Mohon tunggu...
Nur Halimah
Nur Halimah Mohon Tunggu... Gabut yang positif

Kalau ada bahan aja

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Menikah, Jalan Keluar atau Masalah Baru?

2 Oktober 2020   10:22 Diperbarui: 2 Oktober 2020   10:27 44 1 0 Mohon Tunggu...

Menikah adalah awal dari babak kehidupan yang baru bagi pria atau wanita. Menikah menjadi hal yang paling dinantikan oleh semua orang sebagai salah satu tujuan hidup. Perasaan bahagia dan haru biru ketika melepas masa lajang dan memiliki seorang pendamping hidup yang bisa menemani setiap hari. 

Di negara Indonesia sendiri rata-rata orang menikah diusia 20-an.  Usia 20-an dianggap sebagai keharusan untuk menikah bagi sebagian masyarakat, terutama bagi seorang wanita.

Menurut pengalaman saya sendiri, sebagian teman-teman SD dan SMP saya menikah dibawah usia 20 tahun,  teman SMA dan Kuliah menikah di usia 20 tahun keatas. Biasanya menikah diusia lebih awal dialami oleh teman-teman wanita saya. 

Sebaliknya teman-teman pria saya belum terlihat tanda-tanda akan menikah. Bagi pria mereka harus mempersiapkan berbagai macam hal terutama materi dan mental sebelum menikah, jadi mereka masih membangun karir agar lebih siap secara finansial kedepannya.

Menikah bagi sebagian orang dewasa dianggap sebagai beban dari tradisi keharusan. Ketika mereka yang masih kesulitan mencari pasangan dan masih belum siap secara finansial, sedangkan orang yang lebih tua disekitar mereka terus mendesak adanya pernikahan.

"De, kamu udah umur 24 kok belum bawa calon kerumah? Mama kan pengen gendong cucu."

"Teh, jangan pacaran bahaya ah nikah aja, mama takut kamu kenapa-kenapa"

"Tuh anak si ibu ini, dia udah nikah loh habis wisuda langsung dilamar pacarnya, kamu kapan dek?"

"Mana cowokmu, belum ada keseriusan udah kamu mama jodohin aja sama si Udin ya?"

Sebagian orang tua menganggap semua orang punya fase hidup yang sama, bahwa usia 20 tahunan harus menikah. Seakan tidak ada jalan keluar yang lebih bijak dari masalah yang ada. Dilain hal sebagian wanita menganggap menikah adalah jalan keluar dari masalah.

"Aduh, capek benget kuliah pengen nikah aja enak"

"Aduh, nyari kerja susah pengen nikah aja biar ada yang nanggung"

Tidak sedikit pemikiran dan anggapan ini sering terlontar lewat ucapan teman-teman saya.

Semua agama pasti mengajarkan kebaikan, salah satunya lewat menikah. Dalam agama saya, agama islam, menikah adalah sebagian dari ibadah. Ketika seseorang menikah maka ibadahnya sudah sempurna. Jika menikah adalah setengah dari ibadah semasa hidup manusia, berarti menikah adalah keharusan yang berat dijalankan. 

Dalam agama islam menikah diperuntukan bagi pria dan wanita yang sudah siap baik secara mental dan finansial. Menikah juga dapat menghindarkan seseorang dari perbuatan zina. Menikah adalah ibadah paling lama, setiap yang kita lakukan dalam pernikahan nilainya dihitung ibadah.

Ketika teman-teman kita menikah rasanya pasti ingin seperti itu. Nikah juga dianggap menjadi jalan keluar dari berbagai persoalan. Namun kembali lagi pada diri kita, alih-alih mencari jalan keluar atau ingin ikut-ikut orang menikah tidaklah sesimple itu. Ketika kamu menikah kamu akan menemui masalah baru dan lebih besar, jadi persiapkan diri kamu.

1. Menyatukan 2 kepala
Menikah bukanlah masa yang dilalui setahun atau dua tahun, tapi seumur hidup. Pernikahan akan penuh dengan komunikasi, karena pertemuan setiap hari. Pasangan yang baik bisa dilihat dari ngobrol yang cocok dan pengelolaan emosi yang seimbang. Setelah menikah persoalan tidak akan pernah berhenti, baik soal rumah tangga, anak, keluarga, finansial, makanan dll. Banyak hal seperti bertukar pemikiran, pendapat, kesukaan dan lainya haruslah cocok dan dapat mengimbangi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x