Mohon tunggu...
Nuzul Ilmiawan
Nuzul Ilmiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saat ini tengah menjalani studi S1 Sastra Indonesia di Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireun, 19 Oktober 2001. Bercita-cita menjadi wartawan musik selepas membaca buku Nice Boys Don't Write Rock N Roll oleh Nuran Wibisono. Kalau bisa sih jadi musisi ya. Tapi, yah bener kalau bisa sih jadi musisi. lol.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Roni dan Pertanyaan Terakhirnya

25 Juli 2021   18:44 Diperbarui: 25 Juli 2021   18:54 687 5 0 Mohon Tunggu...

Saya ingin menceritakan tentang orang itu, orang yang namanya berulang kali disebutkan beberapa jam yang lalu di mesjid. Roni namanya. Ia tidak terlalu populer di kampung, karena memang ia pendatang baru dan ia pun jarang ikut nimbrung di pos ronda pas lagi ramai-ramainya, jarang meramaikan gotong royong, apalagi ke mesjid. Jadi kabar kematiannya tidak menimbulkan duka yang berlarut-larut. 

Bahkan orang-orang pada bertanya-tanya: "Roni siapa?" saking tidak banyaknya orang yang mengenal dia. Tetapi aku tahu Roni, dan mungkin hanya aku satu-satunya orang di muka bumi ini yang paling akrab dengannya. Ia seorang pemuda yang terlalu banyak bertanya. Tuhan, kitab suci, surga, neraka, dan lain sebagainya. Ia sering membagikan sesuatu yang didapat dari buku yang dibacanya kepada saya.

Keseharian Roni sederhana, pagi-pagi sekali ia masih tertidur. Suara azan yang masuk melalui jendela di kamarnya yang sering kali terbuka tidak mengganggu waktu tidurnya. Sekitar pukul tujuh, baru ia terbangun dan terlihat berangkat kerja, lalu pulang sore harinya. 

Di waktu malam tibalah kami sering menghabiskan waktu bersama. Saya ingat betul kali pertama saya berjumpa dengan dia. Waktu itu pukul 12 malam. Saya tengah berjaga di pos ronda. Dari kejauhan saya mendengar jejak kaki, dan tampak wajahnya disinari lampu jalanan, menembus kegelapan malam.

Awalnya saya tidak mengenal siapa Roni, sampai ketika ia pertama kali mengucapkan namanya dan menjabat tangan saya. Suara itu, suara serak-serak ketika ia melontarkan namanya, keluar seakan-akan menampakkan sifatnya yang seorang rendah diri dan baik tabiatnya. Benar, Roni adalah orang yang baik, hanya saja pemikirannya yang liar sedikit mengganggu saya.

Jadi dia di malam itu bercerita tentang dirinya. Seorang yang sebatang kara, tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, oleh sebab itu ia merasa hidup ini tidak adil baginya. Saya pun turut bersedih, bahkan kaget ketika mendengar bahwa ibunya menjadi gila dan mati karena menggorok lehernya sendiri ketika suaminya memutuskan untuk kawin lagi dan meninggalkan mereka. Itu ketika ia berumur tujuh belas tahun. 

Dan setelah kejadian itu, ia harus mencari uang sendiri dengan menjadi pengrajin gesper. Hingga datang seorang manajer bank yang baik hati, menjadikan Roni sebagai karyawannya setelah berhasil membantunya mendapatkan kembali dompet yang dicuri pencopet kala itu di pasar, tempat Roni biasa membuka lapaknya.

"Saya turut bersedih, memang terkadang hidup ini tidak adil,"

"Sudah tidak usah begitu, saya juga sekarang sudah mendingan," ia tersenyum, menepuk punggung saya, "sudah punya pekerjaan, rumah, tapi ada satu yang saya belum punya,"

"Apa itu?"

"Istri."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x