Mohon tunggu...
Nowie Shahabiyah
Nowie Shahabiyah Mohon Tunggu... Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Singaperbangsa Karawang

Si sanguinis yang sering dibilang absurd. Aku tukang rebahan yang berharap bisa memberikan perubahan untuk Negara.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Perempuan Pertama "Al-Aqsa"

21 September 2020   11:01 Diperbarui: 21 September 2020   11:13 47 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perempuan Pertama "Al-Aqsa"
unsplash.com

Ialah Maryam binti Imran, seorang perempuan yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an. Satu satunya perempuan yang bisa memasuki Al-Quds yang saat itu hanya boleh dimasuki oleh kaum laki-laki saja. Kelahirannya ditengah budaya patriarki yang kuat menjadikan Maryam dianggap sebagai aib bagi masyarakat sekitar. Pada zamannya, melahirkan seorang putri adalah hal yang memalukan. 

Kemanusiaan perempuan hanyalah sebatas objek kebutuhan dalam memuaskan nafsu biologis laki-laki.Ibunya, Hannah binti Fakhud adalah sosok perempuan dengan kesabaran yang sangat luar biasa manakala Allah menjadikan ia sebagai perempuan yang tak kunjung memiliki keturunan. Tak ada keputusasaan pada diri Hannah akan harapan memiliki anak meskipun sampai usia tua, hingga akhirnya Allah hadirkan Maryam untuk mengisi kesepiannya.

Sesuai nadzar ibunya, Maryam tumbuh sebagai pelayan tuhan di dalam Baitul Quds. Suatu area yang sangat suci bagi masyarakat sekitar, dan hanya boleh dimasuki oleh laki-laki. Sosok Maryam yang kuat tercermin pada kemampuannya bertahan hidup di dalam baitul Quds dengan pekerjaan kasar seperti mengangkat kendi, mengisi air, membersihkan baitul quds, menyiapkan makan dan kebutuhan para pendeta.

Menjadi yatim piatu di usia 6 tahun menjadikan Maryam memiliki keikhlasan dan ketegaran hati yang begitu mengakar di dalam jiwanya dalam menjalankan setiap hari demi hari kehidupan dengan ibadah. Pagi harinya ia gunakan untuk berpuasa, dan bertasbih pada malam hari sampai datang waktu pagi lagi. Tak pernah Maryam tinggalkan mihrabnya kecuali hanya untuk bekerja dan berhajat ke kamar mandi.

Egosentris laki-laki penghuni Baitul Quds memuncak sejakkehadiran Maryam sebagai satu-satunya perempuan yang menjadi pelayan dirumah Tuhan. Tak sedikit perlakuan kasar dan merendahkan yang diterima Maryam selama hidup di dalam Baitul Quds. Ketidak adilan yang ia terima sebatas karena ia terlahir sebagai seorang perempuan. Kaum perempuan dilemahkan dan dianggap mustahil mampu mengerjakan pekerjaan mereka dengan alasan lemah secara fisik dan mental sesuai kodratnya.

Ditengah budaya jahiliyyah yang identic dengan system patriarki yang mengikat dalam setiap tatanan social masyarakat timur tengah, Maryam membuktikan bahwa dirinya mampu menuntaskan pekerjaan yang dianggap hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki.

Sebagaimana tersebut dalam sejarah bahwa pada zaman pra-Islam, orang Arab merasa malu jika istrinya melahirkan seorang anak perempuan. Hal ini dianggap sebagai aib terbesar bagi keluarga. Oleh karena itu, bayi perempuan yang baru lahir langsung dikubur hidup-hidup. Hal ini digambarkan Al Quran dalam Qs. At-Takwir : 8-9, yang artinya :"Apabila bayi perempuan dikubur hidup-hidup bertanya, karena dosa apakah ia di bunuh?,"

Begitulah Maryam. Teramat haru kisahnya dalam berjuang membuktikan bahwa perempuan berhak akan kesetaraan dalam hal beribadah. Perempuan pertama yang mampu menduduki dan hidup dalam Al-Aqsa sebagai pelayan Tuhan.

VIDEO PILIHAN