Mohon tunggu...
Lateefa Noor
Lateefa Noor Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis amatir yang selalu haus ilmu.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Tabir Kembali Terbuka

23 September 2023   18:21 Diperbarui: 23 September 2023   18:28 70
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: Pexels from Pixabay

Semenjak ku putuskan untuk pergi, tak ada niatan tuk kembali. Menjalin lagi yang sebelumnya hampir mati.

Rapuh. 

Ku akui, begitu susahnya merapikan lagi yang sudah tak utuh. Terus terang saja, aku tak cukup nyali. Tak ada energi untuk menarikmu kembali. Merajut yang sebelumnya telah tergores dengan guratan belati.

Namun nyatanya, hati tetap saja mengagungkan ikhlas sebagai pilihan inti. Naluri masih saja rela merasakan setiap deraan yang mungkin tak sengaja kau hantamkan.

Sadarku kembali diuji, karena rasa yang makin kuat hingga tak terkendali. Karena tenangmu menyikapi, membuat egoku merendah tanpa kupahami. Aku tak kuasa untuk berlari, meninggalkan semua yang telah diawali. Aku tak mampu beranjak pergi, menanggalkan segala nyaman yang telah tertanam di hati.

Entah mantra apa yang sengaja kau kirim kemari, yang membuatku seolah mati berdiri jika tanpa dendangan suara yang seringkali kau bisiki. Semacam candu, berat rasanya menghilangkan segalamu dari sanubari. Seolah-olah daya tak terisi, di saat diriku memilihmu tak mendampingi.

Kini, aku harus menyerah lagi. Berusaha dengan sekuat hati meluruhkan segenap rasa yang bernama porsi dan posisi. Berusaha membuang resah karena porsi yang sebenarnya tak diminati. Berusaha mengabaikan posisi yang tak henti menghantui.

Kini, saatnya aku harus membuka kembali tabir yang ingin ku hindari. Mempersilakanmu kembali mengisi. Memainkan peranmu sesuai rotasi. Biarlah aku yang berjuang menggali celah. Biarlah aku yang selalu berpasrah meski lelah.

Biarlah.

Mungkin memang seharusnya begini, berpura-pura buta agar sakit tak kembali terasa. Berlagak tuli, agar tak mendengar kecaman yang menyayat hati. Toh nyatanya aku sudah terbiasa begini, menjadi bayangan hingga akhirnya dilenyapkan. Aku pun sudah terbiasa seperti ini, menjadi pujaan yang pada akhirnya diasingkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun