Mohon tunggu...
Muhammad NorRohim
Muhammad NorRohim Mohon Tunggu... Sehat selalu

Sehat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Stop Sikap Intoleransi

12 November 2019   10:55 Diperbarui: 12 November 2019   16:25 0 0 0 Mohon Tunggu...
Stop Sikap Intoleransi
img-20191112-wa0011-5dca7936cb4bf202905210a4.jpg

Dila Ayu Rindiani

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain. Untuk itu toleransi antar manusia harus dijaga dengan baik, tanpa harus membeda-bedakan antar individu, apalagi kita hiudp dinegara Indonesia yang memiliki banyak suku, budaya maupun agama. Kita harus saling bertoleransi terhadap semua individu, dan kita juga harus memerangi yang namanya Intoleransi, Intoleransi merupakan iskpa tidak saling menghargai antar sesama baik dalam bidang agama budaya maupun tradisi.

Intoleransi yang sedang marak diperdebatkan atau dibicarakan yaitu intoleransi antar umat beragama, menurut survei tingkat intoleransi umat beragama diIndonesia semakin tahun semakin meningkat yaitu pada tahun 2018 sampai 2019. Meningkatnya intoleransi tersebut dilihat dari beberapa variabel penelitian, satu diantaranya variabel keberatan atau tidak umat beragama mengadakan acara keagmaan dilingkungan terdekat orang yang tidak seagama.

Ada bebrapa faktor yang membuat orang beragama bersifat intoleran dengan kelompok agama lain. Seharusnya umat beragama itu harus mempunyai sikap toleransi. Salah satunya adalah kurangnya pengalaman, pergaulan dan pengumulan dengan komunitas agama lain. pengetahuan tinggi tidak tidak menjamin seseorang bisa toleran jika tidak diiringi dengan pengalaman, pergaulan dan pengumulan yang memedai dengan kelompok agama lain.

Karena itu jangan heran, kalau ada banyak orang pinter tapi kebliger alias tidak ramah dengan keanekaragaman. Bahkan pengalaman pergaulan lintas agama itupun tidak menjamin orang bersikap toleran, jika mereka memiliki komitmen yang tulus untuk saling mengenali dan memahami keunikan masing-maing tradisi dan agama. Dengan kata lain bukan sekedar pengalaman empiris tetapi pengalaman transformatif yang membuat sebuah pengalaman bisa lebih bermakna dan berdampak positif bagi muncul dan tumbuhnya sikap keberagamaan yang toleran dan pluralis.

Prinsip intoleransi itu ada tiga komponen yang pertama, ketidakmampuan menahan diri tidak suka dengan orang lain, kedua sikap mencampuri atau menantang sikap atau keyakinan orang lain dan yang terakhir yaitu sengaja menganggu orang lain.

Intoleran juga bisa diartikan sebagai tindakan negatif yang dilandasi prasangka yang berlebihan, prasangka semacam ini memiliki tiga komponen yaitu komponen kognitif mencakup stereotip terhadap kelompok luar yang direndahkan, komponen afektif yang berwujud sikap muak atau tidak suka yang mendalam terhadap kelompok luar, dan komponen tindakan negatif terhadap anggota kelompok luar, baik secara interpersonal maupun dalam hal kebijakan politik sosial. Ketiga komponen tersebut cenderung mempengaruhi mengingat sifat pikiran dan berpengaruh negatif dan memberi rekasi terhadap sikap muak dan tidak suka.

Dan secara logika memang sulit untuk membayangkan bagaimana sikap negativ dapat memediasi tindakan negatif artinya semua umat beragama dilarang untuk mecetuskan keberagamaan tanpa halangan apapun, maksudnya segala sikap dan simbol keagamaan kelompok manapun untuk diizinkan tampil dan dirayakan.

Maka memihak kepada kelompok tertentu seharusnya tidak boleh terjadi hanya karena simbol dan cetusan beragama meraka artinya semua umat beragama dilarang untuk mecetuskan keberagamaan tanpa halangan apapun, maksudnya segala sikap dan simbol keagamaan kelompok manapun untuk diizinkan tampil dan dirayakan.

Maka memihak kepada kelompok tertentu seharusnya tidak boleh terjadi hanya karena simbol dan cetusan beragama meraka artinya semua umat beragama dilarang untuk mecetuskan keberagamaan tanpa halangan apapun, maksudnya segala sikap dan simbol keagamaan kelompok manapun untuk diizinkan tampil dan dirayakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x