Mohon tunggu...
Nursini Rais
Nursini Rais Mohon Tunggu... Lahir di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tahun 1954.

Nenek 4 cucu, senang dipanggil Nenek. Menulis di usia senja sambil menunggu ajal tiba.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Balada Kehidupan Petani Kopi dan Kayu Manis di Bumi Sakti Alam Kerinci

20 Juli 2019   07:36 Diperbarui: 20 Juli 2019   11:59 0 29 12 Mohon Tunggu...
Balada Kehidupan Petani Kopi dan Kayu Manis di Bumi Sakti Alam Kerinci
Kopi sedang berbuah (kiri). Pohon kayu manis umur 3 tahun. (kanan) |Dokumentasi pribadi.

Sakti Alam Kerinci adalah julukan untuk Kabupten Kerinci. Selain terkenal dengan kebun teh, yang menghampar luas di kaki Gunung Kerinci, daerah yang berketinggian 1.000-1.400 meter di atas permukaan laut ini juga populer dengan kopi. Kondisi tanahnya yang berlembah dan berbukit amat subur, sangat cocok ditanami kopi.

Tidak heran, kopi dikatakan sebagai komoditas unggulan Kabupaten Kerinci yang telah menyumbang PDB nasional sebesar Rp 1 triliun pada 2018. (Sumatra Bisnis, 26 Januari 2019).

Tidak hanya kopi. Kawasan paling barat provinsi Jambi ini juga tersohor dengan kayu manis, yakni, tanaman rempah-rempahan, produknya dikenal sebagai cassiavera. Dalam pembudidayaan keduanya (kopi dan kayu manis) petani setempat menggunakan sistem diversifikasi.

Bersamaan dengan menanam kopi, pada lahan yang sama juga ditanami cabe. Cabe habis, kopi mulai berbunga. Disisipkan bibit kayu manis.

Saat kopi tidak lagi produktif, kayu manis besar. Petani senang dan berbahagia. Ketika kayu manis menumbuhkan pucuk, daun mudanya berwana pink. Sangat elok dipandang mata. Tinggal menunggu panen delapan atau belasan tahun berikutnya.

Tanaman kopi di sela cabe rawit.| Dokumentasi pribadi.
Tanaman kopi di sela cabe rawit.| Dokumentasi pribadi.
Metode ini sudah dipraktikkan secara turun temurun oleh petani Kerinci sampai sekarang.

Bedanya, zaman dahulu sebagian petani dan keluarganya senang tinggal di pondok ladang, mulai membuka lahan sampai belasan tahun. Menjelang kopi berproduksi, mereka cari makan di sana dari hasil cabe atau sayuran lain. Keluar sekali seminggu, ke pekan sekadar membeli keperluan harian.

Sebagian mereka mengolah lahan sendiri. Ada juga penggarap yang datang dari luar daerah dengan sistem bagi hasil.

Dahulu, ketika malam hari melewati perladangan rakyat, dari mobil tampak di area yang dipenuhi tanaman kopi dan kayu manis cahaya berkedip-kedip seperti bintang.

Sumbernya dari lampu minyak dalam gubuk petanai, atau dari api unggun. Bertaburan di lereng dan puncak bukit, yang tingginya susah ditebak,

Bila musim hujan tiba, medan tempuhnya sangat licin. Tetapi mampu mereka jangkau hanya dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang mendaki menurun. Jaraknya mencapai beberapa kilometer dari jalan raya. Sungguh, perjuangan hidup-hidup mati versi saya. Namun para petani happy-happy saja. Mereka bekerja tak kenal lelah, menikmati kehidupan layaknya orang kebanyakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3