Mohon tunggu...
Nuning Listi
Nuning Listi Mohon Tunggu... ibu rumah tangga

Seorang ibu rumah tangga biasa yang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Belajar dari Drama Korea

23 Februari 2021   01:33 Diperbarui: 23 Februari 2021   02:01 126 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar dari Drama Korea
kumparan

Diantara pembaca Kompasiana ada yang suka drama Korea (drakor) ? Atau mungkin banyak mendengar dari istri atau teman wanita, tentang film ini itu yang sedang hits, atau bintang film korea tertentu yang sedang hits di asia karena perannya di drakor anu, sangat mengagumkan. Atau bintang film B yang sangat cantik dan membuat baper karena kisahnya yang sangat menyedihkan di film C.

Beberapa bulan terakhir ini para pecinta drakor seperti dikejutkan oleh sebuah drakor yang berjudul Penthouse yang berkisah pada ragam kehidupan para orang kaya di Korea yang menghuni apartemen tertinggi di Korea dengan 100 lantai.

Menurut beberapa review media, film itu semakin hari rating yang diperolehnya meningkat. Mula-mula sekitar sembilan kemudian meningkat ke 12 sampai kini menurut media tersebut, drama korea itu mendapat rating 31; sebuah pencapaian yang sangat tinggi bagi industri televisi di manapun.

Drama korea itu mendampilkan konflik dan intrik, perselingkuhan, balas dendam serta aneka kontroversi lainnya. Para tokoh antagonisnya digambarkan sangat pemarah dan brutal serta cenderung menggunakan berbagai cara untuk mendapat yang diinginkan. Rupanya cerita ini amat memikat (dan mengikat) penonton sehingga ratingnya terus menanjak.

Berbeda dengan Penthouse, ada sebuah drama korea yang sebenarnyanya baik, namun mendapat rating yang kian melorot dan kemudian tidak tayang, meski diperankan oleh para artis top.

Drakor itu berjudul Delayed Justice dan bercerita tentang pengacara dan wartawan yang menggarap kasus-kasus secara pro bono (tanpa bayar) yang menimpa orang-orang kecil yang tak punya akses keadilan yang cukup.

Mereka adalah warga Korea yang cacat fisik, mantan narapidana, dan orang miskin lainnya yang harus berhadapan dengan pengusaha yang korup, birokrat yang mempermainkan kekuasaan dll. Intinya, drakor ini mengajarkan soal bagaimana memegang prinsip kejujuran, idealism dan keadilan yang sama bagi semua orang. Suatu nilai yang langka pada zaman sekarang.

Sayangnya, masih menurut media tersebut, rating yang dicapai oleh drakor ini mula-mula belasan  kemudian menurun menjadi 10, kemudian sembilan lalu hanya enam saja. Artinya, drama korea yang sebenarnya bagus dan baik ini kurang disukai. Kabar terakhir, drakor ini kemudian dihentikan penayangannya. Ironis memang; cerita yang mengandung keteladanan dan idealisme seakan tidak menarik bagi penonton. Sebaliknya, cerita yang berisi kekejaman (verbal) yaitu balas dendam, bullying dan intrik, begitu memikat para penonton sehingga seakan tersihir dan mendapai rating 31.

Sebenarnya gambaran dua drakor ini menyerupai kecenderungan kita. Kita lebih menyukai hal-hal yang berbau konflik (kontroversi) dibanding keteladanan. Tengok saja perang narasi dan hoax amat tajam di media sosial sejak delapan tahun lalu. Masalah banjir misalnya. Di medsos kita melihat persoalan banjir dikaitkan dengan politik, bahkan agama.

Orang sangat senang dengan melihat orang atau satu pihak berkonflik dengan pihak lainnya sampai melontarkan narasi kasar atau diskriminatif, sehingga keterbelahan tak dihindarkan.

Se baliknya, sikap-sikap yang mengandung solutif dan menjembatani dua pihak yang berhadapan sangat tidak populer, bahkan dicuhkan oleh masyarakat. Paling banter, hanya diberi tanda jempol saja untuk perilaku damai dan menenangkan  masyarakat ini. Sama dengan dua drakor di atas. Drakor yang controversial disukai, sedangkan yang idealis dan solutif, dilirikpun tidak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x