Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, senang dipanggil Nenek. Menulis di usia senja sambil menunggu ajal tiba.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Listrik Padam dan Hukum Karma? Apa Hubungannya dengan Kebohongan Ratna Sarumpaet?

11 Oktober 2018   20:24 Diperbarui: 11 Oktober 2018   20:52 844 15 10
Listrik Padam dan Hukum Karma? Apa Hubungannya dengan Kebohongan Ratna Sarumpaet?
Sumber stiker: kantormeme.blogspot.com

Alhamdulillah, hari ini saya bisa nongol dan kembali  mencorat-coret di dinding  Kompasiana.  Setelah terimbas pemeliharaan server, disambut  pengumuman dari pihak PLN.  Akan dilakukan pemadaman listrik mulai pukul 6.00 sampai jam 18.00 selama 3 hari. (8-11 Oktober 2018). Hal ini dilakukan karena adanya pekerjaan penguatan tower. Syukur, berlakunya hanya dua hari.

Selama listrik padam, saya benar-benar canggung. Banyak waktu mubazir. Mundar-mandir dari sumur ke dapur. Ujung-ujungnya menukik di kasur.  Target  minimum menulis di kompasiana meleset.

Saya dianugerahkanNya  mood menulis pada siang hari. Selesai ditulis, malam tinggal urusan  memosting. Sebab, di tempat saya acap kali sinyal Full di atas pukul 21.00. Tak jarang saya tidur dulu, karena setelah Maghrib saya sering  ngantuk berat.

"Makanya, jadi orang jangan pelit. Hukum karma kali," ejek si cucu setiap saya mengeluh listrik padam. 

Saya tertawa. "Apa hubungannya mati lampu dengan pelit."

"Punya duit tak mau beli baterai laptop."

Saya tertawa. Dipikir-pikir ada benarnya juga. Tapi, tersebab tak mau memebeli baterei  dibilang hukum karma, tidaklah, ya.

Dasar anak-anak. Omongannya tiru-tiruan. Padahal belum tentu dia mengerti apa itu hukum karma.

Bosan sendirian, saya nongkrong di warung  gorengan depan rumah. Si pemilik warung pasti paham. Ini efek listrik padam, "Waiih ...! Nenek pingitan keluar rumah."

Spontan saya menjawab, "Hukum karma."

"Hah ...? kok bisa begitu, Nek?"  Obrolan berlanjut ke cerita si cucu yang selalu menuding listrik padam ketika nenek mengetik itu hukum karma.

Namanya emak-emak. Kalau udah ngumpul  ada saja topik bahasan yang akan  mereka kupas. Pembicaraan merembet ke politik.  

Gara-gara saya mau meladeninya,  warung gorengan jadi rame. Salah satu pelanggan yang belanjaannya sudah dibungkus, masih enggan meninggalkan tempat. Dia angkat bicara. "Para politikus di tivi itu pantas dikasih hukum karma ya, Nek? Mereka itu  saling menjelek, menghujat, dan mencaci. Kayak "Sarung Pahit".

Kejang perut saya menahan tawa. Bagaimanapun saya menanggapinya serius.  Agar dia tidak malu, saya luruskan pelafalan nama sang aktivis yang sedang disandera kasus hukum itu.

"Ya. Itu dia manusia yang kena hukum karma. Karena mulutnya terbiasa mencaci maki, lidahnya terjerumus pada  ucapan bohong. Sekarang dia kena getahnya. Dan bla bla bla," tambah ibu muda itu.

Semua pendengar tertawa. Plus bumbu-bumbu lainnya yang masih berkisar tentang politik, sampai ke capres/cawapres yang akan menjadi pilihan masing-masing.

Percaya pada hukum karma, sudah mendarah daging bagi sebagian besar masyarakat di tempat saya. Mereka sangat meyakini  bahwa setiap perbuatan jahat itu pasti Allah membalasnya dengan hukuman setimpal.

Kemarin saya dicurhati adik sepupu suami. Dia bilang, barusan  ada keluarganya dari Jakarta nelepon. Minta dicarikan jodoh buat putrinya yang sudah terbilang berumur. "Saya marah dalam hati. Dahulu  dia sering nyindir saya. Kalau saya ini gadis tua tak laku. Udah 35 tahun belum dapat jodoh. Eh, sekarang anaknya mendekati kepala empat. Tak laku-laku. Hukum Karma."

Tak bisa disangkal, apabila ada nasib jelek menimpa seseorang sering dikait-kaitkan dengan hukum karma. Padahal, Islam tidak membenarkan pandangan demikian. Karena termasuk menebak hal yang  ghaib. Allah berfirman, "Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah."  (An-Naml: 65). (Maaf, saya tidak mengulas hal ini lebih detail. Takut salah).

Terlepas dari kaitannya dengan ajaran agama apa pun,  secara pribadi saya menilai bahwa pandangan begini banyak nilai positifnya. Karena takut hukum karma yang mereka sebut hukum Allah, setiap individu berpikir seribu kali untuk melakukan kejahatan. Terlebih berbuat keji kepada orang lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2