Mohon tunggu...
Cerpen Pilihan

Kisah Luar Biasa Ketika Hujan

19 Maret 2017   23:00 Diperbarui: 19 Maret 2017   23:19 889 4 0 Mohon Tunggu...

Langit berkabut dan cahaya mentari mulai redup. Sendu sekali terasa langit di siang ini. Sesendu peristiwa-peristiwa yang berlalu-lalang dalam kehidupanku. Ketika langit tersenyum demikian, kiranya semua peristiwa itu berbalik dalam ingatanku. Terutama kini aku sedang berjalan kaki di tempat yang sama dengan kejadian bertahun-tahun lalu itu, di tengah keramaian kota metropolitan dan bisingnya deretan kendaraan.

Ya, di sanalah kejadian itu. Ketika hujan turun dengan derasnya, kecelakaan itu terjadi. Ibu yang mengejarku ketika berlari saat menyeberang, ditabrak oleh sebuah mobil. Sebuah tabrak lari dan sebuah keberuntungan bahwa nyawa Ibu masih bisa terselamatkan. Namun, hal itu jugalah yang membuat penyakit yang telah lama diderita Ibu terungkap.

Ibu mengidap kanker otak. Entah sudah berapa lama Ibu memendam penyakit itu sendirian sehingga penyakitnya sudah sangat parah. Tentu saja sebagai seorang gadis kecil yang masih berusia 13 tahun, aku hanya bisa menangis saat mengetahui hal tersebut. Namun, para kerabatku berkata bahwa akulah “sang Pahlawan” karena penyakit Ibu bisa diketahui setelah kecelakaan yang disebabkan olehku. Sesungguhnya, aku tak pernah berhenti menyalahkan diriku. “Mengapa aku bisa disebut sebagai pahlawan?” gumamku dalam hati.

Hingga akhirnya kejadian malam itu. Ketika genangan air belum surut akibat hujan tadi sore. Di atas sebuah ranjang di salah satu kamar di sebuah rumah sakit, tubuh Ibu terbaring lemah. Ibu menyuruhku untuk tidur di sampingnya. “Shintya, maafkan Ibu yang tidak bisa membelikan boneka itu karena ekonomi keluarga kita yang buruk sepeninggal Ayah. Maafkan Ibu yang membuatmu lari dari rumah. Maafkan Ibu juga yang berteriak marah padamu di taman itu hingga kamu menyeberang jalan tanpa melihat-lihat. Besok, mari kita pergi bersama untuk membeli boneka itu,” Ibu berkata lemah, nyaris berbisik. Aku hanya mengangguk  senang dan tertidur pulas di pelukan Ibu malam itu.

Keesokan harinya, ketika hujan turun dan membawa sebuah kabar. Kabar bahwa orang yang kucintai telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Ttitik-titik air jatuh bercucuran dari langit kelam, bersamaan dengan jatuhnya cucuran dendam mataku yang menumpahkan segala kepedihan ini. Hujan benar-benar telah memberitakan rencana Tuhan.

***

Aku masih berjalan di atas trotoar, di tengah-tengah keramaian dan kebisingan dari kendaraan yang berlalu-lalang di sampingku.  Lamunanku buyar saat aku hampir terjatuh karena tersandung batu. Supir metromini yang sedang menepi di dekat trotoar itu kemudian menegurku,”Jangan melamun, nak.” Aku hanya tersenyum pada supir yang rambutnya sudah agak beruban itu. Jangan melamun? Rasanya aku pernah mendengar kata-kata itu dari seseorang. Aku mencoba mengingatnya. Kepalaku kini kutengadahkan ke langit abu-abu. Langit benar-benar tersenyum sendu dan aku berhasil mengingat kembali memori lama itu.

                                                                                                                                                               ***                                                                                                                                                                                        

Pada suatu siang yang mendung, ketika aku baru saja pulang kuliah. Aku berjalan kaki pulang menuju tempat kos yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer. Melelahkan namun cukup menyenangkan berjalan kaki dari kampus ke rumah kosku,  sebab aku bisa singgah sebentar di taman kota itu. Taman kota yang tidak terlalu luas, namun sangat indah dan dipenuhi dengan bunga-bunga. Rumput hijau menutupi seluruh taman itu, kecuali bagian jalan kecil yang tertutupi oleh semen. Di tengah taman terdapat sebuah kolam ikan. Di sisi kanan dan kirinya terdapat arena permainan anak-anak, seperti ayunan dan papan jungkat-jungkit. Sementara itu di taman tersebut terdapat beberapa tempat duduk berbentuk kursi besi panjang yang muat untuk diduduki oleh sekitar 4 orang dewasa. Hal yang paling kusukai di taman kota ini adalah duduk di salah satu payung berbentuk jamur raksasa yang ada disana. Payung itu terletak tepat di tengah-tengah sebuah meja bulat yang terbuat dari semen. Sementara itu di sekeliling meja itu terdapat tempat duduk yang juga terbuat dari semen.

Siang ini taman kota itu terlihat ramai. Banyak pengunjung yang datang sekedar untuk melepas lelahnya. Ada yang sendirian, pasangan muda-mudi ataupun anak-anak kecil dan juga orang tua mereka yang sedang mengawasi. Di samping itu, terdapat beberapa pedagang yang berjualan berbagai macam makanan dan minuman. Ada yang menjual bakso, es dawet, es kelapa muda, gorengan dan sebagainya.

Aku mempercepat langkah kakiku saat teringat bahwa aku lupa membawa payung. Namun, tiba-tiba saja hujan turun saat aku melintasi taman kota dan melihat semua keramaian itu. Aku berlari masuk ke dalam taman menuju salah satu payung besar yang berbentuk jamur untuk berteduh. Keramaian orang yang sedang bersantai di taman tersebut siang ini langsung buyar dan mereka berlarian untuk berteduh di bawah payung-payung raksasa itu, ataupun segera pergi meninggalkan taman. Sementara itu para pedagang terlihat menutupkan terpal pada barang dagangannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x