Mohon tunggu...
Nursalam AR
Nursalam AR Mohon Tunggu... Partikelir

Peminat kajian bahasa & terjemahan, humaniora dan bisnis. Blog: www.nursalam.wordpress.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Aku Bukan Nabi, Tapi Belajar dari Wahyu

22 Oktober 2019   00:37 Diperbarui: 22 Oktober 2019   16:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
Aku Bukan Nabi, Tapi Belajar dari Wahyu
Ilustrasi: www.republika.co.id

Ia lelaki tinggi besar usia 40-an berkulit hitam. Tongkrongannya garang. Maklum, sebagaimana pengakuannya kepadaku, ia bekas preman semasa mudanya. Setelah berkeluarga dan terlebih lagi punya anak tiga, ia insyaf dan memilih pekerjaan yang halal. Meskipun sebagai makelar jasa penerjemahan. Boleh dibilang saat itu ia salah satu kolega bisnisku yang paling dekat.

Aku tidak tahu siapa nama lengkapnya. Aku memanggilnya Pak Wahyu. Singkat saja.

Sesingkat kunjungannya setiapkali ia datang ke kantorku. Ya, kantorku waktu itu adalah rumahku. Saat itu, sejak sebelum menikah dan masih tinggal bersama orangtuaku, dan hingga 2009 silam aku bekerja sebagai penerjemah lepas (freelance), yang khusus menerjemahkan dokumen-dokumen hukum seperti akte notaris dan kontrak bisnis.

Bagiku sebagai penerjemah, kehadiran Pak Wahyu yang menjadi makelar atau penghubung antara biro penerjemahan atau perusahaan dengan penerjemah sangat membantuku yang memutuskan terjun bebas sebagai penerjemah lepas selepas bekerja di sebuah griya produksi sinetron terkemuka.

Biasanya Pak Wahyu datang siang hari dengan jaket hitam khasnya. Mengetuk pintu dengan ketukan -- yang lebih mirip gedoran -- berulangkali dan uluk salam, yang kontras dengan posturnya, yang sangat pelan. Alhasil lebih kentara ketukan khasnya yang terdengar. Awalnya kami kaget, bahkan ayahku sempat mengeluh. Tapi lama-lama kami terbiasa dan menjadikan gaya ketukan Pak Wahyu itu sebagai penanda kehadirannya.

Yang tidak aku sukai, jika ia punya waktu luang dan mau ngobrol berlama-lama, adalah kebiasaannya merokok. Di keluargaku saat itu memang hanya ayahku yang perokok. Itu pun dibarengi protes dari anak-anaknya termasuk aku. Beliau pun mengurangi konsumsi rokoknya. Tapi, dengan Pak Wahyu, entah mengapa aku sungkan menegurnya. Faktor hubungan bisnislah yang membatasi. Inilah susahnya.

Namun lebih banyak hal yang aku suka dari sosok Pak Wahyu. Ia jujur. Saking jujurnya bahkan ia tak segan-segan memperlihatkan isi dompetnya jika klien lambat memberikan imbalan jasa (fee) terjemahan. Atau saat pembayaran kepadaku lewat dari yang ia janjikan.

"Bener, Lam," ujarnya dengan logat Betawi yang medok,"Belom bayar tuh orang!"

Tak jarang ia curhat soal hubungan dengan para kliennya. Ujung-ujungnya, ia berpesan,"Diem-diem aje ye, Lam. Ini elo aje yang tau. Ga enak gue nanti!"

Juga soal keluarganya. Soal anak-anaknya yang mulai masuk kuliah dengan permasalahan biayanya. Hingga istrinya yang turut membantu ekonomi rumah tangga dengan menjadi makelar jasa pengurusan pembuatan KTP di kelurahan. Aku pun jadi pendengar yang baik. Termasuk untuk cerita-ceritanya betapa ia bekerja gila-gilaan dari pagi hingga sering tengah malam.

Tanpa bermaksud rasis, ia sering berujar,"Gue ini orang Betawi, Lam, tapi kerja kayak orang Jawa!" Kepercayaan diri dan optimismenya memang hal lain yang aku sukai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x