Mohon tunggu...
Nastiti Cahyono
Nastiti Cahyono Mohon Tunggu... karyawan swasta

suka menulis dan fotografi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kearifan Lokal, Sekolah dan Bersatu dalam Keberagaman

13 Februari 2021   10:00 Diperbarui: 13 Februari 2021   10:19 238 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kearifan Lokal, Sekolah dan Bersatu dalam Keberagaman
Toleransi - brilio.net

Indonesia tumbuh dan besar dengan kearifan lokal di dalamnya. Indonesia tumbuh dan berkembang dengan nilai-nilai dan budayanya sendiri. Dari Aceh hingga Papua, mempunyai budaya yang berbeda di masing-masing sukunya. Namun keberagaman budaya dan nilai-nilai kearifan lokal ini, yang membuat Indonesia tetap bersatu dan berkembang hingga saat ini. Dengan kearifan lokal itulah berdampingan dalam keberagaman bisa diwujudkan dan disatukan dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia.

Di Jawa mengenal istilah tepo seliro atau tenggang rasa. Dimana antar sesama berusaha untuk saling merasakan kesedihan atau kesenangan. Antar sesama bisa saling bantu, karena berat sama di pikul ringan sama di jinjing. Semangat kebersamaan ini ada dalam seetiap kearifan lokal di masing-masing daerah. Karena itulah muncul istilah gotong royong. Sebuah semangat yang harus kita jaga dan lestarikan.

Dalam kearifan lokal, tidak ada pihak yang merasa besar atau merasa kecil, merasa benar atau merasa salah. Dalam kearifan lokal yang dominan adalah penghargaan dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Dan nilai-nilai inilah yang harus terus dilestarikan, salah satunya melalui lembaga pendidikan seperti sekolah. Baik itu sekolah negeri, swasta atau yang dikelola secara perseorangan. Hal ini penting agar generasi penerus kita tidak lupa akan asal usulnya.

Seiring perjalanannya waktu, sekolah rupanya menjadi sasaran bagi kelompok intoleran dan radikal untuk menyebarkan bibit-bibit radikalisme di bangku pendidikan. Tidak hanya siswa, tenaga pengajar pun juga mulai ada yang menjadi korban. Beberapa media sempat memberitakan tentang hal ini. Apa jadinya jika oknum guru sengaja mengajarkan radikalisme di sekolah? Adan apa jadinya jika seorang siswa seringkali menyebut 'kafir' kepada sesama temannya, karena dianggap berbeda. Hal-hal semacam ini harus dicarikan solusi. Harus disudahi agar lembaga pendidikan bisa menjadi media penjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Banyak orang yang tidak percaya sekolah umum telah mulai disusupi bibit radikalisme. Beberapa tahun lalu, badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT) telah mengingatkan dan menemukan adanya indikasi ini. Dari level pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi mulai marak konten-konten intoleransi dan radikalisme yang sengaja disusupkan oleh oknum tertentu. Dan tentu saja, hal ini akan membuat sekolah menjadi tempat yang mengerikan jika terus dibiarkan.

Bibit intoleransi ini mungkin sangat samar jika dilihat dalam realitanya. Jika kita tidak jeli, tentu akan masuk dalam perangkapnya. Misalnya, dalam aturan seragam keagamaan. Ada seorang siswa yang tidak mengenakan hijab, langsung mendapatkan persekusi dari guru atau siswa lainnya. Antar sesama saja bisa saling persekusi, bagaimana jika ada yang berbeda keyakinan? Mungkin juga akan mengalami persekusi yang sama. Nah, hal-hal semacam ini tidak boleh lagi terjadi.

Karena itulah, pemerintah mencoba mencari solusi dengan mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) 3 menteri. Surat yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan, kementerian agama dan kementerian dalam negeri itu, memberikan kebebasan bagi siswa, guru atau pihak terkait untuk mengenakan seragam keagamaan tertentu di dalam sekolah. Sekolah atau pemda tidak punya hak untuk menganjurkan atau melarang. Hal ini dilakukan agar kita semua terbiasa saling menghargai satu dengan yang lain. Ingat, kita semua pada dasarnya saling berbeda. Karena itulah, hargailah perbedaan itu dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal, agar kita tetap bisa bersatu dalam keberagaman.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
13 Februari 2021