Mohon tunggu...
Nursini Rais
Nursini Rais Mohon Tunggu... Administrasi - Lahir di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tahun 1954.

Nenek 5 cucu, senang dipanggil Nenek. Menulis di usia senja sambil menunggu ajal menjemput.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Begini Gilanya Sopir Zaman Dahulu

1 Desember 2018   23:02 Diperbarui: 7 Desember 2018   11:01 1225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Ilustrasi : Kiriman Uyun Koto

Saya pernah ngobrol dengan seorang mantan sopir truk yang berpengalaman puluhan tahun. Saya tanyakan bagaimana suka duka  seorang sopir ketika sedang beroperasi di jalanan.

Sukanya, sopir truk bisa agak santai. Tidak terikat kepada penumpang, mau istrahat lama, mandi, tiduran sejenak di warung atau di atas mobil, sampai ke pijit plus-plus di tempat khusus.  Makan mewah bayar sendiri,  tapi uang khusus jatah dari bos.

"Lain dengan sopir bus atau travel.  Terlambat berangkat  penumpang  gelisah. Soal selera, sama-sama spesial. Tetapi sopir bus dan travel dikasih gratis oleh pemilik rumah makan. Sebagai bonus karena  membawa penumpang belanja makan di warungnya. Tak salah, mereka terkesan memberikan pelayanan prima kepada sopir bus dan travel, dibandingkan kami sopir truk."

"Dukanya?"

"Tantangan paling berat adalah galau berpisah dengan keluarga. Terutama sopir antar provinsi antar pulau," pria berumur itu tersenyum. 

"Harus kuat menahan godaan. Meskipun dahulu malaikat penggoda tidak secanggih sekarang yang bisa janjian  via HP. Problem ini mungkin tidak dialami oleh pengemudi yang berangkat pagi pulang petang."

Malu pada pendengar sebelah, saya segera memotong pembicaraan, "Hal lain?"

"Berhadapan dengan preman terhormat dan preman nekad"

"Maksudnya?"

"Preman terhormat itu makhluk berseragam yang digaji negara. Tetapi masih mengemis minta uang rokok. Kalau tidak dikasih dia marah-marah, sampai ngancam dan menahan dokumen."

"Apa petugas dahulu juga bergaya  preman?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun