Mohon tunggu...
Nurulloh
Nurulloh Mohon Tunggu... Building Kompasiana

Ordinary Citizen

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Dependency Theory And Indonesia

26 Juni 2009   04:00 Diperbarui: 26 Juni 2015   20:01 6962 0 0 Mohon Tunggu...

Teori dependensi (Dependency Theory) telah berkembang di tempat asalnya yaitu Amerika Latin, sejak awal 1950-an. Teori ini muncul dengan tujuan untuk membuat studi hubungan intenasional relavan dengan manusia masa kini. Teori dependensi adalah sebuah teori yang menggambarkan suatu hubungan antara negara maju atau negara industri dengan negara miskin atau negara dunia ketiga. Argumen dasar dalam teori ini adalah bahwa negara-negara miskin ada bukan karena mereka tidak mampu untuk mengembangkan sistem ekonomi kapitalis ataupun kemampuan mereka dalam berintegrasi dalam sistem kapitalis dunia. Bahkan dapat dikatakan bahwa masalah ini ada bukan karena hanya ada sedikit kapitalisme namun masalah ini ada karena terlalu banyak kapitalisme.

Para pakar teori ini berasal dari gabungan antara Economics Comission on Latin America (ECLA) dan United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD). Mereka memikirkan dan terus bertanya mengapa negara-negara di kawasan Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga lainnya tidak berkembang dengan semestinya seperti yang telah direncanakan.

Para penulis modern mencoba menjawab atas pertanyaan itu, mereka berpendapat kenapa negara-negara dunia ketiga sulit untuk berkembang dan menerapkan sistem liberal kapitalis, karena nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat tradisional yang menjadi hambatan bagi sebuah kemajuan bangsa ke arah modernisasi. Selain itu banyak juga pihak-pihak yang mempunyai pandangan berbeda akan hal ini.

Singkatnya, bahwa teori dependensi ini adalah penetrasi asing dan ketergantungan eksternal yang menyebabkan timbulnya distorsi besar-besaran dalam struktur ekonomi suatu negara yang pada akhirnya nmenimbulkan konflik sosial dan mendorong timbulnya penindasan negara yang kuat terhadap negara yang lemah.

Penetrasi ekonomi ini bisa melalui finansial maupun teknologi, namun dalam perkembangan ekonomi tahap awal, cara yang paling umum yaitu melalui FDI (Foreign Direct Investment) dan MNC (Multinational Coorporation) yang membuka atau menginvestasikan saham nya pada negara-negara berkembang dan negara dunia ketiga. Dengan masuknya FDI dan MNC pada suatu negara secara otomatis transfer teknologi pun terjadi berdampingan dengan aliran finansial. Penetrasi politik dan budaya pun dapat terjadi, melalui program televisi, buku, majalah, dan film. Hal ini masuk dalam kategori "westernisasi".

Di Indonesia sendiri teori dependensi ini sudah ada sejak jaman Orde Baru (Orba), saat itu ditandai dengan adanya penetrasi finansial, teknologi dan penetrasi poltik serta budaya. Melalui penetrasi finansial, teori dependesi masuk dengan liberalisasi sektor ekonomi yang ditandai dengan masuknya FDI dan MNC yang mulai beroperasi di Indonesia dan penetrasi politik serta budaya juga telah dimasuki oleh budaya asing khususnya budaya barat, baik itu melalui film, gaya hidup, bahan bacaan dan lain-lain.

Sedangkan melalui penetrasi teknologi dependensi masuk lewat transfer teknologi ke pihak Indonesia, baik itu dalam perusahaan maupun lembaga-lembaga. contohnya yaitu masalah Mobil Nasional Indonesia, hal ini dijadikan contoh klasik mengenai kemandirian dan ketergantungan Indonesia terhadap negara asing yang sudah maju yang juga merupakan contoh kuatnya pengaruh kapitalisme dunia yang banyak terdapat pada negara dunia ketiga seperti Indonesia. Melalui PT. timor Putra Nusantara, Indonesia mendatangkan sedan-sedan buatan KIA Motors, Korea, yang kemudian dijadikan sebagai merek/brand Timor. Timor bisa dipasarkan dengan harga yang relatif lebih murah dibanding kendaraan merek lain dikelasnya, karena dibebaskan dari bea masuk sebagaimana yang dikenakan pada produk-produk impor lainnya termasuk berbagai komponen kendaraan yang dirakit di Indonesia.

Contoh lain yang paling mencolok yaitu pada perusahaan minyak Indonesia, yang rela melepaskan kewenangannya mengolah dalam pengeboran minyak sendiri yang di alihkan kepada hak asing untuk mengekspolorasi kekayaan Inodnesia. bangsa ini hanya mendapatkan keuntungan yang jauh dibanding jika mengolahnya sendiri.

Hal itu dijadikan betapa ketergantungannya Indonesia kepada negara-negara maju terutama dalam hal finansial yang ditandai dengan masuknya FDI dan MNC yang justru memiliki kekuasaan lebih besar dibanding Indonesia selaku pemilik "tanah" serta tranfer teknologi yang di berikan pihak asing. Sebenarnya liberalisasi ekonomi akan berjalan sekehendak bangsa ini jika bangsa ini dapat mengolahnya dengan benar, bukannya keberpihakan pemerintah terhadap pihak asing yang berinvestasi di Indonesia. Dependensi atau ketergantungan Indonesia terhadap negara maju tak bisa dielakkan begitu saja, hal ini perlu mereformasi sistem dan kebijakan pemerintah pada sektor ekonomi dan sektor lainnya sehingga ketergantungan Indonesia terhadapa negara-negara maju dapat diminimalisir dan hasil dari liberalisasi dapat dirasakan pula oleh masyarakatnya yang masih dalam "kerangkeng" kemiskinan.

*Referensi: "Mochtar Mas'oed, Ilmu Hubungan Internasional" dan "Paul R. Viotti & Mark V. Kauppi, International Relation Theory"

NuruL

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x