Rokhmah Nurhayati S.
Rokhmah Nurhayati S. profesional

Ekonom, Pengamat Sosial, Ekonomi dan Pasar modal; Wirausahawati; Blogger, Traveler, Food lover, Cat Lover;

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

"There is No such a Safe Place"

15 Desember 2017   16:35 Diperbarui: 15 Desember 2017   17:07 226 0 0
"There is No such a Safe Place"
foto: Vondanote

Saya kemarin dapat undangan dari panitia Merry Riana untuk acara di Puri Kembangan jam 19:00 - 21:30 pm. Pendaftaran mulai dibuka jam 18:30 pm. Sebagai seorang yang selalu haus akan ilmu dan ingin membuka wawsan baru, tentunya saya tertarik. Apalagi dia seorang motivator terkenal dan banyak yang ingin ketemu dengan dia atau mengikuti acaranya. Dia termasuk juga salah satu wanita sukses yang berhasil mencapai target One million dollar income pada usia 26. Dia pernah juga menjadi seorang agent asuransi dari salah satu perusahaan yang terkenal di Indonesia. 

Sayangnya ksempatan itu tidak bagus bagi saya. Saya yang tadinya berminat untuk ikut acaranya. Namun karena waktu dan lokasi yang tidak pas atau cocok bagi saya. Maka dengan tegas, saya bilang saya tidak bisa. Waktu pulangnya terlalu malam untuk suatu tempat yang jauh. Dan saya juga tidak begitu mengenal daerah tersebut. Pernah beberapa kali kesana, tapi untuk acara pagi dan siang hari. Untuk malam hari, aih! ketakutan itu sudah membayangi saya. 

Suatu acara selesai setelah  jam 9 malem ke atas, praktis transportasi umum sudah jarang atau sepi. Busway saja sudah tidak ada lagi untuk banyak tempat. Padahal saya masih harus menggunakan angkot lebih dulu sebelum bisa naik busway. Ngapain saya harus memaksa diri untuk pergi. Suatu acara yang menurut saya bagus mendadak jadi tidak berminat sama sekali. Itu karena waktu dan tempat yang tidak cocok. Saya tidak mau memaksakan diri dengan menggunakan transportasi online seperti Gojek, Grab dan sejenisnya. Saya justru lebih takut dengan resiko yang akan terjadi pada saya. Saya sungguh tidak mau mengambil resiko terlalu besar hanya untuk menghadiri suatu acara.

Bagi saya motivator utama adalah diri saya sendiri. Biasanya kalau saya mau, akan terus saya kejar. Walaupun akhirnya saya tidak berhasil, itu bukan masalah. Paling tidak saya sudah mencobanya. Sedang motivator dari luar hanyalah sebagai pendorong, agar lebih cepat lompatannya. Katakanlah keinginan itu tadinya sudah ada, tapi pertumbuhannya mungkin masih kurang atau hasilnya belum optimal. Maka diperlukan motivator dari luar. Dengan demikian hasilnya akan lebih mumpuni atau bisa jauh lebih baik. 

Tapi kalau hal itu sudah menyangkut masalah keselamatan dan keamanan diri, saya akan memilih untuk tidak. Saya lebih sayang pada diri saya sendiri. Dan saya ingin keselamatan saya lebih terjamin  saat saya pulang. Sementara kalau saya pergi berarti saya harus mempertaruhkan keselamatan diri saya. Pulang sudah terlalu malam sampai di rumah dan saya belum tahu apa yang bakal terjadi di jalan. Terlalu mahal harga yang harus saya bayar untuk suatu acara yang konon Gratis bagi saya. 

Makanya saya bilang "Aduh maaf saya tidak bisa datang. Tempatnya jauh dan pulangnya malam. Saya takut pulangnya.  There is no such a safe place (in Jakarta)." Mungkin juga di daerah lain. Tapi saya rasa di Jakarta saat ini saya perlu menjaga diri. Dan tempat yang terbaik bagi saya di malam hari adalah berada di rumah

Bagaimana dengan Anda?