Mohon tunggu...
Nurhikmah DiahSetiani
Nurhikmah DiahSetiani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Psikologi

Assalamu'alaikum.. Saya Tia, seorang mahasiswi psikologi di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Orang Perfeksionis Rentan Burnout? Benarkah?

30 Desember 2021   23:02 Diperbarui: 30 Desember 2021   23:27 294
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Lantas, bagaimana seorang perfeksionis dapat dikatakan rentan terkena burnout?

Seorang perfeksionis bisa saja rentan terkena burnout apabila seseorang tersebut merasakan gejala-gejala maladaptif berupa :

  • Adanya ketidakpuasan bedasarkan kesesuaian standarisasi, baik bagi pribadi individu tersebut ataupun orang lain.
  • Merasa terbebani akan segala tanggung jawab yang dipikulnya.
  • Menghendaki hasil dengan kriteria yang sesuai, sehingga berimbas pada lama waktu pengerjaan.
  • Adanya ketakutan akan rasa gagal, sehingga membuat seseorang menjadi ragu dalam bertindak atau mengambil keputusan.
  • Apabila seorang tersebut bekerja dalam dalam suatu group, maka ia cenderung bersikap dominan. Hal ini dikarenakan individu tersebut kurang toleransi terhadap kesalahan, dan juga sedikit kesulitan ketika berhadapan dengan anggota yang bersikap pasif.
  • Mudah merasa kecewa karena beranggapan bahwa orang lain tidak berjuang seperti dirinya dalam memperoleh hasil yang maksimal, sehingga membuat dirinya harus mengambil alih terkait penyelesaian yang ada.
  • Terlalu berpatokan akan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan sehingga terkesan terlalu serius dan juga berwatak kaku.

Senada dengan pendapat milik (Caputo, 1991) yang mengemukakan bahwa seorang perfeksionis akan individu senantiasa berupaya dalam menuntaskan suatu pekerjaan hingga dapat dikatakan terlampau sempurna, hingga mereka akan memiliki kecenderungan untuk merasakan frustrasi jika keinginannya dalam tampil sempurna tidak terlaksana. Maka dari itu, seseorang dengan kepribadian yang perfeksionis dinilai lebih rentan akan pengaruh sindrom burnout.

Terlepas dari semuanya, sifat perfeksionis tidak selamanya berkonotasi negatif, lho . . . .

Perfeksionisme juga dapat dikatakan sebagai hal yang positif. Hal ini bergantung pada sudut pandang masing-masing orang terkait permasalahan, pekerjaan, ataupun harapan-harapan yang mengarah padanya. Gejala positif terkait perfeksionisme antaranya yakni sebagai berikut :

  • Seseorang perfeksionis yang mendapat kenikmatan yang sangat realistis atas upayanya yang tulus dalam pemunuhan standar pribadi, standar dan harapan orang lain yang dapat di tunjukkan dengan adanya ketertiban dan keteraturan.
  • Sifat individu perfeksionis terkait penerimaan kesalahan, dimana ia menerima kesalhan yang ada, baik itu kesalahan akan dirinya sendiri, atau orang lain.
  • Menekankan bahwa dia melakukan yang terbaik dan berusaha untuk nampak sempurna, namun tidak secara berlebihan. Hal ini dengan dapat dilakukan memperkirakan standarisasi yang akan dicapai.

Adapun berikut ini merupakan sisi unggul dari sifat perfeksionisme yang positif, yakni diantaranya :

  • Jauh lebih disiplin. Hal ini dikarenakan individu tersebut memiliki integritas dan standar tinggi yang masuk akal, sehingga jauh lebih terarah.
  • Memiliki sisi pemikiran yang lebih logis dan didasari fakta yang ada. Seseorang dengan sifat perfeksionis yang positif cenderung berwawasan dan dapat menghasilkan solusi cerdas sehingga dinilai lebih terampil melakukan penyelesaian permasalahan
  • Memiliki visi dan misi. Demi meraih target ataupun demi mencapai prestasi yang gemilang, seorang yang perfeksionis cenderung akan bekerja lebih keras.

            Dengan demikian, gak semua orang perfeksionis bakalan kena dampak burnout sindrom loh yaa...

            Jadi, semua itu tergantung pada masing-masing orang. Seorang perfeksionis bisa saja tidak terkena burnout sindrom apabila ia menerapkan perfesionis yang positif. Sebaliknya, seorang yang perfeksionis akan rentan terkena sindrom burnout apabila orang tersebut merasa terbebani akan standarisasinya yang tinggi dan tidak masuk akal sehingga akan mengarahkan individu tersebut pada tipe perfeksionisme yang negatif.

REFERENSI

Caputo, J. (1991). Stress and burnout in library service. Phoenix: Oryx Press.

Farber, B. (1991). Crisis and education : Stress and burnout in the American teacher. San Fransisco: Jossey Bass.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun