Mohon tunggu...
Nur Harfiany Syafa Salbila
Nur Harfiany Syafa Salbila Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Seorang pemula dalam dunia penulisan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Eksistensi Manusia di Media Sosial dalam Prespektif Filsafat Eksistensialisme

3 Desember 2021   02:38 Diperbarui: 3 Desember 2021   02:40 87 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Manusia saat ini merupakan manusia digitalisasi yang tidak bisa lepas dari pengaruh teknologi bahkan tiap waktu dengan segala aktivitasnya dengan dalih untuk mempermudah kehidupan manusia. Sehingga segala kehidupan manusia bergantung kepada pengoperasian yang dirancang oleh sistem komputerisasi. 

Misalkan manusia bekerja yang membutuhkan komputer serta menyimpan dokumen ataupun data penting lainnya jika komputer tersebut terjadi gangguang maka pekerjaan tersebut akan mengalami gangguan. 

Teknologi yang tiap waktunya mengalami perkembangan menciptakan ruang maya yang berdampak kepada kehidupan sosial manusia. Sehingga interaksi secara langsung semakin jarang karena sudah ada teknologi yang bisa membantu interaksi manusia secara cepat.

Perkembangan teknologi digital mengakibatkan diri terbelah dan secara tidak langsung membuat diri manusia sebagai subjek. Pemanfaatan teknologi yang berlebihan dalam kehidupan manusia akan menghilangkan kemanusiaan. Karena dengan hanya mengandalkan teknologi peranan manusia yang memiliki jiwa dan perasaan akan hilang. 

Di era digital merupakan suatu dunia yang dibentuk bukan berdasarkan pada hal-hal yang nyata.Identitas digital pada kehidupan manusia dalam ruang maya terbentuk melalui sistem operasi yang terdiri dari kode-kode bit yang sudah terprogram. Pembentukan identitas seperti ini mengakibatkan identitas diri menjadi semakin kabur dan menjadikan dirinya sebagai objek. 

Dengan dunia massa akan menciptakan interaksi yang baru tanpa ada batasan waktu dan ruang. Interaksi dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa aja. Dalam media digital yang berkecimpung dalam dunia maya menciptakan lebih dari satu identitas virtual sesuai dengan kemauan dan kemampuan teknologi. Keberadaan identitas dalam dunia maya telah menghilangkan peranan tubuh. 

Dengan demikian, interaksi dalam dunia maya memiliki kekhawatiran terhadap keabsahan identitas manusia yang bisa saja dipalsukan untuk kepentingan lain (Zamroni 2009).

Dengan interaksi langsung, seseorang akan memahami gambaran identitas diri orang lain melalui gender, ras, pakaian dan karakteristik non verbal lainya. Namun karakteristik ini sangat sulit muncul dalam interaksi virtual. Teknologi internet menawarkan fasilitas untuk menyembunyikan beberapa petunjuk atau karakteristik tertentu. 

Pada akhirnya dalam ruang virtual atau dalam dunia digital siapa pun tidak bisa memastikan bahwa identitas individu itu merupakan identitas diri yang sebenarnya atau palsu. 

Media sosial sebagai bentuk ruang maya yang memfasilitasi manusia untuk memudahkan melakukan interaksi sosial tanpa mengenal territorial nyata. Seiring dengan wakru media sosial menjadikan awal dimulainya era kesunyian interaktif dimana manusia terbebas dari segala aturan dan paksaan untuk melakukan segala hal dalam media sosial.

Dalam sejarah perkembangannya, eksistensialisme jelas mengacu pada fenomena kemanusiaan kongkret yang tengah terjadi. Sebagaimana diketahui, filsafat eksistensialisme berkembang pesat pasca perang dunia kedua, yang seolah membenarkan permenungan filosofis pada kenyataan (kemanusiaan) yang kongkret tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan