Politik

"Drama" Berbingkai Politik

4 Oktober 2018   15:05 Diperbarui: 4 Oktober 2018   15:25 496 0 0

Oleh : Nur Laela*

Berbicara tentang politik memang tidak ada habisnya, banyak lika-liku yang bertransformasi menjadi sebuah drama berepisod panjang. Seperti yang terjadi pada pilpres 2019 mendatang, dimana tokoh utama disini adalah petahana Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang seolah melanjutkan pertarungan jilid II di ajang pilpres 2019, hal itu tidak lepas dari yang namanya 'drama berepisod'.

Mulai dari perebutan partai koalisi, pemilihan calon wakil presiden yang sangat  mengejutkan, hingga perlombaan strategi kampanye dari kedua belah pihak dengan permainan politik masing-masing. 

Bukan hanya drama tentang itu saja, akhir-akhir ini masyarakat Indonesia digegerkan dengan adanya penganiayaan yang menimpa aktivis #2019GantiPresiden Ratna Sarumpaet, beliau mengaku penganiayaan dilakukan oleh sejumlah orang tak dikenal dan mengakibatkan luka lebam di wajah. Menurut wakil ketua DPR Fadli Zon, Ratna mengalami penganiayaan di area parkir mobil Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, pada Jumat 21 September 2018 lalu. Mendengar berita itu, tentu saja masyarakat mulai berspekulasi macam-macam. Apa yang terjadi?, Mengapa begini?, Apa motifnya?, apakah ada kaitannya dengan pilihan politik Beliau?. 

 Menanggapi kabar itu, Verry Surya Hendrawan, Sekjen Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) meminta kasus itu tidak dikaitkan dengan politik atau dipolitisasi. Selain itu, Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin juga berharap masyarakat tidak berspekulasi negatif terkait kasus penganiayaan Ratna Sarumpaet. Ia juga berharap Ratna segera melaporkan insiden itu ke pihak berwajib. Calon Presiden Prabowo Subianto mengaku kaget saat mendapat kabar yang menima Ratna. Beliau juga berharap agar polisi serius menangani kasus ini dan tidak berujung tanpa ketidakjelasan seperti kasus-kasus lainnya.

Ratna mengaku kalau dia benar-benar dianiaya di dekat bandara Bandung saat selesai menghadiri konferensi dengan beberapa peserta dari Negara Asing, namun penyelidikan yang dilakukan kepolisian membuktikan tak ada peristiwa penganiayaan terhadap Jurkamnas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu. Saat pengecekan, belum ada saksi yang mendengar dan menyaksikan langsung, orang bandara juga tidak ada yang melihat langsung. Selain itu, sudah dipastikan juga bahwa tak ada kegiatan konferensi internasional di Bandung. Kalaupun ada, pasti polri akan melakukan pengamanan terlebih dahulu. Jadi tidak ada kegiatan internasional itu di Bandung. 

Wakil ketua DPR RI, Fahri Hamzah mendesak aktivis Ratna mengungkap fakta yang sebenarnya. Ia menegaskan, terlalu mahal harga waktu masyarakat Indonesia di tengah bencana dan musibah yaang terjadi saat ini. Dilain pihak, koordinator Jubir Prabowo-Sandi, Danil Anzar Simanjuntak, merasa keterangan polisi terasa janggal. Danil masih mempercayai bahwa Ratna Sarumpeat mengalami penganiayaan. Namun penyelidikan awal, diduga luka lebam yang dialami Ratna bukanlah luka karena menjadi korban pemukulan, melainkan efek samping bedah plastik. Mendengar itu, Danil justru mempertanyakan sikap kepolisian. Pasalnya, institusi polisi sama sekali tidak meminta keterangan dari Ratna.

Menurut Danil, justru polisi seperti PR, public relation yang kemudian bukan mendatangi Ratna mencari informasi secukupnya terkait dengan pengakuannya, tapi justru kemudian membuat narasi-narasi yang lain. karena itu, Danil menambahkan, sikap yang diambil oleh Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandi masih berprasangka baik terhadap kesaksian dari Ratna. Dia pun masih meyakini bahwa mantan aktivis 98  itu masih bersikap jujur. " Kami tentu berprasangka baik terhadap beliau. Ditambah lagi beliau kan memang menyatakan sangat ketakutan dan traumatik, sehingga tidak mau melapor," ungkapnya.

Tetapi, hasil koordinasi polda dengan otoritas bandara Husein Sastranegara Bandung hingga ke tukang parkir, semua mengaku tidak ada peristiwa pengeroyokan. Data manivest kedatangan maupun keberangkatan atas nama Ratna Sarumpeat pun tidak ada pada tanggal 21 september 2018. Dari hasil pengecekan, bagian operasional RS Bina Estetika, Farhan dan Managet Medis RS membenarkan bahwa Ratna dirawat pada 21-24 September 2018 dalam rangka operasi pelastik. Dari penyelidikan inilah ditemukannya bahwa tidak ada tindakan penganiayaan terhadap Ratna dari oknum manapun. 

Saat menggelar konferensi pers di kediamannya, Jalan Kampung Melayu Kecil, Jakarta Selatan terkait pemberitaan penganiayaan, Ratna Sarumpeat akhirnya mengaku bahwa insiden yang menimpanya adalah produk hoaks yang diciptakannnya sendiri. "jadi tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita khayal yang diberikan entah oleh setan mana ke saya dan berkembang seperti itu," ujarnya. Untuk itu aktivis kemanusiaan ini meminta maaf kepada semua pihak, khususnya capres dan cawapres no urut dua Prabowo-Sandi, serta politisi oposisi, karena dia telah membohongi mereka. Ratna mengaku dirinya memang ke klinik kecantikan  untuk menjalani sedot lemak di pipi.

Kabar ini memang sangat menyita perhatian publik, bahkan ada yang berspekulasi bahwa skenario yang dimainkannya adalah salah satu permainan politik atas titah capres dan cawapres Prabowo-Sandi. Mulai dari kritik-kritik kerasnya kepada pemerintahan Joko Widodo, adu mulut dengan Menko Kemaritiman Luhut Binsat Pandjaitan saat pencarian KM Sinar Bangun, hingga dugaan penganiayaan terhadap dirinya. Menurut Taufik, Peneliti Forum Studi Media dan Komunikasi Politik Indonesia, aktor partai politik selalu tampil bermuka dua. Selain itu, Sekretaris Jenderal PSI, Raja Juli Antoni, menuding adanya motif politik, dia pun menyayangkan kubu lawan yang dinilai melakukan fitnah ditengah penanganan bencana alam di Sulawesi Tengah. 

Ada apa dengan kaum 'Borjuasi' Indonesia ini? Kesadaran politik mereka masih bersifat temporer dan emosional, serta masih sekedar by issue dalam melihat konstelasi politik. Apakah mereka hanya mengedepankan kepentingan pribadi? 

*penulis adalah Mahasiswa mata kuliah Ilmu Politik, Semester 1, Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP