Mohon tunggu...
Novita Sari
Novita Sari Mohon Tunggu... Mahasiswa

Penulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Kucing Abang

23 November 2019   15:09 Diperbarui: 25 November 2019   17:33 0 12 4 Mohon Tunggu...
Cerpen | Kucing Abang
sumber: pinterest.com/skay_lowe55

Setiap hari kami sekeluarga merayakan kesedihan yang sama. Ini tentang kepergian abang. Tidak, dia tidak meninggal, tidak juga pergi merantau. Abang hanya pergi sementara waktu. Dan di rumah ini, bagiku abang masih tetap hadir.

Kadang-kadang aku melihat abang duduk bersender di dekat dinding kamarnya sambil menyalakan cigaret dan melihat kearahku dengan tatapan kosong. Kadang juga aku melihatnya tertidur pulas di dalam kamar depan. Sejurus kemudian, ia sudah tidak ada lagi. Ingatanku berkelindan tentang ini.

Emak lain lagi, kadang-kadang aku menyaksikan ia menonton TV sambil membenamkan mukanya pada bantal. Padahal televisi sedang menayangkan reality show yang lucu.

Aku paham, sejak abang tiada emak dan bapak harus memutar otak mengatur pengeluaran belanja rumah kami. Padahal dulu sewaktu abang masih ada, semua perbelanjaan rumah ini ditanggung oleh abang.

Tak perlu kuceritakan bagaimana kondisi bapak saat ini, kau akan langsung tau. Bapak hanya mondar-mandir berjalan keliling desa sambil sesekali bertanya pada orang yang ia jumpai tentang anak laki-lakinya itu. tentu saja, warga tidak ada yang tau!

Mungkin hanya Gudik, kucing kesayangan abang yang tak kulihat banyak berubah. Kucing jantan dengan warna kuning, putih dan abu itu masih tetap gemuk seperti biasa.

Hanya kebiasaannya pada abang yang berpindah padaku. Saat aku baru melangkah masuk ke rumah ini, kucing itu akan datang mengusap-usapkan badannya pada kakiku. Menatap penuh iba, mengeong, bahkan sengaja menggelendot di atas perutku saat aku berbaring. Awalnya aku tak aneh, tapi lama kelamaan aku merasa ganjil pada kucing ini.

Gudik adalah kucing jantan keluarga kami yang selamat saat ibu dan saudara-saudaranya yang lain mati dan hilang entah kemana, pernah waktu itu bapak bercerita tentang kucing-kucing kami yang mati dan hilang. Sambil menyuap nasi panas yang diguyur dengan kuah gulai kuning bapak berkata dengan serius.

"Kucing kita Lentong dibawa maling" ucap bapak.

Aku dan emak berpandangan, heran dengan apa yang sedang dibicarakan bapak. Lagipula mana ada orang yang mau maling kucing kampung macam Lentong. Ia hanya kucing betina biasa dengan dua warna, hitam dan kecoklatan.

Aku dan emak diam saja mendengar kelanjutan cerita bapak yang terdengar sangat aneh. Waktu itu abang tak ikut makan siang karena harus mengantar pesanan hari itu juga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x