Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, penulis 2 novel: - Jatuh Bangun Mengejar Sayang - Rindu di Ujung Mimpi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen ǀ Subur dan Pengemis

11 Juli 2018   22:06 Diperbarui: 13 Juli 2018   00:12 2526 11 9
Cerpen ǀ Subur dan Pengemis
Ilustrasi: The Indian Express

Tubuhnya ringkih matanya bertaut. Garis celah antara pelupuk atas dan bawah netranya masih mampu mengerdip. Ketika berjalan, kepalanya agak menengadah. Apakah dia pura-pura buta atau  buta benaran, wallahu alam bish shawab

Yang pasti, profesinya sebagai pengemis. Dua kali seminggu jadwal kerjanya menyinggahi rumah-rumah di kampung Subur. Yang menarik, dengan kantong berisi beras tersampir di bahunya, dia mampu menempuh jalan belasan kilometer tanpa dituntun.

"Gaek (1)! boleh saya bantu?" Subur menawarkan diri.

"Jangan. Nanti Emak-mu marah. Perjalanan saya jauh. Sampai ke pelabuhan Muara Sakai."

Subur semakin tertarik. "Ini kesempatan bagi saya untuk melihat kapal," gumamnya.

"Tidak apa-apa."

"Kau tidak sekolah?"

"Ai ..., Gaek. Sekarang kan hari Minggu."

Pengemis enam puluhan tahun  itu berpikir sejenak. "Oh, iyo?"

Subur mengambil alih kendali tongkatnya, terus menuntun pengemis itu berjalan. Anak laki-laki kelas dua Sekolah Rakyat itu bangga melakukannya. Meskipun selama menapaki jalan kampungnya, banyak teman sekolahnya menegur dan mencemooh. Begitu juga orang dewasa.

"Eh ..., Anak saudagar cengkeh minta sedekah. He he he," ejek salah seorang teman ayahandanya Subur.

Bujang tanggung tersebut bergeming. Malah semakin bangga, setiap mampir di warung, pengemis tersebut dapat jatah aneka makanan. Subur tinggal memilih dan melahap kue kesukaannya.

Cara berpikir kakek tuna netra tersebut amat cerdas. Apabila bawaannya sudah banyak dan berat, dia menjual beras hasil mengemisnya di mana dan siapa saja yang mau membeli.

"Mampir di sini dulu, Gaek!" ajak Subur sambil menikung ke pekarangan sebuah rumah.

"Tidak usah!"

"Kenapa? Ayolah, Gaek! Tidak jauh dari pinggir jalan. Rumahnya bagus. Pasti ini orang kaya." Subur menahan langkah. "Pemiliknya sedang berada di luar. Tidak perlu susah-susah menunggu. Setelah memberi salam, membaca doa, dan dikasih sesuatu,  kita langsung pergi."

"Tak usah, ah. Kaya, memang iya. Pelitnya selangit."

"Tau dari mana Gaek?"

"Iyo taulah."

"Yo dak apo-apolah." Subur melururuskan haluan mengikuti jalur yang hendak mereka tuju. Dia berbincang dengan dirinya sendiri, "Heran juga ini kakek. Dia mengetahui, pelit tidaknya seseorang. Padahal matanya seperti tak dapat melihat sama sekali."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4