Mohon tunggu...
Nuriah Muyassaroh
Nuriah Muyassaroh Mohon Tunggu... Mahasiswa

Penulis adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang jurusan akuntansi yang menekuni dunia kepenulisan baik fiksi maupun non fiksi. Penulis juga berpengalaman menjadi penulis freelance di salah satu media online.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Indonesia Krisis Literasi di Era Revolusi Industri 4.0

7 Januari 2019   21:07 Diperbarui: 7 Januari 2019   21:17 0 1 1 Mohon Tunggu...
Indonesia Krisis Literasi di Era Revolusi Industri 4.0
sumber: suaramerdeka.com

Di era Revolusi Industri 4.0, Dunia tidak hanya menuntut untuk melek teknologi, namun juga update terhadap informasi. Dan Indonesia, memiliki tantangan yang sangat besar untuk menghadapi era tersebut. Tidak hanya krisis ekonomi karena merosotnya nilai rupiah terhadap kurs mata uang asing, tetapi juga krisis literasi. Fakta ini didasarkan pada riset Central Connecticut State University 2016, yang mengatakan pada literasi Indonesia berada di tingkat kedua terbawah dari 61 negara, hanya satu tingkat di atas Bostwana. Tidak hanya itu, kemampuan membaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah juga dibuktikan dengan riset menurut UNESCO, yang mengungkapkan bahwa hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang membaca buku. Tentu ini sebuah fakta yang sangat miris dan memprihatinkan. Akibatnya, Indonesia mengalami potensi risiko yang sangat tinggi terhadap penyebaran konten negative di era digital ini. Berbagai ujaran kebencian, berita hoax, radikalisme dan intoleransi merupakan ancaman besar yang tengah melanda masyarakat Indonesia. Itulah penyebab dari rendahnya minat baca masyarakat terutama terhadap informasi yang berkaitan dengan isu-isu negative tersebut. Hingga sebuah survey dari CIGI-Ipsos 2016 memaparkan bahwa sebanyak 65 persen dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa cek dan ricek. Meskipun terlihat remeh, tapi justru itulah yang berpotensi meretakkan kesatuan dan persatuan Indonesia.

Tanpa disadari, minimnya minat baca bisa berdampak sangat fatal terhadap keutuhan negara. Tidak hanya itu, minat baca juga menjadi kriteria untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu negara. Di beberapa maju, kualitas pendidikan didorong oleh tingginya minat baca siswa. Seperti di Italia, minat baca dibiasakan sejak dini yakni sekolah dasar. Bahkan menjadi kewajiban bagi para pelajar Italia termasuk saat libur panjang. Tak heran jika buku-buku sejarah Italia dan novel-novel berbobot diformulasi ke dalam berbagai bahasa, tidak lain tujuannya adalah bisa dibaca oleh pelajar dari sekolah dasar hingga universitas. Menurut penelitian Doxa, lembaga peneliti Italia,  anak-anak Italia mendapat julukan "Grandi Lettori" alias pembaca hebat anak-anak karena memang mereka sangat mencintai budaya membaca. Hal ini dibuktikan dengan tingginya persentase biaya pembelian buku orang tua anak. Antara tahun 2015-2016 terjadi kenaikan biaya sebesar 5.3%. Bahkan, Doxa juga mengatakan bahwa pengeluaran untuk buku, Koran, dan komik mengalami peningkatan hingga 232 juta euro. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan anak-anak Italia terhadap buku sangat tinggi. Fakta ini berbanding terbalik dengan anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca sangat rendah dan hal tersebut berpengaruh pula pada kualitas pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017 oleh Puan Maharani selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan (PMK) mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang diselesaikan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Tak heran jika krisis literasi  tengah melanda Indonesia karena memang banyak fakta yang telah membuktikan.

Namun, Tak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Dari sedemikian fakta yang terjadi, ada berbagai penyebab yang tidak mendapat respon sehingga menimbulkan masalah yang lebih serius.

Pertama, adalah kurangnya perhatian pemerintah pada budaya literasi. Kebijakan pemerintah sangat penting untuk mendongkrak pergerakan-pergerakan baru untuk membangkitkan literasi di Indonesia. Dukungan pemerintah masih bersifat temporer, yakni pada event-event tertentu saja. Tepatnya pada Hari Buku Nasional dan hari hari besar lainnya. Walaupun telah dibentuk sebuah UU No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan memberikan harapan untuk mengembangkan budaya literasi, tapi implementasinya masih jauh dari harapan. Hal ini terbukti dengan keberadaan perpustakaan di beberapa daerah tampak sepi pengunjung. Minimnya kegiatan literasi yang melibatkan pelajar dan masyarakat umum, Sedikitnya organisasi yang bergerak di bidang literasi yang mampu meningkatkan budaya baca di lingkungan masyarakat. Tentu berbagai kegiatan tersebut butuh adanya dorongan baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Karena budaya ini menjadi  kendala  utama  dalam meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat yang seharusnya mampu mengembangkan diri dalam menambah ilmu pengetahuannya secara mandiri melalui  membaca  (Tilaar,  2002).

Kedua, Rendahnya kesadaran orang tua akan pendidikan. Tentu ini hal ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan para orang tua yang berdampak pada kebiasaan sang anak. Orang tua yang peduli pada pendidikan, akan membiasakan anaknya sejak dini untuk rajin membaca, pergi ke perpustakaan, rajin membelikan buku dan mengajaknya bermain di dunia literasi. Berbeda dengan orang tua zaman sekarang, mereka lebih suka membelikan anak-anaknya permainan dengan tujuan agar mereka terhibur. Namun, justru hal tersebut menghambat perkembangan pola berpikir anak. Dan itulah yang menyebabkan anak-anak Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Siauseni (2010), hal-hal yang menjadi kendala dalam meningkatkankegemaran membaca anak adalah derasnya arus hiburan serta permainan dari media elektronik. Karena kebiasaan itulah yang menentukan minat seseorang di masa yang akan datang.

Ketiga, Kurangnya tanggapan dari lembaga pendidikan. Sekolah dan pengajar merupakan salah satu elemen penting untuk mendorong tumbuhnya minat baca dalam diri anak. Apalagi dengan fasilitas perpustakaan. Munaf (2002:247) menyatakan bahwa dalam menumbuhkan minat baca erat sekali hubungan dengan perpustakaan. Sehingga, seharusnya sekolah memaksimalkan fungsi perpustakaan tersebut sebagai tempat untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.

Dari beberapa penyebab rendahnya minat baca anak-anak Indonesia tersebut, tentu butuh sebuah kebijakan yang  bisa menggerakkan dan membangkitkan budaya literasi dalam diri anak. Kebijakan tersebut seharusnya tidak hanya sebagai wacana, tetapi juga perlu impelementasi sehingga menghasilkan sebuah bukti konkrit.

Untuk mengatasi kritis literasi yang mengancam masa depan anak-anak Indonesia di era revolusi industry 4.0 ini, pemerintah harus bergerak cepat. Banyak sekali solusi yang bisa terapkan untuk menumbuhkan budaya baca dalam diri anak.

Yang pertama, yaitu memaksimalkan fungsi perpustakaan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca. Sehingga pengunjung akan merasa nyaman dengan suasana perpustakaan yang tidak membosankan. Pihak pemerintah daerah sebagai pengelola perpustakaan umum, atau pihak sekolah, bisa merenovasi ruangan sekreatif dan semenarik mungkin serta menyediakan persediaan buku yang lengkap sesuai dengan usia dan kebutuhan pengunjung. Mulai dari bacaan untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa. Baik berupa komik, buku cerita, Novel, buku referensi, dan sebagainya. Sehingga perpustakaan menjadi tempat rujukan untuk mencari apapun seputar literasi.

Yang kedua, adalah penerapan wajib membaca di lingkungan sekolah. Beberapa tahun yang lalu, pemerintah sudah menetapkan kebijakan ini. Namun, di beberapa sekolah, kebijakan ini tidak dijalankan secara efektif. Sehingga lama-lama kebijakan tersebut tidak berlaku lagi. Hal ini juga butuh dorongan dan penekanan dari pihak sekolah untuk mewajibkan siswanya membaca dalam durasi waktu tertentu. Sehingga, akan ada dampak positif dengan dirutinkannya kebijakan ini. Alhasil, budaya membaca itu secara perlahan akan tumbuh dengan sendirinya dalam diri siswa. Karena budaya tersebut muncul dari sebuah kebiasaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2