Mohon tunggu...
Nur Ansar
Nur Ansar Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Merayakan Kemerdekaan dengan Panen Padi

18 Agustus 2017   12:04 Diperbarui: 18 Agustus 2017   12:11 0 1 0 Mohon Tunggu...
Merayakan Kemerdekaan dengan Panen Padi
sumber: dok.pribadi

Matahari mulai meninggi. Tampak cuaca akan cerah sepanjang hari. Langit berwarna biru, tak ada awan yang mencampuri. Upacara peringatan hari kemerdekaan akan berlangsung dengan cuaca cerah. Dan akan cerah hingga sore hari.

Saya membuka fesbuk, dan mulai membaca status penduduk dunia maya. Beranda saya penuh dengan status "happy independence day". Hanya beberapa yang tetap konsisten dengan status alay. Hampir semuanya menyertakan foto selfie (saya masih belum terbiasa dengan kata swafoto) yang benar-benar tak nyambung dengan captionnya.

Saya tak ikut upacara penaikan bendera. Dan memang saya tak pernah ikut. paling hanya menonton upacara lewat tv. Itupun jika saya punya kesempatan untuk nonton. Saya bukan berarti tidak menjunjung tinggi nasionalisme, hanya saja, saya tak pernah bangun lebih cepat dipagi hari.

Tanggal 17 agustus kali ini, bertepatan dengan jadwal panen padi di sawah yang digarap bapak saya. Itu juga sudah ditetapkan, tak bisa diubah lagi. Yang hendak memanen sudah diberitahu dua hari sebelumnya.

Jam tujuh pagi, pakattere sudah berada di sawah. Pakattere adalah sebutan bagi orang yang akan memanen padi. Itu sebutan di kampung saya. Ada tiga orang yang akan memanen. Mereka sudah mempersiapkan alatnya masing-masing.

Jarak antara sawah dan rumah saya, tak jauh. Hanya sekitaran setengah kilo jauhnya. Jadi jika berangkat ke sawah, tak perlu menggunakan kendaraan. Cukup jalan kaki saja.

Mereka bertiga duduk di atas rumah-rumah sawah. kali ini mereka tidak langsung memanen. Mereka hanya duduk sambil menunggu ibu saya. Rupanya mereka tak akan memanen di pagi hari. Bukan karena upacara sedang berlangsung di lapangan kecamatan. Tapi karena harus pergi melayat di rumah salah satu penduduk yang keluarganya meninggal. Panen harus ditunda dulu. Mereka berangkat untuk melayat. Panen akan dimulai setelah upacara pemakaman selesai.

Panen dimulai saat siang hari. Pakattere sudah berada di sawah. Upacara pemakaman jenazah sudah selesai. Mereka bertiga mulai memotong batang padi. Serumpun demi serumpun. Cuaca yang tadinya panas, kini mulai mulai mendung. Tak lama kemudian hujan turun. Ramalan cuaca saya salah total.

Ketiga pakattere itu adalah Daeng Mamma, Daeng Basse', dan Daeng sohra. Ketiganya adalah perempuan. Mereka sudah berpengalaman dalam memanen padi. Jam terbangnya pun sudah banyak. Mereka sudah sering memanen di kampung lain, atau di kabupaten lain.

Biasanya mereka akan dibantu oleh suami atau anaknya. Yah selain meringankankan pekerjaan, jumlah yang dipanen olehnya pasti akan lebih banyak dibanding memanen sendiri.

Jika musim panen tiba, mereka kadang berangkat ke kabupaten lain untuk memanen. Sebagai buruh panen, mereka tentu mengharapkan padi yang dipanennya baik. Karena jika padi yang dipanen normal, maka upah yang didapatkan juga semakin banyak. Tentu mereka juga punya pekerjaan lain selain menjadi pakattere.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x