Mohon tunggu...
Nur Wilna
Nur Wilna Mohon Tunggu...

Nur wilna

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Peran Farmasi di Era Revolusi Indsutri 4.0

7 April 2019   13:21 Diperbarui: 7 April 2019   13:33 592 0 1 Mohon Tunggu...

Farmasi berasal dari kata pharmacon yang artinya obat. Beberapa sumber juga menganggap bahwa kata ini dapat berarti racun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, farmasi adalah cara, metode, atau teknologi dalam pembuatan obat mengenai cara menyediakan, menyimpan, dan menyalurkannya.

Ilmu farmasi pertama kali dikembangkan di beberapa Kawasan Yunani kuno, negara-negara Timur-Tengah, beberapa negara Asia kecil, sebagian besar wilayah Cina, danjuga wilayah Asia lainnya. Pada saat itu ilmu farmasi dipelajari sebagai dasar bagi profesi khusus di zaman itu yang disebut sebagai tabib di wilayah Timur-Tengah, sedangkan untuk daerah Yunani biasa disebut sebagai pendeta.

Ilmu farmasi adalah salah satu bidang studi yang penting. Bidang ini biasanya diajarkan pada tingkat universitas atau pada sekolah menengah kejuruan tertentu. Untuk mempelajari dan mengkaji ilmu tersebut, ada beberapa ilmu dasar yang harus dikuasai dengan baik, antara lain adalah ilmu kimia, matematika, fisika, dan biologi.

Pada praktiknya pun dibutuhkan ketelitian yang sangat tinggi untuk belajar mengaplikasikan ilmu yang sudah di pelajari pada berbagai kasus. Seorang yang bergelut di bidang ini akan belajar untuk meracik obat dan membuat formula dari berbagai senyawa kimia. Tak hanya itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan analisis kadar senyawa, kandungan senyawa obat, modifikasi precursor obat, serta pengaturan dosis obat menjadi focus utama dalam kajian ilmu farmasi

Dalam perkembangannya, ilmu farmasi semakin dianggap penting baik pada dunia medis, industri, maupun kemasyarakatan. Farmasi juga memegang peran penting sebagai salah satu prasyarat dalam merahi profesi apoteker, baik di Rumah sakit maupun di apotek umum.

Sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan, segala aspek dan pengetahuan yang dikaji dalam ilmu farmasi ada yang bersifat dinamis. Hal ini berarti ilmu farmasi juga akan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang lain, sehingga sifatnya sementara. Tak hanya itu, perubahan pada teknologi digital dan kemajuan industry juga menjadi faktor yang membuat ilmu farmasi itu dependen terhadap era berlakunya. Sebagai contoh, ilmu farmasi yang dulu diajarkan dan disebarluaskan tentu saja memiliki beberapa bagian yang tumpeng tindih dengan perkembangan IPTEK saat ini, aspek-aspek tersebut akan digantikan oleh hal-hal yang baru dan dianggap lebih maju atau mendukung pada masa sekarang.

Dengan memasuki Industri 4.0, maka segala ilmu yang ada akan ikut berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi digital terbaru yang akan dihadapi. Hal tersebut tentu juga berlaku pada bidang farmasi yang memang sangatlah dinamis. Farmasi akan menjadi salah satu bidang ilmu pengetahuan yang turut serta memainkan peran penting di lapangan dalam beberapa tahun ke depan. Salah satu pihak yang akan ikut memberi kontribusi besar yaitu pelajar yang menekuni bidang farmasi di berbagai daerah di Indonesia, baik pada tingkat universitas dan sederajat atau pada tingkat sekolah menengah kejuruan dan sederajat yang khusus memberikan peluang bagi pihak yang ingin bergerak di bidang farmasi.

Pada era Industri 4.0 ini, aspek yang menjadi fokus utama untuk dikembangkan adalah pembuatan dan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent) atau yang biasa disebut AI dalam membantu menangani dan menyelesaikan pekerjaan manusia. Kecerdasan buatan yang dikembangkan pada era ini telah sampai pada tahap yang dapat memberi perubahan besar-besaran dalam waktu yang singkat. Salah satu contoh dari penggunaan teknologi kecerdasan buatan ini adalah bagaimana sebuah robot memiliki kemampuan untuk mempelajari berbagai kasus dan memilih penyelesaian yang berbeda-beda. Bentuk penyelesaian yang berbeda-beda itu akan diingat dan dipelajari oleh sistem yang telah tertanam dalam pengaturan koding tersebut.

Sekilas dengan berkembangnya kecerdasan buatan pada era Industi 4.0 ini mungkin tidak akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap pengkajian ilmu farmasi, namun jika kita kaitkan lebih dalam lagi maka kita akan menyadari bahwa adanya kecerdasan buatan tersebut akan memberi ruang pada orang-orang yang bergerak dengan profesi apoteker. Seorang apoteker dapat memanfaatkannya untuk membuat pekerjaan yang lebih mudah seperti adanya suatu sistem yang bisa menyimpan senyawa kimia tertentu dan memperkirakan waktu batas penggunaannya.

Selain itu, dengan adanya kecerdasan buatan maka seorang apoteker dapat lebih mudah dalam menganalisis dan mengatur kadar suatu senyawa sesuai dengan keinginan. Hal tersebut mungkin dapat dilakukan sejak ilmu farmasi pertama kali berkembang, namun dengan keberadaan sistem kecerdasan buatan maka hal tersebut akan memberikan tingkat keakuratan dan ketelitian yang sangat tinggi bahkan tak mungkin dicapai oleh manusia.

Adanya kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh berbagai pihak baik pemerintah ataupun Lembaga swasta tertentu memang memengaruhi jalannya pelaksanaan profesi apoteker. Tak hanya itu, karena ilmu farmasi ini tidak hanya digunakan oleh apoteker maka tentu saja pengaruh-pengaruh yang ada juga dirasakan oleh beberapa pihak tertentu, misalnya pada profesi di bidang farmasi industry, konsultan perusahaan obat, dan beberapa profesi tertentu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN