Mohon tunggu...
Nur Laila Sofiatun
Nur Laila Sofiatun Mohon Tunggu... Guru dan Penulis

Perempuan yang ingin bermanfaat bagi keluarga, agama, bangsa dan negara

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Jangan Malu Pergi ke Dokter Jiwa

19 Oktober 2020   19:06 Diperbarui: 19 Oktober 2020   19:22 27 4 0 Mohon Tunggu...

Pernahkan anda pergi mengunjungi dokter? Entah hanya sekedar untuk cek up maupun untuk mendapatkan obat dari suatu penyakit yang kita alami. Tentu, sebagian besar dari kita sudah melakukannya. Karena kita sadar bahkan dokterlah yang lebih tahu tentang bagaimana cara menjaga kesehatan kita.

Tidak jarang pula, orang yang memilih untuk melakukan cek up kesehatan secara rutin. Karena mereka berpikir lebih baik mencegah daripada mengobati. Mereka berpikir dengan cek up rutin mereka bisa mengetahui kondisi fisiknya saat itu, dan jika ada yang kurang normal mereka bisa mengantisipasinya dengan mengubah pola hidup. Sejatinya mereka melakukan ini semua karena mereka menyadari betapa pentingnya kesehatan fisik mereka. Seperti kata pepatah "Di dalam fisik yang kuat terdapat jiwa yang kuat".

Sebagian orang memang hanya mementingkan kesehatan fisiknya, mereka cenderung mengabaikan kesehatan psikisnya, atau lebih tepatnya mereka tidak memahami psikis yang sehat itu yang seperti apa. Padahal sepemahaman saya, belum tentu juga orang yang fisiknya sehat mempunyai jiwa yang sehat.

 Saya punya sedikit cerita yang mungkin bisa memberikan gambaran. Kebetulan saya adalah seorang guru dan santri di salah satu pondok pesantren di Semarang. 

Dikarenakan saya mengajar saya memunyai buku dan beberapa berkas administrasi yang jumlahnya tidak sedikit, sehingga membutuhkan tempat yang banyak. Namanya pondok pesantren, pasti memunyai ruangan yang jumlahnya terbatas. Sehingga saya menyimpan berkas-berkas tersebut di dalam kardus.

Selama satu tahun kardus saya simpan di rak buku bagian atas sendiri. Suatu saat ada lomba kebersihan kamar, maka kami penghuni kamar menata ulang kamar dan membersihkannya secara besar-besaran. 

Ketika hendak memindahkan kardus tersebut dan hendak mengangkatnya, rasanya terasa berat sekali. Saya tarik berkali-kali bahkan sampai meminta bantuan teman, tetapi ternyata masih susah juga. Akhirnya dengan sekuat tenaga, akhirnya kardus tersebut bisa diangkat.

Betapa kagetnya saya, seketika saya buka kardus yang terlihat masih baik-baik saja dalamnya penuh dengan rumah rayap beserta rayapnya sekalian. Ku coba ambil satu persatu apa yang ada di dalam kardus, tetapi sudah tidak bisa. Hal ini dikarenakan sudah tidak ada buku yg tersisa, hanya cover yg diberi sampul plastik yg masih selamat. Bagian dalamnya sudah penuh dengan rayap beserta sarangnya.

Begitu pun manusia, bisa jadi terlihat baik fisik luarnya, tetapi dalamnya mengalami kekeroposan (sakit). Maka jika kalian mempunyai fisik yang sehat, tetapi sering merasa resah dan gelisah. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah keresahan ini bisa saya sembuhkan sendiri, atau saya perlu orang lain (dokter). Jika merasa rasa gelisah tersebut tidak kunjung sembuh juga setelah anda obati sendiri, jangan malu untuk pergi ke psikolog atau psikiater.

Apakah psikolog dan psikiater sama? Menurut artikel yang ditulis oleh dr. Anandika Pawitri dalam laman sehatq.com beliau menjelaskan tentang perbedaan psikolog dan psikiater.

Psikiater umumnya akan memeriksa kesehatan fisik pasiennya terlebih dahulu untuk mengetahui ada tidaknya kondisi medis yang dapat memengaruhi kesehatan mental pasien. Setelahnya, barulah psikiater akan melakukan diagnosis dan memberikan medikasi yang sesuai. Karena terdapat diagnosis kejiwaan yang berasal dari kelainan pada organ otak atau persarafan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x