Svensmark. Henrik Svensmark, Profesor, Universitas Teknik Denmark, Kopenhagen. Hasilnya mungkin bahwa Matahari sendiri akan menunjukkan pentingnya iklim dan tantangan teori pemanasan global. 

Tidak ada model iklim yang meramalkan pendinginan bumi, justru sebaliknya. Dan ini berarti bahwa proyeksi iklim di masa depan tidak dapat diandalkan. Sebuah ramalan mengatakan mungkin hangat atau lebih dingin selama 50 tahun tidak terlalu berguna, dan sains belum bisa memprediksi aktivitas matahari. Jadi, pendinginan global dibantah dalam hal ini karena tidak ada penelitian lebih lanjut mengenai pendinginan matahari. 

Kalaupun pendinginan itu didasarkan pada kejadian yang lampau, hal tersebut bisa saja bukanlah siklus yang terjadi kontinu. Masa depan memang sangat menarik. Jika dilihat dari prosesnya saat ini maka bumi akan memanas setiap saat, tapi hal itu juga belum tentu bisa menjadi patokan. Akankah teori gas rumah kaca akan tetap berlaku bagi kehidupan seterusnya atau akan ada hukum lain yang berlaku.