Mohon tunggu...
Nursalam AR
Nursalam AR Mohon Tunggu... Penerjemah

Penerjemah dan narablog. Pendiri Komunitas Penerjemah Hukum Indonesia (KOPHI) dan mantan pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) DKI Jakarta. Penerjemah Hukum Bersertifikat UKP UI dan TSN HPI serta mantan jurnalis dan penulis skenario sitkom. Blog: www.nursalam.wordpress.com. IG: @salamlegaltranslator.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Pembelajaran Daring (Sudah) Memakan Korban, Mau Tunggu Apalagi?

15 September 2020   22:48 Diperbarui: 17 September 2020   19:20 4662 47 27 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pembelajaran Daring (Sudah) Memakan Korban, Mau Tunggu Apalagi?
ilustrasi belajar di sekolah. (sumber: KOMPAS/DIDIE SW)

Sang bocah perempuan, Keisya Safiyah, berusia delapan tahun yang masih duduk di kelas 1 SD itu mungkin tidak pernah mengira jika ibunya, Lia Handayani, akan sedemikian marahnya hanya karena ia tidak paham pelajaran yang diajarkan melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran daring.

Si ibu (berinisial LH dan berusia 26 tahun) mungkin juga tidak pernah berniat menghabisi nyawa salah satu anak kembarnya itu hanya karena sang anak berbeda dengan kembarannya yang lebih penurut dan pandai memahami pelajaran. 

Namun, habisnya kesabaran dan luapan emosi kadang membuat segalanya berbeda, di luar kendali siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Sang bocah nahas, sebagaimana diberitakan Kompas.com, tewas meregang nyawa setelah sebelumnya harus menderita menerima bertubi-tubi kekerasan fisik dari ibu kandungnya sendiri. Antara lain, dengan tangan kosong dan menggunakan sapu.

Menurut keterangan kepolisian, pada 26 Agustus 2020, LH melakukan serangkaian tindak kekerasan terhadap buah hatinya itu karena kesal dan merasa anaknya itu sulit diajari dan susah diberitahu.

"Korban dicubit di bagian paha, selanjutnya dipukul dengan tangan kosong di bagian paha. Lalu si anak juga dipukul dengan gagang sapu dari kayu sebanyak lima kali di bagian kaki, paha, betis, dan tangan," ujar Kasatserse Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma.

Masih menurut pejabat kepolisian di wilayah Banten tersebut, bahkan ketika korban sudah tersungkur lemas, LH tidak berhenti melakukan kekerasan, ia bahkan memukul kepala bagian belakang anaknya tiga kali dengan sapu.

Ironisnya, sang ayah, Imam Syafi'ie (berinisial IS dan berusia 27 tahun) yang semula menegur istrinya karena memukuli anaknya, belakangan, setelah mengetahui puterinya tewas, justru berkomplot dengan istrinya untuk menghilangkan jejak pembunuhan tersebut. 

Mereka kemudian langsung membawa jasad sang anak dengan sepeda motor menuju daerah Lebak, Banten, yang berjarak sekitar 110 km (sekitar 3 jam perjalanan) dari rumah kontrakan mereka di Larangan, Kota Tangerang. 

Jasad sang anak kemudian dikuburkan diam-diam di sebuah liang berkedalaman sekitar setengah meter di TPU Gunung Kendeng, Lebak. Masih dalam kondisi berpakaian lengkap seperti saat disiksa ibunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x