Mohon tunggu...
dodo sang
dodo sang Mohon Tunggu... pekerjaanku mencintaiMu

Takut menjadi bagian hidup di antara lainnya

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Semangat Sudah, Bermain Baik Sudah, Kurang Apa Timnas PSSI?

19 November 2019   22:06 Diperbarui: 19 November 2019   22:03 0 10 3 Mohon Tunggu...
Semangat Sudah, Bermain Baik Sudah, Kurang Apa Timnas PSSI?
Ilustrasi : Liputan6.com

.

Laga gengsi ,  kira-kira dilabelkan pada pertandingan antara Timnas PSSI dan Kesebelasan Malaysia. Bagi Tim Malaysia mungkin masih membuka asa untuk menuju babak berikutnya, namun bagi Indonesia pertandingan kali ini hanyalah suatu taruhan prestise. Suatu bentuk kehormatan untuk memenangi pertandingan yang lebih dari 90an kali  pertemuan antara kedua tim.

Tentunya harapan itu ada pada diri pelatih Yeyen Tumena mantan pemain Timnas berposisi sebagai defender berusia 43 tahun. Ia menggantikan Simon yang prestasinya  tidak pernah memengkan tim merah putih pada kualifikasi grup, yang berarti tim merah putih  hanya mendapatkan nilai nol. Suatu raihan yang sulit dipercaya. Sangat riskan sebenarnya mengganti pelatih pada pertengahan turnamen. Bukan menyepelekan pelatih pengganti, namun dari pengalaman sebelumnya timnas yang ditangani Milla di tengah perjalanan diganti oleh pelatih Bima Sakti sang asisten. Dan hasilnya? Kita semua tahu timnas babak belur

Dan ini kali coach  Yeyen harus membuktikan jika pilhan pada dirinya adalah tepat dengan mengingat pada pertemuan sebelumnya antara timnas PSSI dan Malaysia dipecundangi 2-3, lebih menyesakkan kekalahan itu di depan mata penggila tanah air. Kalau dibuat pikiran negatif pasti akan berkata, "Di depan publik saja dipecundangi, apalagi di negeri lawan?" bisa bergol-gol nantinya.

Tidaklah elok mengatakan pertandingan akan mudah,  semua pertandingan membutuhkan tenaga dan keringat yang mengucur deras. Dan terbukti pemain malaysia yang bernafsu ingin menembus pertahanan tidak mudah bahkan pada menit ke duapuluh pemain Indonesia Febri Haryadi tinggal berhadapan dengan kiper lawan, namun tidak ada gol.  Karena merasa dapat angin peraminan Indonesia agak terbuka akibatnya pelanggaran di depan penalti Timnas.   Pada menit ke-30 tendangan bebas dilakukan Safawi dan jadilah petaka itu, gol.  Kemenangan untuk tim tuan rumah. 1-0.

Setelah gol yang terjadi itu, pemain Indonesia tidak menjadi drop bahkan patut diacungi jempol serangan Indonesia bisa membuat kemelut di daerah penalti tim Malaysia. 

Hanya kemelut itu saja belum bisa menjadi gol penyeimbang. Mungkin belum nasib baik bagi tim Idonesia. Pada sisa menit menuju babak pertama berakhir permainan masih dikuasai oleh tim Malaysia. Sedangkan tim Indonesia hanya memanfaatkan serangan balik. Sampai juga waktu jeda, Timnas masih dipecundangi.

Siapa pun penonton Indonesia yang menyaksikan pertandingan ini pasti menginginkan Tim kita menang. Apalagi dengan negara tetangga yang sangat panas persaingan di segala urusan, tidak terkecuali di dunia sepak bola, bahkan ada jargon boleh kalah dengan semua negara tetapi tidak oleh  malaysia. Begitu sengitnya pertandingan kali ini, namun terlihat masih dalam koridor sportivitas.

Pemilihan pemain oleh Yeyen sangat tampak, meninggalkan Lilipaly dan Beto. Lebih memilih Greg sebagai tipe petarung meskipun babak kedua harus diganti oleh Saha. Dan tipe-tipe pekerja lebih banyak dijadikan starter, semacam pemain febry,  Riky Fajrin. Tipe pekerja juga baik namun kecerdasan pemainlah yang sangat diutuhkan saat ini. bukan berarti pemain yang dibawa Yeyen kali ini kurang cerdas. 

Namun pemain yang bertipe pemecah kebuntuan harus ada. Kalau disaksikan pertandingan saat ini permainan hanya megandalkan serangan balik cepat dari sayap.   

   Dengan permainan seperti ini sudah sangat dipahami oleh lawan Timnas PSSI idak terkecuali tim Malaysia. Sehingga pemain Malaysia hanya menjaga  daerah sisi kanan maupun kiri pertahanan. 

Sementara itu pemain Indonesia hanya menjaga wilayah minim usaha merebut bola. Situasi seperti  ini dimanfaatkan oleh tim lawan yang terlihat lebih cerdas dalam bermain. Dan betul juga Safawi pada menit ke 71 menjebol bola Rido untuk kedua kali. Artinya Safawi lebih cerdas dari pemain Indonesia.

Dari permainan secara individu maupun tim dapat dilihat berapa tingkat kecerdasan emosi dan kepandaian seseorang. Sehingga pemain yang cerdas pasti dapat memanfaatkan hal sekecil apa pun bisa menjadi menjadi sangat besar untuk membalikkan keadaan. Sebenarnya ada juga kesempatan untuk memperpendek jarak dari kekalahan 2-0 menjadi 2-1. 

Saat  Febri dijatuhkan oleh kiper Malaysia, sang pengadil pun langsung menunjuk titik penalti. Tendangan diambil oleh Saha. Sebagai penendang penalti pastilah sudah dipilih seseorang yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan lebih dibandingkan sepuluh pemain lainnya. Dan saha tidak sukses melakukannya, itu artinya pemain kita masih kurang beruntung atau harus ditingkatkan lagi kecerdasannya untuk masa depan.

Dan di sini di Bukit Jalil  Yeyen sang pelatih belum mampu membawa tim Garuda meraih kemenangan, dan harus pulang ke tanah air dengan berjuta rencana untuk tiga laga sisa. 

Tentunya Pengelola sepak bola Indonesia alias PSSI terpukul dengan kenyataan pahit ini. Namun itulah olah raga, latihan bertahun-tahun bahkan sepanjang hidup hanya akan dilihat dalam hitungan detik. Latihan itu berhasil atau tidak

Saat ini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendobrak segala hal yang merintangi perkembangan sepak bola di tanah air. Dan menerapkan teknologi yang tepat berbasis kearifan nusantara  yang dapat  diterapkan di tingkat klub mengerucut ke timnas adalah hal yang urgen. Tentunya Pak Iwan sudah punya rencana yang lebih daripada saya. Selamat berjuang Bapak!

VIDEO PILIHAN