Mohon tunggu...
Mas Uung
Mas Uung Mohon Tunggu...

Orang biasa yang setia pada proses. Tinggal di www.istimewacreative.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

"Banda, The Dark Forgotten Trail": Film Dokumenter Naik Kelas?

17 Agustus 2017   13:25 Diperbarui: 18 Agustus 2017   13:41 0 0 0 Mohon Tunggu...
"Banda, The Dark Forgotten Trail": Film Dokumenter Naik Kelas?
Foto: http://hiburan.metrotvnews.com

Sejak melihat pemberitaan di media tentang munculnya film dokumenter "Banda" di arena film komersial, saya sudah menduga, pasti ada yang istimewa. Dan dugaan saya tidak meleset rupanya, Film Banda menjadi terobosan (breaktrough) di dalam kancah dunia film komersial. Sebuah genrefilm yang dulunya mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh publik, atau bahkan oleh masyarakat perfilman, sekarang telah mampu menjebol tembok dunia film komersial.

Sebenarnya sejak tahun 2011 ketika saya mencermati dan mulai belajar film dokumenter, sudah menjadi pertanyaan dalam hati, sederhana; apakah film dokumenter bisa masuk gedung bioskop? Ketika itu ada teman yang sedang menggarap film dokumenter dan dikemas sedikit naratif. Meski masih nampak seperti tempelan, tapi dari sini muncul pemikiran saya bahwa film dokumenter mempunyai potensi untuk masuk di gedung bioskop. Dan ternyata benar, film dokumenter Banda menjadi jawaban dari pertanyaan fikiran saya itu. 

Untuk mencermati film ini lebih dalam, perlu kiranya menggunakan beberapa perspektif dan 'pisau' analisis, sebagai berikut:

1. Dunia Film Komersial

Saya akui keberanian Sheila Timoty (Lifelike Pictures) sebagai produser bersama M. Abduh Aziz (Co-Produser) yang sudah malang melintang dalam dunia film dokumenter  untuk menggarap film ini dengan orientasi masuk di kancah dunia film komersial. Bagaimanapun dia harus menanggung konsekuensi-konsekuensi. Karena secara kalkulasi ekonomi, sebuah film dokumenter yang disiapkan untuk menembus kancah film komersial, apalagi baru pertama kali, ini menjadi tantangan yang cukup berat. Minimal harus ada hal yang berbeda dari film dokumenter biasa. Harus ada nilai 'istimewa' dan menarik, minimal menurut kacamata perusahaan penayangnya, sekaligus menarik pula untuk penonton. Karena inilah faktor yang akan mempunyai efek ekonomi (baca: menguntungkan secara finansial) dalam dunia film komersial. Dan sangat beruntung, film Banda mendapatkan respons positif di dunia film komersial. Meski ini bisa dianggap nilai gambling-nya masih cukup tinggi. Karena dunia film komersial sangat berhitung dalam frameorientasi ekonomi. Apakah film ini menarik untuk publik? Faktor apa yang menarik dalam film ini? Sejauh mana film ini bisa mendatangkan penonton? Strategi promosi apa yang dilakukan? Sejauh mana promosi yang dilakukan? dan Siapa pemain dan yang menggarap di belakang film ini? Minimal ini pertanyaan yang mesti harus dijawab oleh Produser Film Banda. Dan akhirnya, pintu gedung bioskop pun 'dibuka' untuk film ini. Sebuah keberuntungan dan sekaligus peluang untuk mengembangkan lebih dahsyat lagi dalam menggarap film-film dokumenter di masa yang akan datang. Namun bagi perusahaan penayang film (bioskop), saya kira masih merasa was-was, karena unsur gamblingmasih melekat, sambil gencar untuk promosi.

2. Riset

Seperti dalam tulisan saya terdahulu tentang pentingnya riset dalam sebuah film, apalagi film dokumenter, saya yakin film Banda (Banda Neira) ini telah dicermati dengan sebuah riset yang cukup. Dalam konteks ini Tugas M. Irfan Ramli sebagai penulis (beserta tim risetnya) menurut saya sangatlah berat. Dia harus mencermati konten naskah, mencari literatur dan referensi sebanyak-banyaknya, melakukan observasi lapangan dan harus menemukan kebenaran historis, kemudian merangkumnya menjadi narasi yang menarik, sekaligus  berimaginasi visual yang akan ditampilkan, tentu bersama dengan Jay Subyakto sebagai Sutradara dan DOP (Director Of Photography)-nya. 

Sangat beruntung mereka menemukan Usman Thalib dan W. Manuhutu peneliti dan penulis buku tentang Banda. Minimal bisa membuka jalan untuk menguak referensi-referensi tentang Banda. Beruntung pula banyak tokoh-tokoh kemedekaan kita (Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri) yang dibuang dan sempat menjadi saksi sejarah kondisi dan situasi Banda pada jaman sebelum kemerdekaan melalui catatan-catatannya dan buku-buku sejarah yang ada. Di samping itu peran orang Banda sendiri dalam menggali referensi tentang Banda sangatlah penting, dan itu mereka dapatkan 10 orang saksi sejarah dari berbagai latar belakang. 

Dalam satu referensi sejarah disebutkan, bahwa di Banda-lah awal mula terjadi penjajahan, perbudakan dan kolonialisasi. Dan itu bermula dari perebutan Pulau Banda sebagai penghasil Pala oleh Belanda dan Inggris (1652-1654). Buah Pala sebagai rempah-rempah dan sekaligus bahan obat-obatan sangat dimaklumi menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa, apalagi saat itu di Eropa sedang terjadi wabah Pes. Harga Pala saat itu bisa mencapai 10 kali lipat harganya, dan melebihi harga emas! Maka munculnya Buah Pala sebagai salah satu iconvisual dalam film ini menjadi penting, dan tepat. 

Tidak hanya masalah literatur dan fakta historis an-sichyang harus digali dan ditampilkan dalam film ini oleh tim risetnya, nilai-nilai dan pesan moralnya pun dimunculkan di film dokumenter ini. Banda Neira sebagai pulau penghasil Pala yang baik dan kaya, tentu menjadi tujuan bisnis dari bangsa-bangsa lain untuk hidup di sana, dan melahirkan keragaman budaya, tradisi, ras dan agama tentunya. Inilah yang menginspirasi Sutan Syahrir dalam merumuskan dasar-dasar kehidupan Bangsa Indonesia menjelang kemerdekaan. Sehingga pesan moral dan nilai-nilai tentang keragaman budaya, toleransi dan kerukunan antar suku, golongan dan agama menjadi unsur penting & vital untuk di tampilkan.

3. Sinematografi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x