Mohon tunggu...
Nuzul Ilmiawan
Nuzul Ilmiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saat ini tengah menjalani studi S1 Sastra Indonesia di Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireun, 19 Oktober 2001. Bercita-cita menjadi wartawan musik selepas membaca buku Nice Boys Don't Write Rock N Roll oleh Nuran Wibisono. Kalau bisa sih jadi musisi ya. Tapi, yah bener kalau bisa sih jadi musisi. lol.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sandal Jamal Hilang

11 Juli 2021   20:02 Diperbarui: 11 Juli 2021   20:20 107 3 0 Mohon Tunggu...

Dua hari ini, wajah Jamal tampak gelisah gundah gulana. Ia selalu tampak murung bila berjalan Bagaimana tidak, sandal yang baru dibeli Jamal mahal-mahal tiba-tiba hilang entah kemana ketika ia baru saja pulang jumatan untuk pertama kalinya. Iya, pertama kalinya. Entah dari mana datang hidayah itu, hingga membuat Jamal berkeinginan untuk jumatan. Padahal sebelum-sebelumnya, ia tak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke mesjid itu. Ada-ada saja Jamal.

Kini banyak kebiasaan baru Jamal sehabis pulang kerja, mencari sandalnya yang hilang entah kemana.  Juga karena sandalnya hilang, Jamal jadi lebih sering bersosialisasi dengan warga Kampung Peletuk, yang mana Jamal hanya muncul sesekali saja. Mungkin karena Jamal sibuk dengan kerjanya, pikir mereka.  

Warga kampung sebenarnya tidak benci kepada Jamal, karena ia orangnya suka bergurau. Namun, ada satu sifat Jamal yang membuat warga kampung sedikit kesal; biasanya di tengah-tengah ia berbicara, tak jarang Jamal memamerkan sesuatu kepada orang-orang, baik itu sesuatu dari dirinya, ataupun pasangannya yang cantik. Tetapi warga memandang hal itu dari segi positif, mereka menganggap itu hanya bagian dari gurauan Jamal saja, dan sekarang mereka sadar, ternyata Jamal memang begitu orangnya. Suka pamer. Jamal juga tak peduli akan topik pembicaraannya, ia langsung saja ceplas-ceplos. Pernah sekali waktu Jamal membicarakan seputar masalah rumah tangga, orang-orang sesekali tertawa mendengarnya bercerita, tetapi tiada yang menengok, bahwa Karsiman, ayah anak tiga yang ikut nimbrung dalam pembicaraan itu sedari tadi tampak murung mendengar cerita yang disampaikan oleh Jamal, karena begitu persis dengan kehidupannya. Jamal juga orangnya malas mendengar, sekali ada orang yang bercerita langsung dipotong atau disahutnya. Atau Jamal melontarkan sebuah candaan yang berkaitan dengan pembicaraan orang itu, yang membuat orang yang tengah berbicara merasa kesal.

Jamal oh Jamal, agaknya dengan menghilang sandal barunya itu, membuat Jamal jadi lebih mengenal warga sekampung seperti apa. Jamal saja terkejut, kala mendengar sebuah perbincangan ketika ia tengah mencari sandalnya di depan kedai Pak Haji Muslim. Kabarnya bahwa, Pak Haji Muslim sudah punya sembilan anak, yang mana Jamal hanya tahu beliau cuma punya dua anak sebelumnya. Banyak hikmah lain yang bisa diambil oleh Jamal dalam kesialan yang menimpanya itu, salah satunya ia tidak perlu lagi buang-buang waktu, bersusah-payah untuk memamerkan sandalnya yang mahal itu kepada orang-orang.

"Nah lihat, bagaimana sandal baru saya? Cantik, kan! Ya pasti cantiklah, Mahal belinya!" ujar Jamal ketika memamerkan sandalnya di hadapan Pak Kasim, ketua RT, dan dua orang tetangganya.

Mereka hanya manggut-manggut dan tersenyum simpul. Tetapi yang Jamal tidak tahu, mereka sebenarnya hanya berpura-pura memujinya. Nyatanya di belakang Jamal, mereka malah mencemooh sifat Jamal yang suka memamerkan sandal barunya kepada orang-orang. Kini malahan, tak jarang sandal Jamal yang hilang dijadikan bahan lelucon oleh warga sekampung. Yang mana membuat warga merasa puas, mampu membalas kesombongan Jamal.

"Cantik sekali sandalmu Jamal, sederhana tapi elegan!" ujar Kadir seraya terkekeh-kekeh ketika melihat Jamal sedang celingak-celinguk keliling kampung dengan sepasang sandal swallow yang baru ia beli di warung..

Jamal hanya tertunduk murung, mulutnya terbungkam. Kasihan Jamal. Padahal sandal itu baru seumur jagung di kakinya. Jamal tidak menyangka secepat itu ia harus berpisah dengan sandal kesayangannya itu. Sandal yang begitu ia idam-idamkan kala itu, ketika ia sedang berkeliling mal seorang diri, kini hilang dalam sekejap mata.

Jamal membeli sandal itu satu minggu yang lalu, selepas ia pulang bekerja di hari jumat. Jamal menyempatkan diri untuk singgah sejenak ke mal yang berdekatan dengan kantornya. Mumpung besok libur, rencananya ia hanya sekedar cuci mata saja sambil menghibur diri melepas penat setelah satu minggu bekerja keras, ditambah dua malam lembur akibat banyaknya klien Jamal yang meminta ia untuk merevisi rancangannya. Juga sekalian, di hari itu ia mau mencari-cari gelas cantik untuk kekasihnya, Jenny sebagai hadiah di hari ulang tahunnya.

Setelah ia berkeliling berjam-jam dan akhirnya mendapatkan gelas yang cocok untuk Jenny, ia pun beranjak pulang. Melewati beraneka ragam toko yang menjual banyak macam-macam barang seperti sepatu, perhiasan, ponsel, dan juga jimat. Tiba-tiba terhenti langkahnya di salah satu toko sepatu dan sandal yang dilaluinya tatkala matanya tak sengaja tertuju pada sandal kulit yang dipajang di depan toko. Ia coba mendekat, melihat sandal itu lebih detil. Benar saja, dalam sekejap, Jamal langsung jatuh hati. Karena memang designnya elegan dan barangnya pun nyaman bila dipakai. Tetapi, sempat ia urungkan niatnya membeli sandal itu tatkala melihat label harganya itu seketika membuat kepala Jamal pusing dan ingin muntah, Rp 899.000. Itu sama saja satu per empat gaji Jamal tiap bulan. Jamal bimbang bukan main, berdenyut-denyut urat nadi di kepalanya. Hingga sempat ia menaruh kembali sandal impiannya itu ke tempat semula sebelum akhirnya seorang pelayan perempuan datang melayani Jamal dengan hangat.

"Ada yang bisa saya bantu, Mas?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN