Mohon tunggu...
Nurhaida Alting
Nurhaida Alting Mohon Tunggu...

Bahagia itu sederhana\r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Catatan Dua Hati

21 Oktober 2012   06:48 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:34 0 6 6 Mohon Tunggu...

Fira  :   Maafkan Fira,  Mak....

“ Mak, jangan jualan dekat sekolah Fira lagi ya”

“Lho, memangnya kenapa Fir, teman-temanmu kan langganan emak”

“Pokoknya, mulai besok emak jangan jualan dekat sekolahku, titik. Emak kan bisa cari tempat lain !”

Terngiang kembali percakapanku tadi malam dengan Emak. Ucapanku yang kasar membuat Emak terdiam. Sungguh aku menyesal, tapi aku berusaha keras tidak jatuh iba pada Emak. Pokoknya aku nggak mau lihat Emak dengan gamis dan jilbab lusuhnya berjualan gorengan di luar gerbang sekolah. Dan jelang  sekolah bubar, aku sibuk memanjangkan leher, menatap ke luar jendela kelas. Biasanya Emak meletakkan jualannya disamping gerobak dorong pak Udin yang jualan es dong dong. Diam-diam aku mengucapkan terima kasih pada Emak, karena telah menepati janjinya. Namun ternyata ketiadaan Emak telah membuat  teman-temanku kecewa. Mereka yang menghambur keluar gerbang sekolah sesaat setelah bel pulang berbunyi, berlarian menuju tempat Emak. Berharap dapat menikmati pisang molen, risoles atau epok-epok bulat Emak yang semuanya sengaja dibuat mini. Yah teman-temanku rela berdesakan dan mengantri untuk membeli gorengan Bude Ratmi, demikian mereka memanggil Emak.

“Fir, emakmu mana, nggak jualan ya” tanya Tika teman sebangkuku sambil celingak celinguk.

“Iya nih, aku lagi pengen banget makan pisang molen mungil bude Ratmi” Usi, si ceriwis menimpali.

“Waduuh .. kalian kenapa sih, jajan yang lain aja. Tapi cepat ya, kita udah ditunggu Amanda di mobilnya”  kataku nggak sabar.

Benar saja, Amanda sudah duduk manis disamping mamanya yang berada dibelakang  kemudi. Walaupun sebagian wajahnya tertutup kaca mata hitam yang besar, mamanya Amanda terlihat muda dan cantik.  Honda Jazz silver metalic itupun membawa kami menuju rumah Amanda di jalan Ciku. Setelah menurunkan kami di depan rumah, mamanya Amanda menyusul turun dan memberi beberapa instruksi pada pembantu rumah. Sebelum kembali ke mobil,  dihampirinya kami di ruang makan. Amanda bangkit dari duduknya dan mencium tangan ibunya, kamipun mengikuti.

Sungguh aku sangat terkesan sama mamanya  Amanda yang anggun itu. Kemarin gamisnya yang lebar berwarna ungu terong dikombinasikan dengan jilbab ungu muda. Kemarinnya lagi baju terusan panjangnya berwarna hijau tosca dengan tutup kepala berwarna senada. Barusan mamanya Amanda kelihatan girly dengan gamis dan jilbab berwarna pink. Duh, beda banget ya sama Emak. Emak dengan kulit coklatnya yang terbakar matahari dan wajah lelahnya yang berkeringat. Tiba-tiba, aku  merasa berdosa sekaligus kangen pada Emak. Kangen sama Emak yang bersahaja. Maafkan Fira Mak....

*****

Emak  :  Semua  untukmu Fira....

Demi Fira, anak semata wayangku, aku rela berjualan di Sebuah SD yang agak jauh dari rumah. Yah, walaupun lelah karena harus mendorong gerobak lebih jauh, aku menjalaninya dengan ikhlas. Belakangan ini Fira memang sering urung-uringan. Dan kepada siapa lagi ia menumpahkan kekesalannya kalau bukan kepadaku. Sejak bapak Fira meninggal tiga tahun lalu, kami hanya tinggal berdua. Syukurlah almarhum suamiku yang bekerja sebagai satpam disebuah pertokoan dengan gaji pas-pasan telah memiliki sebuah rumah kecil untuk kami berteduh dari panas dan hujan.

Fira, anakku satu-satunya adalah anak yang baik. Prestasi akademiknya selalu membanggakan. Yang membuatku terharu, Fira tidak pernah malu mempunyai ibu seorang penjual gorengan. Sekarang Fira sudah kelas 6, ia jadi lebih giat belajar dan sepulang sekolah sering belajar bersama di rumah teman barunya, Amanda. Kata Fira, Amanda pindahan dari Batam. Dia anak tunggal, sama seperti Fira. Anaknya cantik dan pintar. Setiap hari Fira selalu bercerita tentang Amanda.

“Amanda itu anak orang  kaya, Mak, tapi baik hati dan tak sombong”  begitu kata Fira. Pokoknya tiada hari tanpa menceritakan sosok Amanda. Tapi seiring dengan itu sikap Fira agak aneh. Fira jadi lebih memperhatikan penampilanku. Katanya gamis dan jilbabku lusuh. Padahal, walau sederhana dan tidak modis, tapi bersih dan cukup rapih. Fira pun tak segan memberi pujian. “Emakku sederhana, tapi cantik, deh” begitu katanya sambil memelukku. Tapi itu dulu sebelum ada Amanda.

“Maaf, buk, saya mau beli semua gorengannya, boleh?” Aku tergagap. Seorang ibu muda dengan gamis merah muda dan jilbab berwarna senada membangunkanku dari lamunan.   “Lucu ya, bentuknya mungil, beda sama gorengan lain” katanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil memasukkan gorengan ke dalam kantong kertas. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, ibu muda itu melangkah menuju sedan berwarna abu-abu. Akupun segera berkemas karena daganganku sudah habis. Tiba-tiba pembeli  tadi kembali lagi.  “Maaf  ya buk, ibu terima pesanan tak? Esok siang ada pengajian rutin di rumah. Saya pesan epok-epok bulat, risoles dan molen mungilnya masing-masing dua puluh buah ya”

Sejak itu, aku dan ibu muda itu berteman. Dia memanggilku Bude Ratmi mengikuti panggilan anak-anak. Aku menyebutnya mbak Tari seperti yang dimintanya. Mbak Tari sedang mempersiapkan sebuah butik yang baru akan dibuka pekan depan. Dan aku diminta membantunya menyiapkan konsumsi untuk para undangan.

*****

Fira  :   Semua orang menyayangimu Mak.....

Hari ini sebelum pamit ke sekolah,  aku minta pada Emak agar kembali  jualan di luar gerbang sekolahku. Tapi Emak menolak, masih merajukkah ? Sejujurnya, dulu aku malu sama Amanda. Aku juga takut Amanda tidak mau berteman denganku. Huh...tololnya aku, Amanda bukan tipe seperti itu. Ia tidak pernah memilih teman, aku saja yang tidak yakin pada diriku sendiri. Aku minder. Lihat saja, nilai-nilai ulanganku berada sedikit di bawah nilai Amanda. Guru-gurupun selalu memuji Amanda dan dialah yang sekarang dijadikan contoh sebagai murid teladan. Padahal sebelum Amanda hadir di sekolah ini, akulah yang menempati posisi itu.

Tapi Amanda benar-benar sahabat yang baik. Ia tulus dan senang berbagi. Akupun semakin mengaguminya. Aku bahkan sudah mengikhlaskan bila dia jadi yang terbaik dalam ujian akhir nanti. Dan sepulang sekolah ini aku ingin ke tempat Emak Jualan. Kebetulan hari ini tidak ada belajar bersama. Maka kulangkahkan kaki ini diterik siang. Ternyata, jaraknya lumayan jauh. Cukup membuatku berkeringat dan merasa makin  berdosa pada Emak.

Dari jauh kulihat Emak masih dikerubungi anak-anak berseragam merah putih sepertiku.  Kok bisa sih Emak tetap sabar dan selalu tersenyum melayani anak-anak yang cerewet itu. “Bude Ratmiii....punya saya mana ???” Budee...saya dulu!!!” “Bude, makasih yaaa..mmuuaah!!!“ Huh...alay....Hmm...tapi kelihatan sekali anak-anak itu akrab sama Emak, sama seperti teman-temanku yang juga sayang pada Emak. Uuuh....akhirnya bubar juga kerumunan itu. Aku meraih tangan Emak. Emak kaget tapi senang melihat kehadiranku. “Kita pulang sama-sama ya, tapi sebentar lagi, jualan Emak belum habis”.

Tiba-tiba sebuah suara yang kukenal memesan semua gorengan Emak yang masih tersisa. “Untuk karyawan butik ya, mbak Tari.” Hah..mbak Tari ? Itu kan mamanya Amanda. Kok Emak sok akrab gitu, pikirku dari balik buku yang menutupi wajahku. “Ini Fira, anak saya, mbak Tari” kata emak sambil menggamit lenganku. Aku menyalami dan mencium tangannya. “hai  Fira, wah....ibumu hebat, salut deh, aku suka banget epok-epok bulat sama risoles mini buatan ibumu. Kamu pasti bangga ya memiliki Bude Ratmi” kata Amanda yang ternyata sudah berdiri disamping mamanya yang sedang mengusap kepalaku.  Dan...sungguh aku terharu melihat mamanya Amanda memeluk dan mencium pipi Emak sebelum berlalu***

KONTEN MENARIK LAINNYA
x