Mohon tunggu...
Oase Kirana Bintang
Oase Kirana Bintang Mohon Tunggu... Pewarta Budaya Nusantara

Instagram, Youtube, Soundcloud, Twitter: oakirbin

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Batik Peranakan dan Kebhinekaan Arsitektur di Kota Santri Pekalongan

14 April 2021   23:50 Diperbarui: 15 April 2021   16:03 89 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Batik Peranakan dan Kebhinekaan Arsitektur di Kota Santri Pekalongan
Batik motif Tok Wi di Museum Batik Pekalongan (Sumber: Dok. Pribadi)

Semua berawal saat ku melihat Batik motif Tok Wi di Museum Batik Pekalongan. Batik Peranakan yang kutemui menyadarkan pandanganku saat mengelilingi jalan. Bangunan bersejarah di kawasan budaya Jetayu Pekalongan selalu jadi destinasi saat sedang pulang kampung. Jika ku ingin ke pantai dan perpustakaan daerah pasti melewati jalan ini.

Belajar membatik di Museum Batik Pekalongan (Sumber: Dok. Pribadi)
Belajar membatik di Museum Batik Pekalongan (Sumber: Dok. Pribadi)

Atap satu Klenteng yang terlihat etnik dari kejauhan selalu mencuri perhatianku. Ternyata ku bukan hanya melintasi Gereja dan Kampung Arab saja, ada juga kawasan Pecinan. Tak hanya itu, saat ku melihat stupa di satu gedung, keberadaan beberapa Vihara baru kusadari. Semua lokasi tempat ibadah yang ku lihat terletak dalam jarak yang cukup berdekatan.

Atap Klenteng Po An Thian (Sumber: posjateng.id/)
Atap Klenteng Po An Thian (Sumber: posjateng.id/)

Bagi kebanyakan orang, Pekalongan adalah surganya batik. Bagiku yang sedari kecil rutin pulang kampung ke Desa Kedungwuni, melihat segala pemandangan yang ada di sana sepertinya lebih cocok julukan Kota Santri yang pas. Anak laki-laki hingga dewasa mayoritas menggunakan busana sarung dalam kegiatan sehari-harinya. Para Mbakyu pun menggunakan hijab walau ada juga minoritas yang tak berpakaian tertutup. Aku menjadi salah satu minoritas tersebut saat berada di sana. Maksudnya, penampilanku terlihat sangat berbeda dibanding mayoritas yang ada di sekitar. Aku muslim yang tak berbusana seperti mereka. Biarpun begitu, tak ada yang mengomentari penampilanku atau merasa terganggu.

Saat pertama kali ku mengunjungi Museum Batik Pekalongan, terlihat ada sebuah jembatan bersejarah yang namanya Jembatan Loji. Di dekat jalan itu bangunan besar bernuansa putih dengan halamannya yang luas mengalihkan pandangankanku. Gereja Katolik St. Petrus pilarnya terlihat menjulang tinggi.

Gereja Katolik St. Petrus Pekalongan (Sumber: facebook.com/SantoPetrusPekalongan/)
Gereja Katolik St. Petrus Pekalongan (Sumber: facebook.com/SantoPetrusPekalongan/)

Klenteng Po An Thian yang berada tepat di belakang Gereja Santo Petrus paling membuatku penasaran. Klenteng ini adalah tempat ibadah Tri Dharma (Buddha, Khonghucu, Tao). Saking seringnya ku melewati Klenteng ini, ku bertanya pada saudaraku tentang tradisi yang biasa dilakukan. Ternyata, walaupun mayoritas penduduk di kota santri ini muslim, saat hari raya umat Tri Dharma, semua masyarakat yang ada di sekitar saling berbahagia. Umat Tri Dharma di sana biasa merayakan Cap Go Meh saat Imlek, ketika acara berlangsung jalanan akan ramai dengan pawai dan masyarakat sekitar yang menonton. Kirab budaya dari Klenteng Po An Thian ini mampu menyatukan berbagai etnis dan agama, perbedaan budaya tak menjadikan sekat apalagi mengundang konflik.

Pawai Cap Go Meh di Klenteng Po An Thian  (Sumber: jateng.garudacitizen.com/)
Pawai Cap Go Meh di Klenteng Po An Thian  (Sumber: jateng.garudacitizen.com/)

Begitu melintasi Kampung Arab, ku baru sadar kalau batik peranakan yang ada di sana bukan hanya Tionghoa. Keberadaan masyarakat keturunan Arab yang ada menjadi bukti sejarah bahwa begitu ramainya akulturasi yang tercipta di Pekalongan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN