Erny Kusuma
Erny Kusuma Wiraswasta

Penikmat indahnya wisata alam Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Regional

Rumah Baca di Awan

14 Februari 2018   13:36 Diperbarui: 24 Februari 2018   17:47 220 1 1
Rumah Baca di Awan
Semangat belajar meski fasilitas minim (Foto: Rumah Baca di Awan)7

Sekilas Rumah Baca Di Awan, Singosari

Menyusuri pematang sawah yang hijau dengan  bertelanjang kaki. Mereka berbaris tak beraturan, bersendau gurau ala anak-anak belum belasan tahun. Meloncat ke kiri dan ke kanan, berteriak juga saling panggil nama. Ramai dan tentu saja riuh.

Itulah sedikit gambaran anak-anak yang mengikuti pembelajaran di Rumah Baca Di Awan. Dengan fasilitas apa adanya mereka bersuka cita, begitu giat mengikuti proses belajar, baik di kelas mau maupun di luar kelas. Seperti pagi itu di Sabtu yang cerah, barisan anak-anak tak berseragam tampak semangat berbaur dengan alam, sawah dan sungai.

Adalah Rumah Baca Di Awan, sebuah tempat belajar dan bermain bagi anak-anak yang berlokasi di dusun Sumberawan Rt 03 Rw 03 Toyomarto, Singosari, Malang. Berdiri sejak tahun 2016 yang digagas dan didirikan oleh sepasang suami istri Bambang Setyo dan Ruth Wahyuning. Dengan menyulap ruang tamu di rumahnya yang tak begitu luas, anak-anak bersemangat mengikuti proses belajar.

Rumah Baca ini, kata Bambang, bertujuan mendidik anak-anak untuk lebih memahami calistung. Selain itu untuk membimbing karakter anak didalam pertumbuhannya, agar kelak menjadi generasi yang mumpuni, baik  bagi diri maupun lingkungannya.

Wujud nyata dari Rumah Baca Di Awan ini yakni melakukan kegiatan berupa les belajar mandiri. Kegiatan ini berlangsung setiap hari Senin-Jum'at dari pkl 11.00-14.30. Sedangkan hari sabtu digelar kegiatan "Sabtu Ceria", dimana menurut Bambang, akan dikenalkan  nilai-nilai positif dan karakter yang benar melalui game, cerita dongeng dan nonton film bersama. Juga menggali kreativitas anak dengan mengandalkan pengalamannya selama mengajar di PAUD.

Bambang dan Ruth berusaha memenuhi semua kebutuhan Rumah Baca Di Awan. Mereka bekerja tanpa pamrih dan tanpa digaji. Tentang dana operasional, Bambang menjelaskan, diperoleh dari pekerjaan yang saat ini mereka rintis melalui usaha laundry, craft flanel juga membuat mainan dari limbah.

Hingga sekarang tercatat 40 anak yang kerap berkunjung dan mengikuti proses belajar di Rumah Baca Di Awan. " Kami membutuhkan biaya operasional setiap hari dan berusaha untuk memenuhinya", ucapnya dengan semangat.

Ruth Wahyuning mengaku, ada beberapa komunitas independent yang selama ini membantu kegiatan mereka. Diantaranya dengan memberikan bantuan berupa buku layak baca anak, alat-alat tulis, meja lipat, tikar,baju, tas, sepatu dll...

Rumah Baca Di Awan yang dikelola hampir 3 tahun ini, lanjut Bambang, masih jauh dari kata sempurna. Bapak dari 2 orang anak ini mengatakan, mereka masih membutuhkan dukungan dari warga Malang dan sekitarnya. Untuk memenuhi  fasilitas yang saat ini masih terbilang apa adanya ini, Bambang berharap ada pihak terkait yang bersedia membantu dan memperhatikan rumah bacanya. Semua ini agar proses belajar dan tujuan Rumah Baca Di Awan berjalan lancar. Semoga...