Mohon tunggu...
Nastiti Cahyono
Nastiti Cahyono Mohon Tunggu... Editor - karyawan swasta

suka menulis dan fotografi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Adaptasi dengan "New Normal" di Tengah Pandemi

17 Mei 2020   07:18 Diperbarui: 17 Mei 2020   07:18 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Masyarakat Menggunakan Masker - kompas.com

Kapan pandemi akan berakhir? Tidak ada satupun yang bisa menjawab. Bahkan di China yang merupakan negara pertama yang terpapar virus corona, hingga saat ini masih belum sepenuhnya hilang. Negara-negara Eropa pun, hingga saat ini juga masih berjibaku dengan virus ini. 

Di Indonesia sendiri, kasus positif pertama masuk sekitar awal bulan Maret 2020. Ketika itu baru 2 orang yang dinyatakan positif. Kini, per 16 Mei 2020, sudah mencapai 17.025 kasus positif, 12.025 dirawat, 1.089 meninggal dan 3.911 sembuh. Hanya dalam waktu sekitar 2 bulan saja, dari 2 langsung melonjak diatas 17 ribu kasus positif.

Ketika semua negara menerapkan lockdown, Indonesia memilih pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Setiap negara mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi pandemi covid-19 ini.

DKI Jakarta adalah provinsi yang menerapkan PSBB pertama kali, karena tingkat kasus positif di provinsi ini sangat tinggi sekali. Per 16 Mei 2020, sudah mencapai 5,881 kasus. 

Setelah diperpanjang, ada wacana pelonggaran PSBB. Disinilah ditingkat bawah mulai muncul kebingungan. Mudik dilarang, tapi disisi lain ada pelonggaran PSBB. Mudik dilarang, tapi sempat ada penumpukan penumpang di bandara.

Pelonggaran PSBB ini perlu disikapi secara utuh. Saya sendiri menangkapnya hal ini untuk menyeimbangkan atau merangsang geliat perekonomian yang selama ini terpukul akibat corona. 

Jumlah angka pengangguran diproyeksi mencapai diatas 5 juta. Bahkan ada yang ekstrem memproyeksi sampai 8 juta. Pertumbuhan perekonomian pada tahap ekstrem akan sampai minus. 

Jika kuartal 2 dan 3 kedepan masih seperti saat ini, makan kekhawatiran terjadi krisis bisa saja terjadi. Apa yang terjadi jika PSBB terus diterapkan, lalu perekonomian terus terpuruk, pengangguran bertambah, dan masyarakat butuh pemasukan untuk mendapatkan makan.

Pelonggaran PSBB ini mungkin menjadi keputusan yang win-win. Bukan bermaksud mendukung atau tidak mendukung keputusan pemerintah, tapi saya mencoba untuk realistis. 

Menjelang lebaran ini saja, tidak semua orang bisa mendapatkan tunjangan hari raya (THR), karena perusahaannya tidak cukup uang. Pemerintah pun memberikan kelonggaran dengan cara dicicil. Ini salah satu contoh saja. Lalu, bagaimana dengan pekerja informal, yang menggantungkan dari pemasukan harian? Tentu akan jauh lebih terpuruk lagi.

Pelonggaran PSBB dengan tetap menerapkan protocol kesehatan adalah kondisi 'new normal' yang akan kita hadapi nanti. Bisa jadi nanti pusat perbelanjaan akan dibuka, tapi orang yang masuk akan dibatasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun